Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
12. Yakin.


__ADS_3

Dengan hati yang penuh dengan kilatan cinta, Kinanti menunduk. Wajah gadis itu merona sebab malu, juga merutuk reaksi dirinya yang mudah terhanyut, pada pesona lelaki yang telah berusia tiga puluh lima tahun itu.


Kemahiran dan kelembutan pembawaan Marvin, cukup membuat Kinanti terlena. Gadis itu bahkan telah merasakan hawa panas dari tubuhnya yang bergetar. Entah mengapa, Kinan merasakan nyaman sekaligus menikmati sentuhan bibir Marvin.


"Kamu nggak akan bisa mengelak lagi, Kinan. Kamu masih sangat mencintai saya," ujar Marvin dengan suara lirih, serupa bisikan yang membuat Kinanti makin merinding dibuatnya.


"Nggak. Itu bukan cinta," jawab Kinan tak kalah lirih.


"Reaksi alami kamu sudah cukup membuktikan ke saya. Cinta terkadang nggak perlu ungkapan tersurat, Kinan. Semua sudah gamblang, kamu nggak bisa menolak saya lagi," tatapan Marvin lembut terarah pada Kinan.


Perlahan, tangan Marvin terulur untuk menyingkap rambut Kinan yang menjuntai menutupi Wajahnya. Lelaki itu sungguh sangat tak nyaman dalam situasi seperti ini. Harapan yang sempat Kinan bunuh mati, kini seolah kembali hidup, tumbuh kian mengerikan hingga membuat Kinan ingin Marvin.


Apakah salah bila Kinanti menginginkan Marvin?


"Kita akan menikah, Kinan. Saya pastikan, Pak Bayu dan Bu Cici akan memberikan restunya pada kita. Kamu siap, kan, bila kita menikah secepat mungkin?" tanya Marvin, menyambung ucapannya tadi.


Sontak saja Kinan menatap wajah Marvin, wajah Kinan tampak masih merona merah, sebab malu.


"Aku ... mungkin orang tuaku bisa menikahkan kita. Tetapi gimana nanti kalau orang tua kamu, nggak merestui. Kamu sudah menikah dan istrimu adalah pilihan orang tua kamu," balas Kinan dengan bimbang.


"Jangan khawatir, semua pasti bisa diatasi. Mama dan Papa nggak mungkin nggak memberikan restunya. Hidup saya, saya yang menjalani dan menikmati. Saya nggak akan dengar kata mereka lagi yang terlalu posesif. Kamu pilihan saya, Kinan. Saya nggak akan melepas kamu lagi. Maaf," jawab Marvin seraya mengecup bibir manis Kinan yang membuatnya candu.


Kinanti tak menolak, melainkan mengangguk pasrah akan keputusan Marvin. Sejak dulu, Kinan memang selalu pasrah dengan apa yang Marvin katakan.


"Kamu nggak sekadar membual, kan?" tanya Kinanti, yang hatinya sudah mulai melunak.


"Enggak," jawab Marvin seraya menggelengkan kepalanya. Lelaki itu lantas mundur, meraih sesuatu yang ada di dalam kantung celananya.


Sebuah kotak perhiasan, dan mampu membuat mata Kinan mengerjap beberapa kali saat Marvin membukanya.


Sepasang cincin yang begitu indah dengan berlian mahal yang menghiasi, berkilau dalam pandangan Kinanti. Gadis itu tercekat, dan betapa terharu.

__ADS_1


"Kamu mau menikah dengan saya, kan?" tanya marvin lembut. Netra lelaki dewasa itu tak melepaskan pandangan dari mata Kinan yang sudah berkaca-kaca.


"Aku, aku mau, Vin. Tapi, aku takut. Gimana kalau orang tua kamu nggak ngasih restunya?" tanya Kinan balik.


"Saya akan bicara dari hati ke hati, sama orang tua saya. Yang terpenting, kamu bersedia untuk menggantikan posisi Atika Priyanka, sebagai istri saya," jawab Marvin kemudian.


Lebur sudah gumpalan sakit yang tercipta atas penghinaan yang dilontarkan oleh orang tua Marvin. Kinan luluh, dengan lamaran Marvin yang terbilang singkat.


Gadis sulung Bayu dan Cici itu mengangguk, dan bersedia menerima lamaran Marvin. Tak peduli usia Marvin sembilan tahun berada di atasnya, namun Kinan tetap tak akan menyiakan cinta Marvin untuknya.


