
Pagi pertama menjadi seorang istri, Kinan melayani suaminya dengan suka cita. Wanita itu memaksakan bangun pagi, dan membuat sarapan untuk Marvin.
Meski tubuh kinan luluh lantak oleh keliaran suaminya, namun putri sulung Bayu itu tetap memasak di dapur, dengan wajah ceria dan berseri. Tentu saja Bayu dan Cici bisa menangkap hal ini. Tidak seperti biasanya, wajah datar dan kadang sering murung, kini telah berganti lebih berseri-seri. Senyum Kinan juga terbilang murah.
Secerah matahari pagi, senyum Kinan seterang itu.
"Masak apa, Nan?" tanya Cici pada Kinan, yang tengah mengaduk sayur sop dengan campuran iga sapi.
"Sop iga sapi, Bu. Tadi Kinan lihat ada iga sedikit di kulkas," jawab Kinan, menatap Cici sejenak, sebelum kembali fokus mengaduk sop dalam panci.
"Ya sudah kalau kamu yang masak, Ibu mau bersih-bersih sisa-sisa kemarin bantuin Bapak," ujar Cici yang segera berlalu pergi.
Di samping rumah, Cici tengah membantu Bayu membersihkan lorong samping. Bekas-bekas gelas air mineral, sedikit berserakan dan dimasukan ke dalam karung besar. Tak hanya itu, ada juga beberapa pecahan piring yang semalam diletakkan disana, sebab terjatuh tanpa sengaja dari atas meja.
Tadinya, Marvin ingin membantu membereskan lorong sebelah rumah agar segera selesai. Sayangnya, ada sebuah kalimat yang membuat langkahnya terhenti, dan memilih untuk duduk di ruang tengah, mendengarkan percakapan Ayah dan Ibu mertuanya dari balik jendela.
"Ibu kayak nggak rela kalau Kinan pergi dari sini, untuk ikut suaminya, Pak. Ibu khawatir Kinan tertekan kalau jauh dari kita. Kalau ada apa-apa, siapa kiranya, yang akan menolong Kinan kalau Nak Marvin sedang bekerja?" tanya Cici pelan. Hati wanita itu dilanda resah selama beberapa hari terakhir.
Meski pelan, nyatanya Marvin bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Lelaki itu memilih memperhatikan gawainya, memandang foto pernikahannya kemarin sore bersama kinan, agar tidak dikira sedang menguping pembicaraan mertuanya.
"Jangan terlalu khawatir, Bu. Kinan sudah dewasa. Kalau dia jauh dari kita, tentunya marvin bisa menjaganya. Jangan khawatir, mental anak itu sudah mulai terlatih, kan, sejak dulu?" Bayu balik bertanya , "lagi pula Kinan bukanlah gadis dua belas tahun. Dia sudah dua puluh enam tahun."
Cici mengangguk, "tapi perasaan Ibu nggak enak, Pak. Kayak yang khawatir berlebihan gitu. Tapi ya, semoga ini hanya khawatir berlebihan saja. Ibu kayak masih trauma sama kejadian lima tahun lalu. Kalau ingat itu, bukan tidak mungkin, Kinan akan diperlakukan semena-mena. Ibu nggak akan terima kalau Kinan kenapa-kenapa," timpal Cici.
Gerakan Cici terhenti, membiarkan suaminya duduk di samping rumah, diatas bangku kayu usang dan Cici menyusulnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu khawatir. Ibu harus percaya, masih ada sisi hati nurani mereka sebagai orang tua. Lagi pula, nak marvin sangat bahagia kelihatannya semalam. Bapak Ndak mau kalau nanti mereka berpisah lagi," ujar Bayu menenangkan.
Bukannya tenang, Cici justru dilanda rasa takut.
"Pak, begini. Maksud Ibu, gimana kalau misalnya Kinan tinggal disini saja? Apa, nak Marvin nanti nengok Kinan sesekali?" tanya Cici hati-hati.
Bayu terkekeh pelan di tempatnya seraya berkata, "Ibu ini aneh. Marvin sama Kinan itu pengantin baru, masih anget-angetnya, Ibu tega sekali mau misahkan mereka. Jangan punya pikiran gitu, kasihan mereka. Biarkan lah Kinan nanti ikut dengan suaminya. Toh sudah menjadi kewajiban istri, mengikuti kemanapun suaminya pergi? Simpan ketakutan Ibu yang berlebihan itu. Ibu harus percaya sepenuhnya, kalau Marvin bisa menjaga Kinanti," jawab Bayu menenangkan.
