Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
11. Cinta Buta.


__ADS_3

"Saya datang untuk membahas tentang Cinta, Nan, tapi saya datang kembali sama kamu, karena saya juga mencintai kamu. Lima tahun hidup tanpa kamu, membuat saya sadar, kamu begitu berarti dalam hidup saya. Dan saya, pagi tadi ... sudah meminta restu orang tua kamu, untuk bisa meminang kamu," ungkap Marvin panjang lebar.


Rasanya Kinan tak bisa menghirup oksigen seketika. Dada wanita itu bergemuruh. Rasanya tak bisa dibayangkan, lelaki yang Kinan cinta hingga saat ini, lelaki yang masih resmi menjadi suami orang, meminta restu pada orang tuanya untuk bisa meminang Kinanti. Mau tidak percaya, namun suara Marvin begitu nyata.


"Bohong! Pergi kamu dari sini! Jangan lagi memberi harapan kalau akhirnya nanti aku, kamu hempaskan. Aku benci sama kamu, aku benci sama kamu yang mau mengulang kesalahan yang sama. Lebih baik kamu pulang, dan kembali sama istri kamu. Aku nggak sudi kalau harus jadi selingkuhan apalagi merebut suami orang," usir Kinan pada Marvin, dengan nada suara penuh penekanan. Kinan hanya tidak mau, bila nanti ada yang mendengar apa yang ia dan Marvin bicarakan.


"Nan, saya serius ingin meminang kamu. Tolong mengerti," pinta Marvin dengan suara mengiba. Lelaki itu meraih tangan Kinan untuk ia genggam dan yakinkan. Sayangnya, Kinan menghempasnya dengan kasar.


"Nan, saya dan Atika di jodohkan. Nggak ada cinta di dalam pernikahan kami. Aku dan dia pun akan berpisah sesegera mungkin, sebab Atika juga tidak mencintai saya. Tolong, Nan, tolong kamu mengerti posisi saya," pinta Marvin.


"Lebih baik kamu pergi, Marvin. Jangan lagi mendekati aku lagi," sambung Kinan dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu lantas bangkit, sayangnya Marvin segera mencekal tangannya untuk mencegah.


"Jangan pergi dulu, Nan. Ayo kita ke mobil saya sebentar. Kita bahas masalah ini di dalam mobil supaya lebih nyaman," ajak Marvin.


Sialnya, Kinanti tak menolak. Gadis itu harusnya bisa menahan diri dan menolak apapun yang Marvin katakan. Tetapi tetap saja, Kinan refleks saja.


Setibanya di dalam mobil, Kinan hanya diam tanpa berniat bicara lebih dulu. Gadis itu tak tahu harus bicara apa, untuk menanggapi ungkapan cinta Marvin padanya.


"Nan, kita menikah setelah ini. Kamu mau, kan?" tanya marvin hati-hati, "beri saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya di masa lalu yang sudah memberi harapan palsu ke kamu. Saya harap, kamu mengerti. Saya mencintai kamu, lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi saya untuk terus terbayang-bayang sama kamu. Masalah kedatangan Papa dan Mama saat itu, saya minta maaf," sambung Marvin lagi.

__ADS_1


"Nggak, aku nggak mau kalau nanti akhirnya di beri harapan palsu lagi," jawab Kinan seraya membuang muka, menatap ke arah luar jendela.


"Saya serius, Nan. Saya serius ingin mempersunting kamu. Atau begini saja, saya akan buktikan dengan menikahi kamu lebih dulu. Bila perlu, saya akan bawa Atika supaya kamu yakin, kalau saya benar-benar serius tentang pernikahan kita. Tatap mata saya," Marvin memaksa Kinan untuk menatap matanya dari jarak dekat, "saya dan Atika tidak saling mencintai. Karena kamu nembak saya lima tahun lalu dan saya tidak memberi jawaban, maka hari inilah jawabannya, Kinan. Saya juga mencintai kamu, dan saya ingin kita menikah segera."