Dengan lembut tanpa kata, Marvin memasangkan cincin itu pada jari manis Kinan, dan Kinan memasang cincin Marvin, ke jari manisnya. Tak ada saksi selayaknya lamaran, tetapi itu sudah lebih dari cukup bagi sepasang kekasih di dalam mobil itu.


"Nan, saya mohon sama kamu, jangan lepas cincin ini apapun yang terjadi. Nanti, saya balikan cincin yang lebih pantas buat kita. Sekarang, saya antar kamu pulang," tukas Marvin kemudian.


"Nggak usah, Vin. Aku bawa motor," jawab Kinanti lirih.


"Ya udah, kamu bawa motor kamu, saya akan mengekor dibelakang kamu," tegas Marvin tak mau dibantah.


Sepanjang perjalanan pulang, Kinan tak henti-hentinya mendesah bimbang.


Setibanya di rumah, Kinan buru-buru turun tanpa menunggu Marvin. Gadis itu tak ingin bila ia masuk ke dalam rumah bersama Marvin. Tetapi sayangnya, suara Marvin yang memanggilnya, berhasil membuat langkah Kinanti terhenti.


"Nan, tunggu," panggil Marvin.


Kinan berhenti, di barengi Marvin yang mendekat ke arahnya. Cici dan Dimas yang ada di teras depan dengan memakan camilan, memusatkan perhatian pada Kinan dan Marvin.


Bayu pun demikian ketika dirinya keluar rumah, mendapati Marvin dan Kinan berjalan beriringan untuk masuk ke dalam rumah.


"Nan, sudah pulang?" panggil Bayu dengan curiga.


"Iya, Pak," jawab Marvin gugup.

__ADS_1


"Kamu kesini lagi, nak Marvin?" tanya Bayu kemudian, mengalihkan pandangan pada Marvin.


"Iya, pak Bayu. Maaf, saya datang lagi untuk menyambung pembicara tadi pagi," jawab Marvin.


Bayu manggut-manggut. Tatapan mata lelaki itu jeli, sebab tiba-tiba menangkap cincin yang terlihat asing di matanya. Cincin yang melingkar di jari manis putrinya itu, cukup menarik perhatiannya. Beberapa dugaan yang terselip dalam pikiran Bayu, semoga saja Bayu hanya salah menyimpulkan.


"Ada apa?" tanya Bayu, setelah Marvin kini duduk di hadapannya. Cici juga ikut serta, duduk disamping suaminya. Jangan lupa bagaimana Kinan sekarang. Gadis itu duduk di sofa tunggal yang jaraknya tak jauh dari Marvin.


Sedang Dimas, pemuda itu memilih untuk masuk ke dalam kamar, dan menguping disana.


"Saya sudah bicarakan tentang apa yang saya katakan pada Pak Bayu lagi tadi, pada Kinan. Kinan sudah bersedia, dan saya juga sudah bicara dengan Atika. Saya berencana untuk menikahi Kinanti segera, secara resmi. Saya pastikan, proses cerai saya dengan Atika, tidak akan lama," ungkap Marvin apa adanya.


Baik Cici dan Bayu saling pandang, merasa tak bisa mencegah perasaan dua insan yang saling jatuh cinta di depannya itu.


"Kalian sudah yakin dan mantap memutuskan pernikahan?" tanya Bayu dengan tegas.


"Ya, Pak. Saya sudah bicara dengan Kinan. Tadi saya menelepon Atika. Besok, Tika akan datang, berkunjung kemari untuk menemui Kinan. Dia justru bahagia, setelah saya benar-benar telah menemukan keluarga pak Bayu," jawab Marvin pelan.


"Kamu yakin, Nan, dengan pilihan dan keputusan kamu?" tanya Bayu pada putri sulungnya itu.


"Kinan yakin, pak," jawab Kinan lirih, seraya kepala menunduk.


"Karena kalian saling mencintai dan nak Marvin sudah sepakat dengan istri, baiklah, bapak dan Ibu akan berikan restu. Tetapi ingat, nak Marvin, jangan sekali-kali menyakiti Kinan," pinta Bayu.


"Tentu, Pak. Saya akan menjaga Kinan seperti saya menjaga diri saya," jawab Marvin dengan mantap.


Senyum Kinan terbit, senyum tipis yang lembut. Hatinya bahagia, hingga ia seolah tak percaya dan menganggap ini semua mimpi.


Kinanti hanya tak sadar, cintanya dan Marvin ke depan, akan ada banyak badai yang mengguncang.


**

__ADS_1


__ADS_2