Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
7. Petuah Orang Tua.


__ADS_3

Tak ada hal lain yang membuat Kinan bersedih saat ini, selain munculnya Marvin pagi tadi. Gadis itu mendesah pasrah, ketika ia menatap bayangan tubuhnya sendiri dari cermin. Sebelum menemui Bapak sesuai dengan yang beliau minta, Kinan harus mempersiapkan banyak jawaban dari perkiraan tanya dari Bapak dan Ibu.


Kinan bukan lagi gadis belia, yang akan mengutarakan isi hatinya begitu saja seperti lima tahun silam. Kini, gadis itu tampil lebih anggun, lebih dewasa dengan pembawaan yang kalem dan santun. Lekuk tubuhnya juga sempurna, dengan pakaian sopan namun memperlihatkan betapa menggoda aura gadis itu.


Sayangnya, secantik dan seseksi apapun Kinan, tetap tidak membuat Marvin terjerat oleh pesonanya. Miris sekali, bukan? Kinan tersenyum getir karenanya.


Dengan tenang, Kinan melangkah keluar. Tatapan matanya begitu datar dengan balutan make up yang menutupi jejak sembab pada matanya.


"Nan, Bapak bawakan camilan kesukaanmu. Ayo sini makan, sama Dimas," panggil Bayu kemudian, saat netranya menangkap bayangan putri sulungnya.


"Keripik singkong pedas manis?" tanya Kinan, dengan netranya yang berbinar.


"Iya. Ini sudah di letakkan di toples sama Ibumu," jawab Bayu kemudian. Dari arah dapur, Cici tersenyum lega sebab melihat putrinya yang sudah mulai bisa tersenyum lagi, meski ia yakin bahwa hati Kinan masih tidak baik-baik saja.


"Nan, Bapak minta maaf karena tadi pagi Bapak manggil kamu untuk ketemu nak Marvin," ujar Bayu tiba-tiba.


Dimas yang sejak tadi asik mengunyah keripik, mengerutkan kening. Marvin? Ada apa lagi lelaki itu datang mengganggu kakaknya? Ingin rasanya Dimas bertanya, namun urung sebab ia ingin mendengar dulu apa yang akan Bapak katakan.


Mendadak tenggorokan Kinan terasa tersumbat. Meski Kinan sudah mempersiapkan diri untuk ungkapan Bapak yang satu ini, namun itu tetap saja membuat hati Kinan tak kuat.


"Nggak apa-apa, Pak. Biarin aja. Nggak mungkin juga Kinan selamanya akan menghindarinya. Suatu saat, Kinan udah mengantisipasi hal ini untuk menguatkan Kinan. Kinan nggak apa-apa," jawab Kinan, seraya mencomot keripik singkong favoritnya untuk di lahap.

__ADS_1


"Kamu masih mencintai Marvin?" tanya Ibu yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Kinan seketika mendadak menghentikan kunyahannya. Keripik singkong pedas manis yang tadinya begitu enak di lidah Kinan, kini berubah mendadak menjadi pahit.


"Enggak," jawab Kinan, berusaha untuk tetap tenang dan mengunyah keripiknya kembali. Hanya saja, Kinan memilih untuk menutup toples dan meletakan kembali ke atas meja.


"Jangan bohong. Kalau kamu udah nggak mencintai Marvin, kamu nggak akan menangis. Kamu bisa bohongi Bapak dan Adikmu, tapi kamu nggak bisa membohongi Ibu, Nan," Ujar Cici menimpali.


Kinan hanya diam, tak menyangkal lagi, sebab ia tahu bahwa menyangkal pun, tak ada gunanya.


"Sudah lima tahun lho, Nduk, tetapi kamu masih saja sulit melupakan dia. Dia sudah beristri, dan bukan ranah kamu lagi untuk mencintainya. Mengapa Bapak bilang gini, sebab kalau kamu masih tetap mencintainya, kemungkinan untuk suatu saat kamu gelap mata, itu sangat besar," Bayu kembali bersuara.


Tak ada yang berani bersuara, jika Bayu sudah bicara. Kinan hanya bisa menunduk, seolah ia adalah tersangka yang tengah di hakimi.


