
"Kamu buang berlian hanya demi sampah seperti dia!"
"Jangan kamu pikir Papa nggak tau sama semuanya, pernikahan kamu, dengan wanita nggak punya harga diri, dan perceraian kamu dengan Atika. Papa bersumpah Papa nggak akan menerima dia sebagai istri kamu!"
Hati Kinanti dilanda sedih luar biasa, saat dirinya mendapati kalimat tajam dan penolakan keras Parlan, atas dirinya sebagai menantu. Harusnya Kinan sudah sadar akan kalimat demikian, sebab dirinya sudah mempersiapkan diri untuk hal buruk ini. Tetapi sayangnya, sudut hati Kinan yang rapuh itu, tetap saja berdarah lebih dalam.
Kinan terisak dalam tangis, seraya memangku kepala suaminya. Tangan wanita itu mengusap pelan kepala suaminya, dan mengusap sudut bibir Marvin yang berdarah.
"Mas, gimana ini?" tanya Kinan pada Marvin yang memegangi perutnya, yang sempat mendapat tendangan dari Parlan tadi.
"Sssshhhhh ... " Marvin mendesis lirih, merasakan nyeri pada perut hingga punggungnya. Mungkin sebentar lagi, lebam pada wajahnya perlahan akan terlihat.
Pembantu dan sekuriti yang baru saja datang, seketika bubar sebab tak ingin mendapat amukan juga dari Parlan. Tak ada satupun yang berani menantang Parlan, apalagi membantu Marvin dan Kinanti.
"Marvin?" sapa Rindi yang terkejut, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Siapa dia?" tanya Rindi, yang tidak mendengar kabar bahwa putranya, menikahi wanita yang dulu sangat dibencinya.
"Dia Kinanti Aristya. Putri Bayu yang dulu pernah membuat Marvin jadi bodoh. Sekarang dia kembali, membuat kehebohan dengan menikah sama Marvin. Kamu nggak tahu? Bahkan Marvin membuang Atika hanya demi wanita murah ini!" tunjuk Parlan pada Kinanti, dengan jari telunjuk tangan kirinya.
Tak ada harganya.
Itulah Kinan di mata keluarga suaminya. Tak jarang, semua kebaikan yang Kinan miliki di masa lalu, seolah tidak terlihat sama sekali. Dirinya hanyalah akan di pandang rendah.
"Apa?" jerit rindu yang syok seketika.
__ADS_1
"Jad, jadi ... anakku menikahi wanita ini? otak kamu di mana Marvin?" tanya Rindi yang tak kalah marahnya dengan sang suami.
"Maafkan kami, Pak Parlan, Bu Rindi. Tapi sungguh, kami saling mencintai. Apa salahnya kalau kami hidup bersama? Saya janji, saya akan menyayangi .... " kalimat Kinan terhenti, ketika Parlan menyela dengan cepat.
"Menyayangi saja nggak cukup, bodoh! Jelas kamu nggak sepadan dengan Atika. Pergi kalian berdua dari sini!" usir Parlan pada putranya itu.
"Pa," ujar Marvin yang lantas bangkit perlahan, dengan bantuan Kinanti, "beri Marvin kesempatan, biar Marvin menjelaskan semuanya. Tolong, jangan menghakimi dulu sebelum mendengar penjelasan Marvin, Pa."
Lirihnya suara Marvin, menggambarkan betapa laki-laki itu merendahkan dirinya. Tetapi sayang, semua itu tetap tidak akan meluluhkan kerasnya hati Parlan, maupun istrinya.
"Apa, apa yang mau kamu jelaskan? Semua sudah jelas, kamu menikahinya, Marvin! Jangan kamu kira Papa nggak mendengar kabar itu. Papa sudah mendengarnya. Nggak ada yang perlu kamu jelaskan. Yang jelas sekarang, Papa kecewa sama kamu! Pergi saja kamu dari sini!" hardik Parlan, seraya mendudukkan tubuh lelahnya pada sofa ruang tamu.
Parlan di gulung amarah yang dahsyat. Lelaki itu seolah lupa, bahwa selama ini Marvin adalah anaknya yang paling ia banggakan.
