
Tak pernah Kinanti bayangkan, dirinya akan menemui hari apes seperti ini. Bahkan gadis itu merutuki nasibnya yang harus kembali bertemu dengan Marvin Bhaskara. Batin wanita itu sudah mengeluh total, namun itu tetap tak akan bisa membuat takdirnya berubah, memilih untuk pergi dan berbalik, sudah tidak mungkin.
Warung bakso sudah mulai sepi pembeli, ketika Kinan dan Dimas datang untuk membeli makanan yang di dominasi oleh daging itu. Untuk menghibur Kinanti, Dimas tak perlu merogoh kocek dalam-dalam, sebab kakaknya itu begitu menyukai bakso sejak dulu. Hanya semangkuk bakso ekstra cabai, Dimas harusnya bisa mengembalikan mood kakaknya yang terlanjur hancur berantakan itu.
Namun, sebuah kejadian tak terduga, kembali terjadi. Untuk yang ke tiga kalinya selama seharian ini, Kinan bertemu dengan Marvin Bhaskara tanpa sengaja. Andai tahu sejak tadi, Kinan memilih tidak akan meneruskan makan di warung bakso ini. Tetapi semua sudah terlanjur, Kinan mengetahui Marvin, ketika dirinya sudah memesan dua mangkuk bakso dan duduk di meja yang kosong, tepat di depan meja yang Marvin tempati bersama Dedy.
Jantung Kinan kembali berdesir, namun, gadis itu masih berusaha untuk mengendalikan dirinya. Rasanya, Kinan ingin mengumpat saat itu juga. Hanya saja, Kinan cukup sadar diri jika disini adalah tempat umum.
"Dek, ada Marvin," ujar Kinan, mengarahkan tatapan sejenak pada Marvin, yang tengah menatapnya lekat-lekat. Bodohnya, Dimas tak mengerti akan kode yang Kinan berikan.
"Hah? Di mana?" tanya Dimas kebingungan.
"Di belakang kamu, tapi nggak usah lihat kesana. Anggap aja kita nggak lihat dia," jawab Kinan dengan suara berbisik.
"Apa kita pindah aja? Atau, baksonya kita bungkus aja di bawa pulang?" tanya Dimas kemudian, menawarkan, "ingat kata bapak."
"Nggak usah, kita hadapi. Mbak akan menghadapinya, bukan melarikan diri. Itu kan, yang jadi pesan Bapak?" tanya Kinan, masih dengan bisikan.
Dimas mengangguk, tidak lagi bicara. Pemuda itu waspada, khawatir jika nanti Marvin menghampiri sang Kakak. Dimas tahu, benteng pertahanan Kinan tak sekuat dirinya. Biar bagaimana pun, Kinan adalah perempuan yang menuntut untuk di lindungi, sebagai saudari.
Hingga kemudian, Marvin tiba-tiba duduk tepat disamping Dimas dan Kinanti. Lelaki itu berdehem, dan menyapa Kinan selayaknya teman lama.
"Hai, Kinan," sapa Marvin, "saya nggak nyangka bisa ketemu kamu disini," tambah Marvin.
__ADS_1
"Iya," jawab Kinan. Hanya itu, jawaban yang Kinan lontarkan, namun tidak sedikitpun netra gadis itu menatap lawan bicaranya. Fokus pandangan Kinan, hanyalah pada Dimas, sang adik.
"Ini Dimas, ya?" tanya Marvin. Meski sudah hapal betul akan wajah Dimas, namun Marvin hanya sekadar basa-basi belaka. Sekarang, wajah remaja lima tahun lalu, lebih dewasa dengan pembawaan yang tegas dan maskulin.
"Iya, mas Marvin. Apa kabar? Nggak nyangka bisa ketemu disini," jawab Marvin seraya tersenyum.
Sejujurnya, Dimas masih sangat membenci lelaki yang telah menolak Kakaknya ini. Akan tetapi, Dimas mencoba untuk berpikir cerdas. Ia tak mungkin memusuhi Marvin secara terang-terangan, hanya karena penolakan cinta yang Kinan terima.
"Baik. Kamu sudah dewasa sekarang. Kamu sudah kuliah?" tanya Marvin.