"Aku nggak mau, Vin. Lebih baik kamu pulang, aku mau pulang," timpal Kinan yang tidak mau hanyut lagi pada pesona suami orang di depannya ini.


"Saya akan lepaskan kamu, hanya jika kamu bersedia menikah dengan saya, Kinan. Kalau kamu nggak mau, jangan harap kamu bisa lepas begitu saja," jawab Marvin tak berperasaan.


"Aku nolak kamu, sebab aku nggak mau terluka lagi, Vin. Tolong kamu mengerti aku sedikit aja. Aku mau bebas. Jangan bodoh, aku sama istri kamu jelas nggak sebanding. Dia lebih cantik, berkarir, lebih pintar dan lebih segala-galanya diatasku. Aku nggak mau kalau nanti kamu menyesal karena menikahi aku," keluar sudah unek-unek yang Kinanti sembunyikan selama ini.


"Nan," erang Marvin penuh permohonan.


"Kamu mencintai saya, saya juga mencintai kamu. Aku mohon, mari kita berjuang bersama. Aku dan Atika tidak saling mencintai. Bahkan setelah ini, Atika akan kembali sama kekasihnya," ungkap Marvin kemudian.


Dan Marvin bisa merasakan, dada Kinanti yang naik turun. Jantung Kinan yang berdetak kencang, seolah Marvin sanggup mendengarnya.


Sontak saja kedekatan mereka secara fisik saat ini, membuat Marvin juga serupa merasakan detak jantung yang menggila. Keduanya sama hanyutnya, hingga entah siapa yang memulai, keduanya saling memagut bibir satu sama lain di dalam mobil.


Keduanya saling menyesap, merasakan cinta yang dulu sempat akan mereka lupakan. Cinta yang begitu kuat namun nyaris mati itu, kini seolah kembali hidup, mendeklarasikan pada dunia, bahwa cinta keduanya tak akan habis termakan oleh masa.

__ADS_1


Cinta terkadang sebuta itu.


**


Di sebuah kamar luas dengan begitu megahnya, seorang wanita bernama Atika Priyanka, tengah duduk di atas ranjangnya, seraya memainkan ponselnya.


Dua jam lalu, suaminya meneleponnya untuk meminta izin agar Atika memberi izin Marvin, untuk menikahi wanita pujaannya. Alih-alih marah, Atika justru terlihat sumringah. Wanita itu juga memiliki impian untuk bisa lepas dari perjodohan ini. Tak hanya itu, Atika juga sebenarnya ingin sekali kembali pada kekasihnya yang telah menunggunya hingga lima tahun ini.


Paras wanita itu lebih cantik terawat, jika dibandingkan dengan Kinanti. Namun, meski begitu, tetap saja bagi Atika lebih manis Kinan. Segala yang terpasang pada tubuh Atika, hanyalah kepalsuan dalam kecantikan.


Rambut Atika lurus sebahu, dengan warna dark grey yang mendominasi. Bibir wanita itu selalu dihiasi warna yang kuat dan berani. Tubuhnya juga sintal dengan lekuk tubuh yang demikian sempurna di mata laki-laki. Tak hanya itu, bibir Atika demikian sensual.


Meski ia dan Marvin tak munafik, sama-sama mau melakukan hubungan suami istri semata hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, namun ia tetap tak bisa jatuh cinta pada Marvin. Lelaki super sempurna itu bukanlah cinta sejatinya.


Atika tak akan banyak bicara untuk memberi alasan pada kedua mertuanya, tentang sebab dirinya mundur dari pernikahan. Alasan tak segera memiliki anak, tentunya sudah cukup sebagai alasan.


Mari kita kejar kebahagiaan kita masing-masing, Vin. Aku akan dukung penuh kamu, untuk bisa mempersunting wanita yang kamu cintai.


Batin wanita itu dalam heningnya kamar.

__ADS_1


**


__ADS_2