
Kota kelahiran Kinanti, menjadi sebuah kota yang sudah lama Kinan rindukan. Wanita itu sangat rindu akan suasana yang ramai dan banyak temannya yang sudah lama tak Kinan jumpai. Ada banyak hal yang sangat ingin Kinan ulangi, termasuk bermain dengan teman sebaya dengan dirinya seperti saat remaja dulu.
Andai saja Kinan tidak pergi secara tiba-tiba, pastilah akan ada drama menangis panjang, saya tiba perpisahan Kinan dan teman-temannya. Mengingat mereka, hati Kinan menghangat.
Ranti dan Yeni, mereka sungguh sangat Kinan rindukan, terutama ocehan mereka setiap saat, tanpa henti. Tak jarang, Kinan akan terlelap meski Ranti dan Yeni terus bercerita tentang apapun yang mereka punya, dan mereka miliki.
Tatapan mata Kinan terbuang ke arah luar jendela mobil. Senang rasanya Kinan bisa melihat kota ini lagi. Lima tahun sudah, memberikan banyak hal yang berubah. Semua nampak seperti asing di mata Kinan. Alun-alun kota, bahkan telah di sulap lebih indah dengan karakteristik yang kuat.
"Nan, kamu lihat apa?" tanya Marvin, menatap Kinan yang membuang pandangan ke arah luar jendela. Laki-laki itu seperti khawatir, sebab sehari semalam mereka menempuh perjalan yang begitu jauh.
"Banyak yang berubah ya, Mas? Aku jadi kangen sama Ranti dan Yeni. Apa kabar mereka sekarang?" tanya Kinan, menatap suaminya sekilas, sebelum akhirnya kembali menekuri jalanan sekitar.
Taksi yang mereka tumpangi, melaju dengan kecepatan sedang. Banyak anak-anak berjualan saat akhir pekan begini.
"Mereka sudah menikah. Kamu pasti nggak percaya, tapi ya, itulah kenyataannya. Bahkan Yeni sudah punya anak satu, masih bayi. Kalau Ranti, terakhir ketemu, dia masih enjoy belum ada tanda-tanda lagi isi," jelas Marvin kemudian.
"Oh ya? Nanti kalau senggang, antar aku main ke rumah mereka, ya? Sekadar berkunjung melepas kangen aja, sih. Nggak lebih," pinta Kinanti.
Marvin mengangguk seraya berkata, "Ya, tapi habis ini kita bicara dulu sama orang tuaku, dan istirahat. Badanku kayak pegal-pegal banget ini," jawab Marvin.
"Iya, Mas. Makasih, ya?" ujar Kinan yang diangguki Marvin. Hingga tak lama kemudian, mobil yang mereka kendarai melaju memasuki sebuah pelataran rumah besar, yang memiliki banyak ukiran rumit di beberapa bagian.
Sebuah gazebo bercat coklat tua, di padu dengan cat warna coklat muda, di tambah dengan taman dan kolam ikan berukuran kecil, membuat Kinanti dan suasana hatinya menjadi lebih baik. Perjalanan sehari semalam, membuat Kinan lelah, dan lelahnya seolah terkikis perlahan.
__ADS_1
Suasana rumah orang tua Marvin begitu asri, dengan pemandangan segar di halaman. Namun sejenak kemudian, senyum Kinan luntur seketika, saat membayangkan dirinya akan menghadapi orang tua Marvin yang sombong dan arogan itu.
"Nan, ayo keluar. Saya akan bawa kamu masuk ke dalam dan menghadap Papa," ajak Marvin pada Kinanti.
"Iya, Mas," jawab Kinan, seraya berusaha menampilkan senyum. Wajah Kinan tampak lebih segar, setelah tadi dirinya sempat membersihkan wajah dengan cleanser make up, dan memakai krim wajah yang ringan di kulit.
Jantung Kinanti kian berdebar kencang, ketika langkahnya menapaki tangga menuju pintu utama rumah Parlan. Kinan akan menghadapi, sebesar apapun konsekuensi dari pilihannya itu. Andai nanti dirinya di hina, Kinan akan menganggapnya hanya angin lalu belaka.
"Den Marvin," sapa mbok Sri, pembantu di rumah Bhaskara, tetapi juga pengasuh Marvin sejak Marvin sekolah dasar.
