Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
9. Saya mencintai Kinanti.


__ADS_3

Berhari lalu, semenjak Kinan dan Dimas bertemu Marvin di warung bakso tempat makan malam itu, Kinan tak lagi bertemu dengan Marvin. Sebuah percakapan singkat malam itu, berisi tentang pengakuan Kinan dan Dimas, Marvin seolah hilang di telan bumi. Hal ini tentu saja berhasil membuat Kinan lebih tenang.


Gadis itu mulai bisa menahan diri, mengendalikan perasaan agar tak terlalu larut memikirkan Marvin. Mulai ikhlas, Kinan aoan belajar untuk melepas Marvin sepenuhnya dari hatinya.


Perlahan, Kinan bertekad untuk melupakan Marvin. Ketika bayangan Marvin datang menghantuinya, juga bayangan Hinaan keluarga Marvin kembali datang, maka Kinan berusaha mengalihkan pikiran, memikirkan hal lain agar tidak larut dalam kerinduan pada lelaki yang dulu begitu disayang oleh Kinan.


Seperti biasa, pagi hari ini Kinan hendak berangkat kerja, sebelum tiba dirinya libur esok hari. Semangat wanita itu menggebu, sebab Bapak semalam mendatangkan motor matic baru untuk Kinan. Motor lamanya akan Bapak berikan pada Ibu, untuk Ibu belanja ke pasar, atau menghadiri acara pengajian muslimat bersama Ibu-ibu tetangga.


Kinan menatap wajahnya sendiri di cermin. Cantik sempurna, itulah yang Kinan lihat pada wajahnya. Balutan lipstik berwarna orange, membuat Kinan terlihat lebih muda dari usianya. Tak heran, banyak pemuda yang sebenarnya berminat untuk menjadikan Kinan kekasih.


"Nan, sudah mau berangkat? Tumben berangkatnya agak pagi?" tanya Bapak yang baru masuk ke dalam rumah, melalui pintu belakang.


"Sudah nggak sabar pengen nyobain naik motor baru, Pak. Gimana? Pas nggak motornya untuk Kinan?" tanya Kinanti kemudian, pada Bapak. Dimas hanya tersenyum masam, sebab dia sendiri masih harus memakai motor lamanya.


"Semangat boleh, tapi jangan lupa sarapan," sahut bapak sambil tertawa ringan. Melihat putrinya sudah kembali ceria, membuat Bayu merasa sedikit lega. Kedatangan Marvin beberapa hari lalu lah penyebab Kinanti murung.


Setelah Kinan selesai sarapan, juga Dimas yang sudah berangkat ke kampus, Bayu hendak berangkat bekerja. Sayangnya, ia terpaksa harus telepon tempat kerjanya, sebab ada tamu yang tengah bertandang ke rumahnya.


Marvin Bhaskara, pria tiga puluh lima tahun itu bahkan datang lagi ke rumah Bayu, untuk memastikan sesuatu. Lelaki yang pendiam, namun kadang nekat di beberapa situasi tertentu, sejak tadi datang. Namun, ia harus menahan langkahnya, menunggu Kinan berangkat kerja, juga Dimas yang keluar menuju kampusnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak Bayu. Maaf kalau saya datang pagi untuk bertamu. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan pada Pak Bayu, dan Bu Cici," ujar Marvin, setelah ia masuk ke dalam pagar rumah Bayu, yang tak seberapa tinggi.


"Pagi, Nak Marvin. Ayo masuk, silahkan. Nggak apa-apa, nggak boleh kalau harus menolak tamu," jawab Bayu kemudian. Netranya melihat Marvin yang sebenarnya sudah rapi, dengan kemeja dan jasnya.


Cici yang ada disamping suaminya, merasa bingung hendak bagaimana. Ia juga sebenarnya memiliki kesibukan, hanya saja, ia tak mungkin meninggalkan Marvin sebagai tamunya. Apalagi, selama ini Marvin tak pernah berulah. Penolakannya terhadap Kinan, sudah tentu sebab ia tak memiliki perasaan pada putrinya itu.


Cici sangat mengerti. Perasaan tak bisa dipaksakan. Rasa suka juga tak bisa dihadirkan begitu saja. Terkadang Cici berpikir, tak ada yang salah dari penolakan Marvin lima tahun lalu terhadap Kinan, hanya saja, Marvin yang tak jujur pada Kinan dari awal. Itulah yang Cici sesalkan karena harus melihat sang putri terluka.


