Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
6. Kurang Jantan.


__ADS_3

Kinanti melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, menerobos jalanan saat suasana sore di hiasi rintik-rintik air hujan. Gadis itu begitu syok, terpukul ketika Marvin Bhaskara dengan terang-terangan mengajak dirinya untuk menikah. Sungguh, ini bukanlah hal yang Kinanti inginkan.


Sebesar apapun cinta Kinan terhadap Bhaskara, gadis itu tetap tak akan pernah sudi menjadi orang ke tiga, alias duri dalam rumah tangga orang lain. Bagaimana pun, selain nama baik, Kinan juga begitu menjunjung tinggi kehormatan dan martabat sebagai perempuan.


Biar miskin, tapi punya harga diri. Itulah yang menjadi prinsip Kinan yang hingga kini masih di pegang teguh olehnya.


Setelah tiba di rumah, Kinan memarkirkan motornya di halaman, seperti biasanya. Tak hanya itu, Kinan melihat seragam kerjanya yang sedikit basah, sebab rintik hujan yang mengenai tubuhnya.


"Nan, sudah pulang?" tanya Cici pada Kinan, "loh, mata kamu kenapa?" tanya Cici lagi pada Kinan, saat mata Kinan tampak sedikit bengkak.


"Ngantuk, Bu. Kinan mau tidur, matanya udah nggak tahan pengen merem," dusta Kinan kemudian.


"Ya udah, segera mandi, terus istirahat. Nggak usah ke dapur kalau ngantuk, Ibu bisa siapkan makan malam sendiri," perintah Ibu, setelah Kinan mencium tangan Cici dengan khidmat.


"Ya udah, Kinan langsung ke kamar mandi ya, Bu," pamit Kinanti kemudian.


Cici berlalu, dengan perasaan yang semakin cemas. Sebagai Ibu yang kenal betul dengan bagaimana putrinya, tentunya Cici tak bisa dibohongi begitu saja. Kunjungan Marvin Bhaskara pagi tadi, pasti menjadi penyebab utama Kinan menangis.


"Sudah lima tahun berlalu, tapi kamu masih nggak bisa melepaskan nak Marvin di hati kamu, Nan. Ibu nggak tau harus gimana lagi sekarang. Ibu harap, kamu bisa cepat move on dan bisa membuka hati untuk lelaki lain," gumam Cici sembari menuju ke arah dapur.


Di dalam kamar, Kinan tak segera mandi, melainkan hanya berdiam diri di dalam kamar mandi dengan baju setengah basah. Risau hatinya cukup menunjukkan, bahwa ia tak memiliki kekuatan lagi. Andai waktu bisa di putar ulang, pasti Kinan tidak akan mau dekat-dekat dengan Marvin, apalagi jatuh cinta.


Sedahsyat itu efek cinta bertepuk sebelah tangan.


Penolakan Marvin, di tambah lagi dengan ketidakjujuran Marvin bahwa ia sudah dijodohkan dengan wanita lain, berhasil membuat Kinan mengalami trauma berat. Gadis yang masih tingting itu bahkan takut untuk memulai sebuah hubungan dengan lawan jenis.


Lamunan Kinanti buyar, ketika pintu kamarnya terdengar ada yang mengetuk beberapa kali. Suara Dimas, adik Kinan memanggil beberapa kali. Dengan malas, Kinan beranjak untuk menemui Dimas, adiknya yang bahkan sudah kuliah semester dua.

__ADS_1


"Ada apa sih, Dek? Mbak Kinan mau mandi," ujar Kinanti ketika ia baru membuka pintu, dan mendapati adiknya di sana.


"Kalau udah selesai mandi, Mbak Kinan di panggil sama Bapak, Mbak. Katanya Bapak mau bicara," jawab Dimas, "kenapa mbak Kinan nangis? Oh ayolah, jangan sedih trus. Nanti Dimas bantu hibur," sambung Dimas yang tidak tahu apa-apa.


"Makasih ya, Dek. Mbak mau mandi dulu," sahut Kinanti.


Dimas hanya mengangguk dan berlalu pergi. Sepertinya Dimas juga baru pulang kuliah.


Kinanti segera mandi, sebelum ia menghadap Bapak. Bisa dipastikan, ia akan mendapat jatah petuah dari Bapak dan Ibu. Semua ini gara-gara Marvin, yang tiba-tiba datang kembali dengan niat mengobrak-abrik hidup Kinan. Sungguh menyebalkan.