"Mbok, apa kabar?" tanya Marvin, memeluk mbok Sri dengan penuh sayang. Sejak dulu, Marvin dan mbok Sri memang terbilang dekat. Tak pernah Marvin menganggap mbok Sri sebagai babu di rumahnya, melainkan sudah seperti saudara baginya.
"Baik. Mbok kangen sama Aden. Loh, ini ... kayaknya mbok pernah ngerti," gumam mbok Sri seraya menatap Kinanti, dari atas hingga ke bawah.
"Dia Kinanti, putri sulungnya Pak Bayu dan Bu Cici tetangga kita dulu. Mbok masih ingat? Itu loh, yang dulu sering jalan sama Marvin," jawab Marvin tersenyum.
"Dia istri Marvin, Mbok. Marvin mencintainya, dan dia segalanya untuk Marvin," ungkap Marvin pelan.
"Tapi, tapi gimana sama ... non Atika?" tanya mbok Sri, bingung harus bagaimana menanggapi, "Ibu pasti nggak bisa nerima. Belakangan semenjak mendengar kabar kalau den Marvin, menceraikan non Atika, Ibu sering sakit-sakitan."
"Perlahan, Marvin akan bicarakan dengan Mama dan Papa. Sekarang, Papa ada di rumah, kan?" tanya Marvin pada mbok Sri.
"Ada, den," jawab mbok Sri, menatap Kinan sekilas, yang tengah tersenyum padanya. Sikap mbok Sri memang ramah, tapi Kinan bisa merasakan, bahwa mbok Sri tidak setulus dulu.
__ADS_1
"Baiklah, Marvin masuk dulu, Mbok," ujar Marvin, yang diangguki oleh mbok Sri.
Setelah tiba di dalam rumah, alangkah terkejutnya Marvin, kala ia mendapati sang Ayah, rupanya telah berdiri di ruang tamu. Lelaki paruh baya yang garis wajahnya serupa dengan Marvin itu, memiliki aura yang kuat, hingga membuat Kinan menunduk dan memilih untuk diam saja.
"Pa," sapa Marvin pada Ayahnya. Tetapi sayang, yang ada justru hening, tak ada jawaban dari Parlan sedikitpun.
"Anak bodoh!" umpat Parlan pada Marvin, bersamaan dengan langkah cepatnya, dan pukulan bertubi-tubi ia layangkan pada Marvin.
Marvin sendiri tak melakukan perlawanan, meski teriakan histeris Kinanti yang berusaha untuk menghentikan amukan Parlan.
"Aaaaaaa ... cukup, Pak. Jangan pukul mas Marvin. Astaga," ucap Kinan dengan suara agak keras, membuat pembantu rumah dan sekuriti segera menuju ke ruang tamu.
Rindi yang sedang berada di teras belakang memberi makan ikan-ikan piaraannya, segera saja bergegas berlalu menuju ke arah ruang tamu.
"Anak bodoh. Kamu buang Atika yang nggak pernah neko-neko, hanya demi perempuan miskin yang nggak sederajat sama kita! Di mana otak kamu, Marvin? Di mana?" tanya Parlan.
"Kamu buang berlian hanya demi sampah seperti dia!" tunjuk Parlan pada Kinan, menghentikan pukulannya saat putranya tak berdaya, terkapar di lantai dengan kepala yang berada dalam pangkuan istrinya.
"Jangan kamu pikir Papa nggak tau sama semuanya, pernikahan kamu, dengan wanita nggak punya harga diri, dan perceraian kamu dengan Atika. Papa bersumpah Papa nggak akan menerima dia sebagai istri kamu!"
Hati Kinan mencelos sakit. Ini baru permulaan, belum ada sepuluh menit dirinya tiba di rumah mertuanya, tetapi perlakuan buruk sudah ia terima di rumah Marvin. Akan ada banyak siksaan dan perlakuan buruk yang lebih menyakitkan, daripada saat ini dari keluarga Marvin.
Tak hanya orang tua, bahkan adik-adik Marvin pun, tak pernah bisa menerima Kinanti sebagai ipar mereka.
__ADS_1
Apakah mungkin, Kinan kuat dengan perlakuan buruk Rindi, yang bahkan lebih bahaya dari suaminya itu?
**