Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
22. Memilih Mengalah.


__ADS_3

Hari terus berganti, dengan senja yang nampak mulai terlihat di ufuk barat. Suara lantunan Adzan berkumandang dari tempat beribadah umat muslim, menjadi sebuah panggilan alam bagi umat untuk menjalankan kewajiban.


Marvin Bhaskara, lelaki itu membimbing istrinya menuju sebuah ketenangan, mencurahkan segala resah yang menjadi beban pada Tuhan.


Entah kemana keluarganya pergi, Marvin tidak peduli. Ia tinggal sementara di rumah ini, juga karena sang Mama yang memaksanya. Andai dari awal ia tahu, jika Kinanti tidak diinginkan oleh keluarganya, Marvin tidak akan membawa Kinanti untuk saat ini.


Mungkin, jika Kinanti sudah melahirkan cucu untuk orang tuanya, maka orang tuanya bisa menerima. Di usia yang sudah genap tiga puluh lima tahun, Marvin ingin sekali memiliki anak, dari Kinan yang ia cinta.


"Mas, Mama sama Papa belum pulang, kemana ya, mereka? Apa sebegitu nggak sukanya mereka ke aku?" tanya Kinan, dengan raut sedih.


Marvin segera meraih sang istri, dan membawanya ke dalam pelukan. Ia tak ingin, Kinan menangis karena keluarganya. Toh dia juga sudah berjanji akan menjaga Kinanti dengan baik pada keluarganya.


"Jangan terlalu di ambil hati. Datar saja, Nan. Saya ingin kamu biasa saja, jangan terlalu dalam mikirin mereka. Jalani hari seperti biasa. Di sini semua sudah di kerjakan oleh pembantu, kamu bebas mau ngapain aja. Saya akan selalu jaga dan bela kamu," jawab Marvin seraya tersenyum. Bibir lelaki itu mengecup kening sang istri dengan sangat lembut.


"Makasih, Mas," ujar Kinan kemudian.


Lelaki itu lantas segera mengajak sang istri untuk keluar kamar. Hari sudah merambah gelap. Dari arah kamar, Marvin mendengar suara deru mobil yang pasti itu adalah orang tua dan juga adiknya.


"Ayo kita keluar, Nan. Kita berkumpul di ruang keluarga. Saya akan bicara dengan Mama," ajak Marvin.


Kinan meragu seraya menjawab, "sebaiknya kamu menemui Mama lebih dulu, dan bicara dari hati ke hati untuk memberi Mama pengertian, Mas. Aku bukan nggak mau ketemu sama Mama, tapi aku ingin Mama ngerti dulu dengan perasaan kita. Setelah kamu bicara dengan Mama, aku yakin Mama akan lembut hatinya."


"Baiklah kalau itu mau kamu," jawab Marvin seraya tersenyum, "aku turun ke bawah dulu. Kamu tunggu di sini saja. Nanti makan malam, kita diluar saja."

__ADS_1


Kinanti tersenyum seraya mengangguk paham. Lelaki yang telah menjadi suaminya itu lantas keluar, meninggalkan Kinanti di dalam kamar sendirian.


Dengan hati yang terasa cemas, Marvin keluar kamar dan segera menuju ke ruang tengah. Tak salah, Mamanya, Rindi juga sudah duduk di sana bersama Parlan, Papa Marvin. Sedang Dewi, wanita itu lebih memilih ke lantai atas dan acuh pada kakaknya itu.


Marvin mana peduli? Lelaki itu tak akan ambil pusing dengan apapun yang akan di lakukan oleh sang adik.


"Ma, Pa, kalian dari mana?" tanya Marvin berbasa-basi. Lelaki itu lantas duduk di sofa, dan menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Dari makan di luar dengan Papamu dan Dewi," jawab Rindi datar.


Hening lantas menguasai suasana di ruang keluarga. Dewi entah ke mana, tetapi Marvin berharap, adiknya itu tidak berani bermacam-macam untuk masuk ke dalam kamar utama.


"Ma, Pa, Marvin minta maaf," ungkap Marvin biasa saja, seolah tidak melakukan kesalahan sama sekali sebelumnya.


