Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
14. Bayangan liar.


__ADS_3

Tak pernah ada orang tua yang menginginkan, anaknya berada pada situasi menyedihkan begini.


Tak pernah ada orang tua yang berharap, putrinya akan menikah dengan lelaki yang masih berstatus suami orang.


Tak pernah ada orang tua yang sudi, menikahkan putrinya secara diam-diam begini.


Tetapi Bayu dan Cici tak memiliki pilihan lain lagi, selain menikahkan Kinanti dan Marvin. Keduanya saling cinta, dan Marvin membuktikan ucapannya, jika Atika akan datang dan memberikan restunya. Oh bukan dengan raut sedih, melainkan ada raut bahagia yang begitu jelas tercetak pada wajah Atika.


Sulit dipercaya, bahkan istri pertama menikahkan suaminya dan istri keduanya. Semua Atika yang menyiapkan, dari busana pengantin, juga beberapa keperluan pesta lainnya. Meski bukan mewah, namun bisa dikatakan lebih dari cukup untuk ukuran pernikahan sederhana.


Bayu menatap putrinya dengan tatapan sendu, lain halnya dengan Cici yang menatap Kinan dengan perasaan nelangsa. Satu-satunya orang yang tak memberikan izin adalah Cici. Namun, Marvin bersikeras untuk meminta restu agar diperbolehkan meminang Kinanti.


Cici tak memiliki pilihan lain, sebab Kinan memaksa dan lebih memilih menerima Marvin. Gadis itu seolah lupa, bahwa dulu orang tua Marvin bahkan pernah menjatuhkan harga diri keluarga mereka.


Cinta memang sebuta itu. Bahkan cinta sanggup menyirnakan dendam yang dulu sempat tercipta. Cici tak memiliki pilihan lain selain merestui, dan mendoakan kebahagiaan untuk mereka.


Bayu segera pamit ke kamar, sebab pening di kelasnya tak tertahankan. Hingga lantas Kinan datang, dan duduk di depan Ibunya.


"Ibu harap kamu bahagia setelah ini, Nan. Penolakan kamu atas banyak laki-laki yang datang hendak meminang kamu, semoga kamu nggak menyesal sebab udah memilih Marvin. Ibu sayang padamu, tapi Ibu tidak ingin nantinya kamu menderita, kecewa atas pilihan kamu," Cici menasihati putrinya dengan penuh kesabaran.


Jika boleh jujur, Cici ingin marah pada Kinanti. Tetapi selama ini Kinan sudah telanjur sengsara karena cintanya. Cici tak mau semakin menambah kesulitan Kinan dalam meraih kebahagiaan.


"Terima kasih sudah mendoakan Kinan dengan tulus, Bu. Maaf jika ibu kurang suka dengan Marvin," jawab Kinanti tak enak hati.


"Panggil dia Mas, dia suamimu sekarang," ujar Cici menasihati.

__ADS_1


Kinan mengangguk paham, merasa bersyukur jika Ibunya masih mau menerima Marvin. Jika boleh kembali mengingat masa lalu, sedihnya luar biasa bagaimana perlakuan keluarga Marvin. Tetapi ini Marvin, lelaki dengan tulus yang datang dan sengaja mencari Kinan, hanya untuk meraih cintanya.


"Lihat istri Marvin, Ibu nggak habis pikir sama perempuan itu," ujar Cici pada Kinan, "dia nggak sedih sama sekali kalau suaminya menikah dengan perempuan lain."


"Dia memiliki cintanya sendiri, Bu. Kekasihnya sudah menunggu ia menjadi janda, dan mereka akan menikah. Itulah sebabnya dia menyuruh mas Marvin mencari Kinan dan menikahi Kinan," jawab Kinanti, seraya mengarahkan tatapannya ke arah Atika.


Atika asik mengunyah makanannya, seraya berbincang dengan Dimas. Keduanya mudah akrab, dan terlihat seperti kakak adik.


"Jadi, gimana nanti, Kinan? Setelah ini kamu akan tinggal disini dengan Marvin, atau kalian akan tinggal di rumah orang tua Marvin?" tanya Cici.


"Kinan belum tahu, Bu. Nanti Kinan akan tanyakan ke suami Kinan," jawab Kinan.


