Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
17. Ketakutan Kinanti.


__ADS_3

Selayaknya pengantin baru, bahagia tidak pernah pudar sedikitpun pada rona wajah Kinanti Aristya dan Marvin Bhaskara. Sepasang suami istri itu demikian mencecap manis madu pernikahan selama sebulan ini. Hingga tanpa terasa, tiba saatnya Marvin harus kembali pulang dan membawa Kinanti sebagai istrinya yang sah.


Tak banyak sesuatu yang bisa Cici katakan, pada Kinan. Wanita itu hanya menatap putrinya dengan tatapan sendunya. Hatinya terasa luruh, saat harus berpisah dengan putri yang ia rawat selama lebih dari dua puluh enam tahun lamanya.


Tak henti-hentinya, doa mengalir dari bibir Cici yang sedikit dihiasi garis-garis halus. Berbagai rapalan doa untuk keselamatan putrinya hingga tujuan, terus Cici gumamkan. Ada banyak hal yang sebenarnya Cici takutkan, tapi Cici mencoba untuk percaya, pada lelaki yang kini telah memikul tanggung jawab atas putrinya itu.


"Ibu titip Kinan, Vin. Tolong jaga anak Ibu dengan baik. Andai suatu saat kamu udah nggak mencintainya lagi, udah bosan atau memiliki wanita lain, tolong jangan usir dia. Kembalikan Kinan pada Ibu. Dia pernah nyaris depresi karena penolakan kamu lima tahun lalu. Ibu nggak mau Kinan kembali merasakan sakit untuk yang ke sekian kalinya karena orang yang sama," kata Cici, memberi pesan terakhirnya sebelum Marvin benar-benar membawa Kinanti pergi.


"Saya janji, saya akan jaga Kinan dengan segenap hati saya, Bu. Jangan khawatir, Ibu bisa menghakimi saya jika saya lelah menjaga Kinan," jawab Marvin.


"Kinan pamit, Bu. Jaga diri Ibu baik-baik. Dimas pasti bisa menggantikan tugas Kinan di rumah ini. Nanti sesekali, Kinan akan berkunjung kemari nengok Bapak, Ibu, dan Dimas," pamit Kinan. Mereka lantas saling bersalaman penuh khidmat.


Pada akhirnya, tak ada pilihan lain bagi Bayu dan Cici, selain melepas kepergian anak dan menantunya. Seuntai doa, tak akan pernah pupus untuk pasangan yang satu itu.


"Nan, kamu baik-baik saja?" tanya Marvin kemudian, pada istrinya yang duduk tepat disampingnya.


Dedy, sahabat Marvin yang duduk di kursi kemudi, melirik sekilas pada sahabatnya itu. Dedy bisa merasakan, bahwa Kinan merasa tak nyaman untuk saat ini.


"Iya, Mas. Aku baik-baik saja," jawab Kinan seraya mengulas senyum. Bibir wanita itu terasa kelu meski hanya sekadar untuk menceritakan perasaannya. Ada Dedy yang membuat Kinan tidak nyaman.


"Perjalanan masih panjang. Kalau kamu merasa butuh sesuatu dan ngantuk, bilang saja," ungkap Marvin.


"Iya, Mas. Jangan khawatir," jawab Kinan kemudian.


Keheningan kembali mengisi suasana diantara keduanya. Dedy sendiri tidak banyak bicara, dan lebih fokus pada jalanan di depannya.

__ADS_1


"Saya merasa kalau kamu merasa nggak nyaman, Nan. Tapi semoga aja itu cuman perasaanku ke kamu saja," ungkap Marvin tiba-tiba. Tangan kanan pria itu meraih dan menggenggam tangan kiri istrinya itu, untuk membuat Kinan sedikit lebih nyaman.


"Aku khawatir, Mas. Entah kenapa, aku kayak inget sama lima tahun lalu," lirih Kinan, "gimana kalau nanti aku kembali dapat perlakuan serupa seperti lima tahun yang lalu?" sambung Kinan.


"Jangan khawatir. Apa yang kamu takutkan? Ada saya, saya yang akan melindungi kamu. Jadi, kamu jangan khawatir, Ya?" ujar Marvin untuk menenangkan.


"Iya, Mas," jawab Kinanti.