"Ikhlaskan nak Marvin. Usia kamu sudah dewasa, kamu nggak mungkin, kan, jika akan terus memberikan hatimu pada lelaki yang jelas-jelas nggak bisa kamu miliki? Sekarang kamu makin dewasa, makin cantik dan bersahaja. Bapak yakin sekali, banyak laki-laki di luaran sana yang suka sama kamu. Jangan kamu pikir Bapak nggak dengar, kalau di tempat kerja, banyak laki-laki yang pengen melamar kamu," tambah Bayu lagi.


Batin Kinan mengumpat Tiara, tersangka yang sudah pasti.


"Nak Marvin pindah tugas di kota ini," ujar Bayu lagi, yang berhasil membuat Kinanti mengangkat wajahnya memandang Bayu, "kemungkinan kalian ketemu di jalan, itu sangat besar. Bapak minta, tolong bersikap biasa saja, saling sapa dan jangan sedingin pagi tadi. Sikapmu yang dingin dan nggak ramah sama sekali, seolah menunjukkan ke dia, kalau kamu masih nggak terima atas penolakannya lima tahun lalu," sambung Bayu.


"Akan Kinan usahakan demi kebaikan Kinan, Pak. Terima kasih Bapak sudah mengingatkan Kinan," jawab Kinan tersenyum.


Meski senyum manis terulas dari bibirnya, namun hati Kinan masihlah terluka, tak mungkin akan sembuh tiba-tiba. dan entah butuh waktu berapa lama lagi bagi Kinan, untuk bisa menerima takdirnya.

__ADS_1


"Nan, kamu harus yakin, Tuhan sudah mempersiapkan jodoh terbaik untuk kamu. Ibu selalu mendoakan kamu, supaya kamu bisa tetap bahagia dengan lelaki terbaik. Ingat, dicintai itu lebih baik daripada mencintai. Ibu nggak mau kamu terluka karena mencintai Marvin, sementara Marvin nggak mencintai kamu. Dunia nggak hanya punya satu lelaki, banyak lelaki lain yang pastinya lebih baik dari Marvin. Kita sebagai manusia juga nggak bisa memaksa hati Marvin supaya diberikan ke kamu," kata Cici menasihati.


"Kinan udah berusaha untuk membuka hati, Bu. Tapi ya rasanya hambar aja, nggak bisa dan seperti biasa aja sama laki-laki lain. Bahkan, pernah Kinan coba untuk dekat dengan teman kerja Kinan, tapi justru yang ada Kinan malah risih," jawab Kinan jujur apa adanya.


"Kamu pasti bisa. Bapak punya teman, anaknya adalah duda yang ditinggal meninggal oleh istrinya dua tahun lalu. Katanya sih, usianya sekarang dua puluh sembilan tahun. Bapak rasa selain lebih muda dari Marvin, dia juga nggak kalah cakep loh, Nan," ungkap Bayu hati-hati.


"Terus, Bapak mau jodohkan Kinanti sama dia?" tanya Kinan blak-blakan. Kinan tahu betul, tentang kemana arah pembicaraan ini akan bermuara.


"Rencananya mau bapak begitu. Tapi ya, kembali pada kamu gimana maunya. Kita akan sulit mencintai laki-laki lain, kalau kita nggak membuka hati," jawab Bayu jujur.


"Kalau sekadar kenalan, boleh lah, Pak. Tapi Kinan nggak janji, Kinan akan suka sama dia," jawab Kinan kemudian.


"Bapak dan Ibu sangat menyayangi kamu, Nan. Jangan dikira selama lima tahun ini, kami nggak mau mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Ibu dan Bapak hanya ingin anak-anak Ibu bahagia," ujar Cici menimpali.


Susana mendadak hening, tak ada yang bersuara selepas Cici menasihati Kinan. Dimas yang menyadari bahwa saat ini kakaknya sedang sedih, berusaha untuk ikut menghibur.


"Mbak, anterin belanja nyari parfum yang pas, yuk, Nanti Dimas beliin bakso," ujar Dimas tiba-tiba, setelah suasana mendadak hening.


Kinan yang memang merasakan suasana hatinya tak baik, perlu mencoba pemandangan baru, menerima saja ajakan adiknya.


"Yuk, gas. Tapi jangan lama-lama, nanti makan malamnya telat," jawab Kinan seraya tersenyum.

__ADS_1


Selama lima tahun ini, jika bukan Bapak yang menghibur, maka Dimas lah yang selalu ada untuk Kinan. Kinan berharap, ia tak akan lagi bisa bertemu dengan Marvin setelah ini.


**


__ADS_2