"Jika Ibu menyarankan, lebih baik kamu tinggal disini, atau tinggal di rumah kalian sendiri. Ibu kayak nggak rela kalau kamu tinggal di rumah mertua kamu. Bukan berburuk sangka, tapi dari awal mereka memang udah nggak suka sama keluarga kita. Ibu khawatir kamu diperlakukan nggak baik sama mereka," ujar Cici pelan, dan nadanya terdengar hati-hati.


Kinanti menunduk, merasa bahwa ucapan Ibunya ini ada benarnya juga, "Kinan akan berusaha meraih hati mereka agar mereka bisa menerima Kinanti, Bu. Jangan khawatir, Kinan pasti bisa. Doakan saja. Andaipun nanti Kinan dan mas Marvin tinggal di rumah orang tua mas Marvin, Kinan akan berusaha untuk membuat mereka menerima Kinan," ujar Kinan.


Baru saja Kinan hendak membuka mulutnya untuk menimpali ucapan Ibunya, Marvin datang dengan setelan kemeja putih, celana hitam dan peci hitam. Lelaki itu tampak gagah, apalagi sewaktu mengucap ijab Qabul bersama Bapak tadi.


"Nan, Ibu, Bapak kemana?" tanya Marvin yang sejak tadi mencari Bayu, sebab kehilangan jejak Ayah mertuanya itu.


"Ibu juga kurang tau, Vin. Mungkin ada di kamar. Tadi mengeluh pusing dan mu istirahat," jawab Cici kemudian.


"Apa Bapak memang sakit?" tanya Marvin pada Ibu mertuanya.


"Nggak apa-apa. Menjelang tua usianya Bapak, dia semakin sering pusing mendadak dan suka mengeluh, tapi ya nanti pasti sembuh-sembuh sendiri. Orangnya memang nggak boleh kecapekan dan nggak boleh banyak pikiran," jawab Cici.

__ADS_1


Marvin lantas duduk di sebelah Kinan, menatap Ibu mertuanya yang selalu ramah dan santun, tidak berbeda dengan Kinan.


"Saya ingin minta izin Bapak, untuk tinggal di rumah saya, nantinya," ungkap Marvin kemudian.


Cici tak segera menjawab. Kekhawatiran wanita itu sepertinya akan terjadi setelah ini.


"Apa nggak bisa tinggal disini saja sama Bapak dan Ibu?" tanya Cici kemudian, "atau kalian beli rumah sendiri. Bapak ada tabungan, dan mungkin bisa buat bantu-bantu biaya beli rumah."


Marvin tersenyum di tempatnya. Lelaki itu memahami akan keresahan hati Cici. Maklum saja, mungkin trauma akibat perlakuan buruk orang tua Marvin lima tahun lalu.


"Saya ada tabungan sendiri kalau hanya untuk beli rumah. Ibu jangan khawatir, Kinan nggak akan kekurangan apapun bersama saya," jawab Marvin.


Cici hanya tersenyum. Senyum yang terkesan di paksakan.


"Ya sudah, Ibu mau ke belakang dulu lihat Bapak," pamit Cici yang diangguki sepasang pengantin baru itu.


Kinan terdiam, begitu pula dengan Marvin. Hingga kemudian datanglah Atika, menatap sepasang pengantin baru yang saling diam-diaman.


"Kamu itu pengantin baru, Vin. Masa kamu biarin Kinan bengong sendirian begini?" tanya Atika.


Jujur saja, Tika tidak begitu mengenal Kinanti. Tetapi Tika mencoba untuk mengakrabkan diri, agar Kinan tetap merasa nyaman bersamanya. Berkat Kinan, Atika bisa lepas dari pernikahan ini. Hanya tinggal menunggu esok, Marvin akan menceraikan dirinya dan Tika bisa menikah dengan kekasihnya.


"Kamu kepo," jawab Marvin memutar bola matanya jengah.


"Sana gih, ke kamar. Udah malam. Nggak banyak juga tamu yang hadir. Disini aku biar sama adik Kinan yang bantu beres-beres sisa kursi," usir Tika kemudian, "jangan lupa lembut dikit, biar istrimu ketagihan," bisik Tika pada Marvin, seraya bangkit dan meninggalkan Marvin yang mendengus kesal.

__ADS_1


Tiba-tiba, pikiran Marvin liar, menjelajah dunia kenikmatan dengan bayangannya. Menatap Kinan dari samping, rasanya membuat Marvin membayangkan, bagaimana rasanya bercinta dengan wanita yang sudah lama ia cintai?


**


__ADS_2