"Memangnya, apa yang orang tua saya katakan saat itu?" tanya Marvin pada Kinan.


Kinan sendiri menatap Marvin, memastikan jika bercerita pada suaminya itu, adalah hal terbaik baginya. Toh mereka sudah resmi menikah, dan Marvin mencintainya.


"Saat itu .... " Kinan mulai kembali bernostalgia dengan masa lalu.


##


Dua hari lalu, Kinanti mendapat penolakan dari Marvin Bhaskara, atas cintanya. Memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan, ditambah lagi dengan Kinan yang seorang perempuan mengungkapkan cintanya lebih dulu pada Marvin, membuat Kinan malu setengah mati.


Kinanti syok, sebab di tolak, namun Marvin sebelumnya berlaku baik padanya. Tentunya hal itu menimbulkan harapan-harapan palsu bagi Kinanti. Kini, andai ada situasi yang mempertemukan dirinya dengan Marvin, Kinan akan lebih memilih menenggelamkan dirinya ke dasar Atlantik saja.


Pintu di ketuk dari luar, dengan suara seorang lelaki memanggil nama Bayu dan Cici. Bergegaslah Cici membuka pintu, dan mendapati Parlan Bhaskara, Ayah Marvin beserta istrinya, Rindi datang berkunjung. Sebagai tetangga, tentu Cici mempersilahkan masuk.


Ada harapan besar bagi Cici, agar kedua orang tua Marvin meminta maaf pada kinana, atas ketidak nyamanan Kinan terhadap hubungan Kinan dan Marvin. Sayangnya, Mereka berdua datang, untuk memberikan undangan Pada Bayu dan Cici.


"Di mana Kinanti? Saya ingin bicara dengan putri kamu, Pak Bayu," kata Parlan kala itu. Nada bicara pria itu datar, tidak mengisyaratkan kemarahan apapun.

__ADS_1


Bayu pikir, mereka hanya sekadar ingin bertanya, dan berbasa-basi dengan Kinanti. Siap yang mengira, bahwa mereka datang dengan niat tidak baik?


"Ada, sebentar, saya panggilan dulu," jawab Bayu, mengode istrinya, agar memanggilkan Kinan untuk masuk.


Cici berlalu, menuju kamar Kinanti yang hingga kini, tidak henti-hentinya menangis.


Setelah Kinan keluar, semua orang mendapati wajah Kinan yang kacau.


"Duduklah, Kinan. Saya mau bicara pada kalian semua," ujar Parlan, menatap penuh ejek pada teman dekat putranya itu.


Dengan pelan, Parlan meletakkan undangan di atas meja seraya berkata, "Sembilan hari lagi, Marvin Bhaskara akan segera menikah. Saya harap kehadiran kalian semua ke rumah saya, untuk memberikan restu."


Wajah Kinanti kian pucat, dengan pandangan terpaku pada undangan yang Parlan letakkan diatas meja.


"Saya minta pada Pak Bayu, agar menyingkirkan Kinan dari hidup anak laki-laki saya. Dia, sudah saya jodohkan dengan wanita yang tentunya jauh lebih berkelas dan sederajat dengan kami," kata Parlan, mengamati ekspresi tetangganya ini.


"Nggak mungkin. Marvin nggak mungkin mau menikah," tutur Kinan, seraya menatap Rindi dan Parlan bergantian.


"Kamu pikir kamu siapa, Nan? Saya sudah mendengar tentang kedekatan kamu dengan anak saya. Tetapi sayangnya, kamu bukan tipe menantu idaman bagi saya. Segera pergi dan menjauh dari hidup Marvin, karena saya nggak akan segan-segan membuat kamu makin malu pada tetangga-tetangga lain disini. Harusnya kamu ngaca, Marvin siapa, dan kamu hanya apa. Lagipula, nggak ada gadis yang rela menjatuhkan harga dirinya, dengan mengungkapkan cinta pada laki-laki. Sampai kapanpun, saya dan suami saya nggak akan sudi bermenantukan kamu!" seru Rindi dengan pedasnya.


##


Sudahlah di tolak, Kinan masih saja menerima hinaan dari orang tua Marvin. Sakit apa lagi yang belum Kinan rasakan? Antara menantu dan mertua, akan ada sebuah kontras yang nyata setelah ini.


**

__ADS_1


__ADS_2