
Hawa sejuk di waktu malam yang begitu larut, menyisakan berjuta dingin yang menusuk menembus kulit hingga tulang. Suara desah angin bahkan terdengar sebab hening menguasai, menembus jendela kamar dimana Kinan dan Marvin berada. Jejak basah pada selimut dan sprei ranjang yang dihiasi keringat sepasang pengantin baru, menjadi bukti, betapa panasnya gelora cinta Marvin Bhaskara dan Kinanti Aristya.
Sebuah cakaran mendarat begitu saja pada punggung lelaki tiga puluh lima tahun itu. Jeritan-jeritan lirih disertai dengan derit ranjang yang bersahutan, seolah menjadi irama merdu di telinga Marvin Bhaskara.
Marvin terhanyut dalam pesona memabukkan, lagi kelembutan yang Kinan miliki. Nikmatnya begitu candu, dengan rasa yang menggelora dalam kelelakian putra Parlan Bhaskara itu.
Begitu juga Kinanti Aristya. Wanita yang sudah tak lagi menyandang gelar gadis itu, merasa terpana akan tubuh liat nan berotot milik suaminya. Dada yang terbentuk sempurna, disertai dengan bentuk perut yang serupa susunan kotak-kotak, menjadi sebuah keindahan tersendiri. Kinan tak akan pernah bosan, menyentuh dan menjelajahi dada kekar milik suaminya itu.
Entah sudah berapa banyak, keduanya menapaki pelepasan yang begitu memabukkan. Seolah tak ada kata lelah bagi lelaki yang perkasanya bak singa jantan dari rimba. Marvin Bhaskara, benar-benar menapaki surga dengan kenikmatan ragawi yang sulit di jabarkan dengan kata-kata.
Cintanya pada Kinanti, Marvin mendeklarasikan pada dunia, bahwa hanya Kinanti lah wanitanya.
"Akhhh, mas, aku lelah," keluh Kinan, ketika Marvin sekali lagi menembakkan cairan putih kental ke dalam rahim istrinya itu.
"Saya juga lelah, tapi kamu terlalu menjerat saya. Baiklah, maaf kalau begitu. Mari istirahat," jawab Marvin, mengecup wajah istrinya bertubi-tubi di beberapa sudut.
"Mas, gimana kalau aku hamil? Aku, aku lupa nggak pakai kontrasepsi," ujar Kinan, memiringkan tubuhnya pada sang suami. Tangan wanita itu terulur meraih dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan sang suami, sebatas dada.
"Nggak apa-apa. Usia saya sudah lebih dari cukup untuk memiliki anak. Saya sudah nyaris tua, Kinan. Lahirkan anak yang banyak dalam pernikahan kita," jawab Marvin.
Tangan lelaki itu terulur menyibak surai rambut istrinya yang terurai, menutup sebagian sudut wajah Kinan. Perlakuan yang sederhana, namun, begitu berharga bagi Kinanti.
Dulu Kinan pikir, berada dalam pelukan Marvin adalah sesuatu yang mustahil untuk di raih. Hanya saja, Tuhan benar-benar telah memberinya kejutan, melalui menjadikan mimpinya jadi nyata.
__ADS_1
"Kamu mau berapa anak?" tanya Kinan.
"Berapapun kamu sanggup melahirkan, saya nggak akan menekan dan mencegah kamu. Saya hanya tinggal bekerja dan menafkahi. Saya tentu nggak akan memaksakan kehendak saya begitu saja, asal kamu nyaman dan nggak tertekan," jawab Marvin lagi panjang lebar.
Kinan tersenyum, dengan napasnya yang masih naik turun. Wanita itu sungguh lelah, namun, tidak sanggup tidur sebab tak ingin melewatkan menatap suaminya. Kantuk yang tadi datang melanda, seolah sirna dalam waktu sekejap.
"Nan, setelah ini kamu pulang ke rumah saya, kamu mau?" tanya Marvin hati-hati. Ia tak akan memaksakan kehendaknya, terlebih memaksa Kinan untuk pulang bersamanya. Hanya saja, Marvin perlu menawarkan hal ini pada Kinanti.
"Mau sih, Mas. Tapi gimana, ya? Kita harus izin sama Bapak dan Ibu," ujar Kinanti kemudian.