Hening menghiasi diantara sepasang paruh baya itu. Cici masih tak percaya, kalau Marvin bisa menjaga putrinya dari bahaya mulut pedas orang tua Marvin. Andai bisa diputar, Cici akan lebih sudi menyembunyikan Kinanti dari Marvin.
"Baiklah kalau gitu, Pak. Tapi tolong bantu, kasih tau nak Marvin, Ibu nggak akan pernah memaafkan dia, kalau sampai Kinan kenapa-kenapa," sahut Cici final.
"Ibu harus percaya, kalau nak Marvin adalah lelaki yang bertanggung jawab," ujar Bayu, yang diangguki oleh Cici.
"Bu, Ayah, ayo sarapan dulu. Sudah siap mumpung masih hangat," ajak Kinan, menghampiri keduanya.
"Baiklah, Ayo," ajak Bayu pada istrinya yang mengangguk. Tak lupa, Kinan juga memanggil Marvin dan mengajak suaminya itu untuk sarapan.
Sepanjang sarapan pagi pertama Marvin bersama Kinan sebagai suami istri, tak ada pembicaraan yang serius. Tetapi Marvin sedikit segan, sebab Cici, sang Ibu mertua yang seolah tak bisa memberinya izin untuk membawa Kinanti.
Selesai sarapan, Marvin membuka pembicaraan dengan menanyakan Dimas. Lelaki itu tak melihat Dimas sejak ia keluar dari kamar pagi tadi.
"Pak, Dimas kok nggak ada kelihatan sejak tadi?" tanya Marvin pada Bayu, membuka percakapan.
"Dimas sudah pergi sama temannya pagi tadi, katanya mau futsal, tapi entahlah," jawab Bayu.
__ADS_1
Marvin kembali menatap Kinan, sebelum bicara lagi pada Ayah mertuanya yang penyabar itu.
"Saya ingin bicara dengan Bapak dan Ibu," ujar Marvin kemudian.
"Baik, ayo ke ruang tengah saja," ajak Bayu, seraya menatap Marvin, Cici dan Kinan bergantian.
Kini, mereka berempat telah berada di ruang tengah, tepatnya ruangan yang biasa di pakai untuk berdiskusi, atau bersantai sekeluarga.
"Ada apa, Nak?" sapa Bayu dengan suara lembut. Marvin bukanlah menantu baginya, tapi Bayu akan anggap Marvin sebagai anaknya sendiri, sebagaimana posisi Kinan di hatinya, agar Kinan juga diperlakukan serupa, di rumah Bhaskara.
"Satu bulan lagi, saya akan pindah ke kota kelahiran saya, Pak. Tapi, saya ingin membawa Kinan dan saya minta izin Bapak," ungkap Marvin kemudian.
Cici hanya menunduk, tapi wanita itu mencoba untuk menguatkan hatinya. Ia harus yakin, bahwa Marvin adalah kebahagiaan putrinya. Kemana pun Marvin pergi, Kinan memang sepatutnya ikut dengan suaminya itu.
"Bapak izinkan, tetapi Bapak minta tolong, jaga Kinan untuk Bapak dan Ibu, selayaknya kamu menjaga diri kamu. Bapak percaya, kamu bisa menjadi imam yang pantas untuk putri saya," jawab Bayu seraya tersenyum. Tangan kanan pria itu menggenggam tangan kiri istrinya, untuk meyakinkan tanpa kata.
"Terima kasih, Pak," ungkap Marvin dengan senyum. Pandangan lelaki itu lantas beralih pada Ibu mertuanya," Saya janji, Bu, saya akan menjaga istri saya dengan baik. Saya mencintai Kinan, sampai kapan pun," sambung Marvin.
"Ibu pegang janji kamu, Nak. Jika sekali saja kamu membuat Kinan menangis, atau kamu lengah tanpa menjaga putri Ibu sampai dia terluka, Ibu nggak akan memaafkan kamu," jawab Cici.
"Saya mengerti, Bu," Marvin mengangguk paham.
Pinta seorang Ibu tak banyak. Cinta, setia, dan penjagaan yang tulus, itu lebih penting dari segalanya.
**
__ADS_1