"Ada apa, nak Marvin? Apa kamu ada masalah?" tanya Bayu kemudian, setelah keduanya telah duduk di sofa ruang tamu. Netra mata pria paruh baya itu melihat istrinya yang menuju ke belakang, untuk membuat teh.


"Saya ingin menanyakan sesuatu pada Bapak. Sebelum saya menikah dengan istri saya, apakah Mama dan Papa mendatangi keluarga Bapak dan menghina Kinanti sekeluarga?" tanya Marvin dengan suara hati-hati.


"Orang tua Nak Marvin sudah cerita?" tanya Bayu, yang dijawab gelengan dari Marvin.


"Nggak cerita, Pak. Tetapi saya penasaran, bagaimana kejadian yang sebenarnya. Tolong ceritakan dari awal, tanpa ada yang terlewatkan," pinta Marvin pada Bayu. Sejujurnya, Bayu enggan membahas dan mengingat kejadian yang memalukan itu. Tetapi tak ada pilihan lain bagi Bayu, selain bicara jujur pada Marvin.


"Baik," Bayu tampak menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Marvin, "saya akan ceritakan semuanya, tanpa saya kurangi, juga tanpa saya lebih-lebihkan," sambung lelaki itu.


Tak lama, Cuci datang dengan membawa segelas teh hangat manis, untuk Marvin.

__ADS_1


"Diminum tehnya, nak Marvin. Maaf kalau ala kadarnya," ujar Cici.


"Nggak apa-apa, Bu. Maaf kalau saya merepotkan Ibu," jawab Marvin seraya tersenyum. Netranya melihat Cici tengah duduk tepat di sofa tunggal di sebelah suaminya, Bayu.


"Saat Kinan pulang dari menemui kamu waktu itu, Kinan menangis terus dan mengurung di kamar. Anak itu juga terbuka sama saya, Nak Marvin, kalau dia sangat terpukul karena kamu menolak perasaannya. Dua hari dia menangis terus, bilang kalau dia, kamu perlakuan sangat baik. Saya pikir, dia hanya terbawa perasaan dan merasa nyaman, itu saja, sampai dia merasa kalau kamu mencintainya," ujar Bayu, menjeda kalimatnya.


"Dua hari setelahnya, ada undangan datang, undangan pernikahan kamu dan istrimu. Tebak, apa yang terjadi? Parlan Bhaskara dan Rindi Bhaskara yang mengantar undangan langsung, mengultimatum saya agar membawa pergi Kinanti dari hidup kamu. Tak cukup sampai disitu, orang tua kamu juga menghina keluarga kami, mengatakan bahwa Keluarga saya miskin dan tak sederajat dengan keluargamu. Saya ingin marah, tapi nyatanya memang saya miskin. Jadi saya memutuskan, untuk menuruti perintah Papa dan Mama kamu, untuk pergi dari sana."


"Kinan sempat depresi, sebab penolakan kamu itu. Mungkin perasaannya begitu dalam sama kamu, nak Marvin. Jika boleh saya meminta sekali ini, tolong, tolong sekali agar kamu jangan datang lagi, mengganggu hidup Kinan. Nggak mudah membuat Kinan kembali ceria seperti sekarang. Tolong mengertilah. Toh Kinan juga nggak mengganggu rumah tangga kamu," sambung Bayu panjang lebar.


Marvin merasakan hatinya mencelos seketika. Ia tak menyangka, orang tuanya menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darinya. Tak hanya itu, orang tuanya juga rupanya orang yang sombong dan angkuh.


"Tapi jika boleh saya katakan jujur, hati saya begitu terpaut pada Kinanti, Pak Bayu. Bahkan sudah lima tahun berlalu, saya nggak bisa membuang bayangan Kinanti dari otak saya. Perempuan yang dijodohkan dengan saya, nyatanya tak bisa membuat saya bergetar di hati saya," jawab Marvin, membuat Cici dan Bayu lagi-lagi terkejut.


"Apa maksud kamu, Nak?" tanya Cici kemudian.


"Saya mencintai Kinanti, Bu, Pak. Bahkan saya sudah bicara jujur pada Atika, dan dia mau mengerti. Dua hari lalu, saya pulang, dan Atika bersedia mundur dari pernikahan ini, sebab dia juga tidak memiliki rasa apapun terhadap saya," jawab Marvin dengan tegas.


**

__ADS_1


__ADS_2