Napas lelaki itu naik turun, menggambarkan betapa Parlan kelelahan usai menghajar Marvin. Dada Parlan kembang kempis, disertai dengan wajah yang merah karena berusaha mengontrol amarahnya. Sungguh, ia tak sudi bila harus berbesan dengan Bayu. Lelaki miskin yang membuatnya malu.
"Ini tidak adil," lirih Rindi kemudian. Wnaktabitu menekan dadanya beberapa kali.
"Aku mencintai Kinan sejak dulu, Pa. Mama juga, mohon pengertiannya. Selama ini Marvin udah nurut dengan semua keinginan kalian. Marvin sudah mengorbankan kebahagiaan Marvin sendiri, demi menikahi Atika. Sekarang sudah saatnya, Marvin memikirkan perasaan Marvin. Marvin janji, akan membuat Kinanti pantas menjadi pasangan hidup Marvin ke depannya," jelas Marvin. Sorot matanya penuh dengan banyak harapan.
"Tapi Papa tetap tidak akan merestui kalian, camkan itu!" Parlan masih dengan egoisnya, tidak sudi menjadikan Kinanti sebagai menantu.
"Kali ini saja, Pa. Marvin mohon. Marvin tidak mau kalau nanti Marvin jauh lagi dari Kinan," jawab Marvin, tetap membantah keputusan Papanya.
"Tinggalkan Kinanti, kalau mau tetap jadi anak saya!" Parlan mulai bicara dengan lirih.
__ADS_1
Justru, lirihnya nada bicara Parlan, adalah sebuah petaka tersendiri bagi Marvin. Laki-laki itu tak bisa membayangkan, bagaimana marahnya Parlan. Marvin bahkan lebih suka di bentak, di hajar, di tendang hingga membabi buta, daripada di diamkan apalagi di ajak bicara dengan nada pelan oleh Parlan. Marahnya Parlan, justru lebih bahaya jika terlihat tenang.
Sebagai anak yang tumbuh di dalam pengasuhan Parlan, Marvin tahu betul bagaimana karakter lelaki itu. Parlan justru lebih mengerikan dalam diamnya, daripada amukannya.
"Sampai kapanpun, Papa tetap Ayah Marvin. Nggak ada yang bisa menentangnya, sampai dunia kiamat. Mama dan Papa tetap segalanya bagi Marvin," tegas Marvin.
Dua pria yang sama keras kepala itu, tetap berteguh pada keputusan mereka masing-masing. Tak ada yang mau mengalah, tak ada yang sudi menjadi pihak yang kalah. Ego dan harga diri mereka sama-sama setinggi langit.
"Kalau begitu tinggalkan Kinan, Marvin. Bukan hanya warisan yang nggak bisa kamu dapat, tapi juga tali hubungan kita sebagai orang tua dan anak, akan aku putuskan. Ingat, kamu saya didik dan saya besarkan, untuk menjadi orang terpandang dan mewarisi semua yang saya miliki. Jangan hanya karena bocah ingusan nggak berguna ini, kamu jadi anak durhaka!" tegas Parlan tanpa perasaan.
Kinan mendongak. Air mata yang sedari tadi di tahannya, tumpah sudah. Tajam kalimat Ayah mertuanya, sanggup mengoyak hatinya hingga tak terbentuk. Rasanya sungguh sangat menyiksa.
"Kinanti nggak pernah meminta mas Marvin untuk jadi anak durhaka, Pak Parlan," lirih Kinan serupa bisikan angin.
"Ceraikan istrimu dan kembali sama Atika, Marvin," kali ini suara Rindi terdengar.
"Marvin mencintai Kinan, Ma," bantah Marvin.
"Pergi dari sini, Marvin. Jangan anggap kami sebagai orang tuamu lagi!" usir Parlan.
Yang ada, genggaman tangan Marvin justru kian erat.
"Cukup, Pa. Kalau memang itu mau Marvin, biarkan mereka tetap tinggal disini. Hanya saja, Marvin nggak boleh tinggal di tempat lain, selain di rumah ini," putus Rindu secara tiba-tiba.
Parlan mengerutkan kening, saat mendapati istrinya tersenyum penuh kelicikan. Meski tak setuju, namun Parlan tak akan menentang istrinya kali ini. Pastilah ada rencana jahat yang tengah Rindi susun, dalam otak piciknya itu, untuk Kinanti.
__ADS_1
**