"Untuk banyak kesalahan Marvin, termasuk menceraikan Atika, dan menikahi Kinanti diam-diam," jawab Marvin, menghela napas panjang, "tapi Marvin tanya sama Mama dan Papa, apa yang kalian lakukan, beberapa hari menjelang pernikahan Atika dan Marvin di rumah pak Bayu lima tahun lalu?"


Baik Parlan maupun Rindi saling tatap, seolah mereka tengah saling melempar tanya tanpa kata.


"Memberikan undangan," jawab Rindi tegas. Wanita itu secara terang-terangan meladeni apapun yang akan putranya lakukan. Toleransinya seolah habis, sebab Marvin telah membuatnya dan suaminya kecewa.


"Dan menghina Kinanti di depan keluarganya, hanya karena Kinan menyatakan perasaannya pada Marvin?" tanya Marvin memastikan.


"Ya, karena apa yang Mama ucapkan waktu itu, memang benar adanya," jawab Rindi klise.

__ADS_1


"Mama keterlaluan. Mama nggak sadar, saat itu Marvin sangat mencintai Kinan. Perjodohan Marvin dengan Atika, nyatanya nggak membuat Marvin bahagia, Ma," bantah Marvin kemudian.


"Papa sekolahkan kamu tinggi-tinggi sampai sesukses ini, nyatanya nggak membuat kamu pintar, Marvin! Apa yang kamu lihat dari Kinanti? Dia wanita biasa saja. Nggak ada keistimewaan yang bisa dibanggakan dari wanita seperti dia. Latar belakang keluarganya saja .... " Dan bantahan dari Marvin, sanggup membuat kalimat Parlan terhenti seketika.


"Dari kalangan kelas bawah yang nggak setara dengan kita. Itu kan yang Papa maksud?" tanya Marvin menyela.


"Papa rasa nggak perlu menjelaskan dua kali kalau begitu. Kamu merugi, Marvin. Kamu sudah tahu konsekuensinya, tapi kamu maksa menikahi Kinanti. Anak bodoh. Papa nggak suka sama Kinanti, tapi kalau kamu memaksa, terserah kamu. Yang jelas restu Papa hanya untuk Atika, bukan Kinanti sebagai menantu keluarga Bhaskara," jawab Parlan kemudian, membuat Marvin semakin cemas.


Jika Parlan yang sudah mulai bicara, maka tak ada pilihan lain bagi Marvin, selain mengamankan istrinya. Jika Marvin memaksa tinggal satu rumah dengan orang tuanya, Marvin khawatir jika Kinanti akan terluka nantinya.


"Kalau begitu, Marvin akan membeli rumah sendiri untuk tempat tinggal Marvin dan Kinanti yang baru, Pa," ungkap Marvin kemudian.


"Mama nggak izinkan. Kamu satu-satunya anak laki-laki Mama. Kalau hanya demi Kinanti kamu mau pergi dari rumah ini, silahkan pergi, Mama nggak peduli. Tapi jangan menyesal, kalau kamu akan mendapati mayat Mama keesokan harinya," ujar Rindi seraya bangkit dan berlalu pergi.


Marvin tidak tahu lag,i bagaimana caranya meluruhkan keras hati Mama. Yang Marvin ingin, kedua orang tuanya mampu hidup akur bersama Kinanti. Hanya karena Kinan mengungkapkan perasaan lebih dulu pada dirinya, orang tuanya menganggap Kinan murahan, rendahan.


"Ma, tolong jangan begini," kata Marvin mengiba seraya bangkit berdiri. Sayang, Rindi terlalu lelah akan keras hati putranya. Wanita itu tetap berlalu pergi menuju ke lantai atas, tanpa peduli apapun yang putranya katakan.


"Semua sudah terlanjur, Marvin. Ini semua kemauan dan pilihan kamu. Karena kamu lebih memilih memperistri Kinanti tanpa persetujuan kami sebagai orang tuamu, maka ya kamu harus terima risikonya. Papa nggak bisa bantu banyak, karena kamu nggak bersikap cerdas seperti yang Papa harapkan. Sekarang tetap genggam cinta kamu, tanpa kamu bisa pergi dari rumah ini!" tegas Parlan yang lantas ikut pergi.


Marvin sendirian, tak bisa berbuat banyak dan lebih memilih mengalah.


**

__ADS_1


__ADS_2