"Ya, lanjut kuliah dong, Mas, biar bisa jadi orang sukses agar nggak di pandang rendah dan sebelah mata, sama orang kaya yang derajatnya selevel dengan keluarga mas Marvin," jawab Dimas telak, memukul harga diri Marvin sebagai orang kaya.
Marvin mengerutkan kening, merasa tak nyaman dengan hal ini.
Dimas tertawa dalam hati, mengabaikan tatapan tajam Kakaknya yang memandang tak suka padanya. Rasanya Dimas tidak tahan. Meski bicara dengan nada pelan, namun suara Dimas sarat akan ejekan pada Marvin.
Batin Dimas.
"Maksud kamu?" tanya Marvin, merasa bahwa jawaban panjang dari Dimas, bersifat sensitif baginya.
"Nggak semua orang berada dan kaya itu, memiliki sifat yang suka merendahkan, Dimas," ungkap Marvin kemudian.
"Ya, tapi semua yang keluarga kami temui, rata-rata suka merendahkan dan menghina orang nggak punya seperti keluarga kami, Mas. Sesuai fakta lapangan aja," sahut Dimas yang menatap tajam Marvin.
__ADS_1
"Karena kami pernah mengalaminya. Kami di hina habis-habisan oleh keluarga orang berada itu, hanya karena mbak Kinan menolak cinta anak sulung mereka. Tragisnya, anaknya nggak tahu sama sekali sampai saat ini," tegas Dimas tanpa tedeng aling-aling.
Semua jelas teringat di dalam isi kepala putra bungsu Bayu itu, kejadian malam itu saat dimana Kinan sudah mengurung diri dua hari lamanya. Keluarga Marvin mendengar, jika Kinan mengungkapkan perasaan cinta pada Marvin. Hingga membuat keluarga Bayu malu dan memilih untuk pergi, memulai hidup baru di kota ini.
Andai hanya terpuruk yang di rasakan Kinan sebab penolakan, Bayu tak akan menjadi pengecut dengan membawa anak-anaknya pergi. Tetapi setelah orang tua Bayu melabrak keluarga Bayu, pasti mental anak-anak Bayu akan terancam sebab gunjingan dan cercaan tetangga. Bayu tak memiliki pilihan lain selain pergi. Ia sayang pada mental anak-anaknya, juga tidak mau masalahnya semakin rumit.
Tetapi apa yang terjadi? Bayu memilih bersikap baik pagi tadi, tak membenci Marvin sama sekali. Marvin syok di buatnya.
"Apa yang terjadi di masa lalu yang tidak saya ketahui, Kinan, Dimas? Apa saya melewatkan sesuatu?" tanya Marvin penuh penasaran.
Kinanti sudah tidak tahan, dan menendang salah satu kaki adiknya di bawah meja, hingga menyebabkan meja terguncang sedikit. Tentu saja Marvin cukup cerdas dengan menyimpulkan apa maksud dari apa yang Kinan lakukan.
"Jangan sembunyikan apapun dari saya, Nan. Bicara jujur, apa keluarga saya menghina kamu setelah kejadian itu?" tanya Marvin.
Kinan mendongakkan wajah, menatap Marvin dengan berani. Percuma saja jika dirinya tidak bicara jujur. Adiknya yang menurutnya bermulut ember itu, sudah membeberkan semuanya.
"Bukan hanya aku, tapi keluargaku pun juga dimaki habis-habisan saat itu sama mama kamu, sembilan hari menjelang kamu menikah sama istri kamu. Sekarang udah jelas, kan, semuanya? Jangan mengganggu aku lagi, biarkan aku tenang tanpa kamu usik," jawab Kinanti tenang.
Di tempatnya, Dedy begitu kagum dengan keberanian dan ketenangan Kinan. Lelaki itu tak berubah, masih di tempatnya mendengar apa yang dibicarakan sahabat dan orang masa lalunya itu.
"Tapi, Mama dan Papa titip salam untuk Ayah dan Ibu kamu. Nggak mungkin orang tuaku .... "
"Terserah kamu mau percaya atau enggak. Aku nggak peduli apapun tentang keluarga kamu itu. Ayo, Dimas. Kita pulang. Mbak Kinan udah nggak selera mau makan disini. Baksonya di bungkus saja," ajak Kinan yang bangkit dan berlalu pergi.
__ADS_1
Tak ada yang bisa Marvin lakukan selain diam, melepas kepergian Kinanti sebab tak bisa menahan gadis itu.
**