"Tentu, nanti saya yang akan bicara dengan Bapak. Saya pikir, kerjaan di sini nggak akan lama, paling sebulanan gitu. Kalau bisa, kamu nggak usah kerja dan merawat diri saja di rumah. Biar saya yang kerja dan menafkahi kamu. Mungkin dengan banyak istirahat di rumah, akan mempermudah kamu supaya lekas mengandung anak kita," usul Marvin pelan.
Tangan lelaki itu masih terus mengusap-usap pelan puncak kepala istrinya penuh rasa sayang. Kinan sungguh terbuai dan terharu di buatnya. Senyum wanita itu tak pernah pudar.
"Saya mencintai kamu, Nan. Terima kasih sudah menerima saya, padahal orang tua saya pernah menghina kamu," sambung Marvin.
Kinanti tersenyum, namun senyumnya berubah getir seketika. Ketika Marvin menyebut orang tuanya, ingatan Kinan tertuju pada kejadian lima tahun yang lalu. Kinanti khawatir, ia akan ditolak mentah-mentah di rumah mertuanya setelah ini.
"Mas, aku mau kita tinggal di rumah sendiri, maksudku, nggak kumpul sama orang tua kamu. Bukannya aku nggak mau mengambil hati mereka, aku sangat mau dan boleh lah kita sesekali menginap di rumah orang tua kamu. Tapi kan lebih baik, kalau kita tinggal terpisah aja," pinta Kinan.
Kinan hanya khawatir, dirinya tidak mendapatkan perlakuan baik dari orang tua Marvin. Menjadi orang miskin dan selalu dihina orang tua lelaki yang dicintainya, bukanlah hal yang mudah bagi Kinan. Berbagai ucapan pedas, bahkan saat itu diterima oleh Kinan sekeluarga.
Hanya saja, kini Kinan berusaha untuk tetap akan menghadapi segala konsekuensi dari pernikahannya bersama Marvin.
__ADS_1
"Aku akan beli rumah untuk tempat tinggal kita nanti. Kamu mau rumah yang seperti apa? Nanti kita akan coba bangun atau beli, semua sesuai keinginan kamu," ujar Marvin.
Kinan tersenyum di tempatnya, seraya menggenggam tangan suaminya.
"Makasih udah sesayang ini sama aku, mas. Dulu aku pikir, kamu nggak akan sayang sama aku, justru kamu ninggalin aku. Sekarang aku percaya, kalau kamu beneran sayang aku. Tapi janji ya, mas, kamu nggak boleh ninggalin aku, apapun yang terjadi," pinta Kinan dengan suara lirih.
Marvin menatap istrinya cukup lama. Lelaki itu mengerti, akan bagaimana tentang ketakutan istrinya yang terlihat berlebihan itu. Secara tidak sadar, Kinan telah menunjukan trauma. Ia tak bisa membohongi suaminya itu.
"Kamu cinta terakhir saya, Nan. Mana mungkin saya bisa meninggalkan kamu? Jangan mikirin hal yang tidak-tidak, yang terpenting sekarang, kamu fokus untuk merawat diri, menjadi ibu dan istri yang baik, dan percaya sama saya," jawab Kinan.
Sekali lagi, Kinan terharu. Wanita itu lantas menyurukkan wajahnya pada ketiak Marvin, menyesap bau asam yang membuatnya candu.
Begitulah cinta.
"Mas, aku sayang kamu," ungkap kinan sekali lagi, membuat Marvin hanya tersenyum dan mengangguk.
Perlahan, Marvin mengangkat wajah istrinya, mengecup lembut bibir basah istrinya yang begitu candu baginya. Gairah lelaki itu tersulut, ketika panas menjalar perlahan di sekujur tubuhnya.
Dan kembali, niat tidur Kinan sejak tadi, harus terpatahkan sebab suaminya yang mampu menggiringnya, kembali menapaki kenikmatan tiada tanding. Marvin begitu pandai, membuat Kinan terbang tinggi dalam kenikmatan.
Sialnya, Kinan hanya tidak tahu saja, bahwa pernikahannya bersama Marvin Bhaskara, adalah awal petaka untuk hari-harinya di masa depan.
**
__ADS_1