**


Di sudut lain, Marvin tengah duduk di dalam kamar, menghadap ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. Pemandangan senja di sore hari begini, kerap kali membuat Marvin takjub. Sayangnya, langit jingga di atas sana seolah tak lagi menarik bagi Marvin.


Lelaki itu tengah memikirkan hasil pertemuannya dengan Kinanti. Dengan lincahnya lidah yang ia miliki mengajak Kinanti untuk menikah. Tentunya Kinanti menolak dengan keras, ide gilanya itu.


Harusnya Marvin menjauh saja, dan membiarkan Kinan mencari kebahagiaanya pasca lima tahun lalu ia menorehkan luka. Tetapi sayangnya, itu tidak mungkin sebab Marvin begitu merindukan gadis itu.


"Vin, ayo keluar jalan-jalan sebentar, sekalian nanti nyari makan malam pulangnya," ajak Dedy, teman Marvin semasa sekolah menengah atas dulu. Secara kebetulan, ia bertemu dengan teman sekelas hingga membuatnya bisa lebih nyaman tinggal di kota ini.


"Mau kemana memangnya?" tanya Marvin penuh tanya. Sebenarnya, Marvin malas bila harus keluar rumah. Tetapi bila di pikir lagi, mungkin mencari sedikit hiburan, bisa membuat Marvin sedikit melupakan Kinanti.


"Ya, muter-muter saja sih di sekitar alun-alun. Nanti sekalian nyari makan malam. Lagi kesepian nih, istri sama anak lagi pulang kampung, jadi sendirian," ungkap Dedy.


"Oke lah, gas sekarang," jawab Marvin, "bawa motor kamu saja, ya?"


"Iya," jawab Dedy penuh semangat. Lelaki itu lantas segera mengunci pintu rumahnya, dan segera berboncengan dengan Dedy menggunakan motor ninja milik Dedy.

__ADS_1


Hingga lantas mereka tiba di alun-alun, keduanya memarkirkan motor dan menuju ke arah taman yang lumayan sepi. Gelap mulai menyapa, dan keduanya masih asik mencari tempat duduk yang cukup nyaman.


"Jadi, gimana hasil pertemuan dengan gadis yang namanya Kinanti?" tanya Dedy kepo.


Sebelum menolak Kinanti, Dedy bahkan sudah mengetahui kedekatan Marvin dan Kinan di masa lalu.


"Dia menolak kenal sama saya lagi, Ded, Saya sudah minta maaf, tapi dia tetap bersikeras nggak mau berteman lagi," jawab Marvin, seraya memandang beberapa pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu di taman alun-alun kota.


"Udah aku duga. Kayaknya memang kamu harus menjauhi dia. Sudah ada Atika juga, kan?" Dedy mengingatkan.


"Tapi entah. Kalau menurut kamu gimana kira-kira? Apa saya jahat kalau tiba-tiba saya menginginkan Kinanti?" tanya Marvin dengan konyolnya.


"Jahat sekali, itu jelas. Ada Atika, kamu udah beristri. Nggak usah di ingatkan, kamu pasti paham," jawab Dedi


"Tapi saya nggak mencintai Atika sampai sekarang, Ded. Saya pikir setelah menikahi Atika, saya perlahan bisa mencintainya dan melupakan Kinan. Tetapi apa yang terjadi? Yang terjadi justru berbanding terbalik," jawab Marvin.


"Jadi, selama lima tahun ini kamu cintanya dan rindunya cuma buat Kinanti?" tanya Dedy mempertegas sekali lagi.


"Ya," jawab Marvin kemudian.


"Kamu nggak bisa memiliki keduanya, Vin. Kalau kamu memang cinta sama Kinanti, tinggalkan Atika dan bicara jujur ke dia. Lagi pula, kalian nggak ada anak. Tapi kalau kamu mau melanjutkan rumah tangga dengan Atika, ya lepaskan Kinan," Dedy memberi saran dengan bijak.


"Tadinya saya ingin bicara jujur dengan Atika tentang Kinan. Tapi ya gimana? Kinan menolak saya, Ded. Kamu kan mengerti gimana saya?" tanya Marvin kemudian.


"Ya udah, deketin aja dulu si Kinanti. Nanti, perlahan dia pasti luluh. Nikahi dia dan jujur sama istri kamu. Beres dan sesimpel itu menjalani hidup," sahut Dedy.


"Tetapi menjalani kisah yang rumit begini, nggak sesimpel dan semudah yang di katakan," gumam Marvin penuh makna.

__ADS_1


"Kamu kurang jantan sih kalau menurutku," timpal Dedy, mulai putus asa menghadapi kawannya yang bernama Marvin Bhaskara itu.


**


__ADS_2