Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
20. Ujian berat.


__ADS_3

Kinanti duduk di tepi ranjang besar milik Marvin. Kamar ini adalah kamar utama, dan ada satu kamar besar, namun tak seluas kamar utama, yakni kamar Parlan dan Rindi. Sejak dulu, Marvin memang ditempatkan di kamar utama, sejak lelaki itu berusia dua puluh tahun. Anak yang menjadi kebanggaan Rindi itu, sejak dulu selalu mendapat fasilitas istimewa dadi orang tuanya.


Kini, Kinanti tak berdaya, saat melihat suaminya terbaring dalam lelapnya, dalam kondisi terluka di banyak bagian. Marvin tertidur setelah ia masuk ke dalam kamar utama, dan semua orang berlalu entah kemana. Kinan seorang diri, membuka mata dalam ujian berat yang datang.


Rumah besar keluarga Bhaskara, tak juga membuat hati Kinan tenang. Justru Kinan merasa, rumah besar ini selayaknya neraka, yang membuat Kinanti Ingin pergi saja. Hanya cintanya pada Marvin, yang membuat Kinan bertahan hingga kini.


Tangis Kinan kian pecah. Tiba-tiba dirinya teringat dengan Ibunya, yang mungkin saat ini juga menangis merindukannya. Baru sehari semalam, Kinan sudah merasa rindu.


Apa aku sanggup menjalani hari ke depan, dengan orang tua mas Marvin yang nggak setuju?


Batin Kinanti.


Sudah dua jam dirinya ada di dalam kamar ini. Namun, semakin lama di dalam kamar, Kinan justru merasa semakin tidak betah. Suasana di dalam rumah Bhaskara masih terasa panas, Kinan seolah masih belum siap untuk keluar kamar, dan melakukan kegiatan apapun untuk saat ini. Selain lelah, Kinan juga sedang menyiapkan hati dan mentalnya.


Perlahan, Kinan bangkit berdiri, menyelimuti suaminya yang tampak mulai terlihat babak belur di bagian wajahnya. Beruntung sebelum tidur tadi, Marvin sempat mandi.


Langkah wanita itu tertuju pada balkon, dan mengitari seluruh isi kamar. Perabotan yang tampak mewah dan pastinya berharga fantastis, tampak mendominasi. Sebuah patung naga berwarna emas di pojok ruangan, dengan ukiran rumit di bagian pohon yang di lilitnya, membuat Kinan tampan kagum.


Bahkan foto pernikahan Marvin dan Atika, masih terpajang di dalam kamar utama. Kinan tersenyum kecut, saat ia mengingat masa itu. Pernikahan Marvin dan Atika, sudah di gelar dengan sangat mewah, sedang hatinya berdarah. Saat itu, Kinan sedang berada pada masa terpuruk. Kinanti ingat betul akan hal itu.


"Kamu juga nggak bahagia dengan pernikahan kamu sama mbak Atika, mas. Aku pikir, kamu sengaja menabur garam di atas lukaku. Aku pikir, kamu bahagia sangat kala itu, tapi ternyata aku salah. Aku benar-benar salah. Maafin aku sudah punya prasangka buruk ke kamu," gumam Kinanti, seraya mengusap wajah suaminya, di dalam foto atas meja.


Dengan detail, Kinanti memperhatikan. Wanita itu melihat dengan jelas, betapa wajah dua orang yang berada di dalam foto, tertekan. Andai waktu bisa di putar, dan Marvin mengatakan jika ia juga mencintai Kinan, pasti Kinan akan menculik Marvin, dan mereka akan mengukir sejarah kawin lari.

__ADS_1


Dalam diam, Kinan tersenyum seraya meneteskan air mata secara bersamaan.


"Nan, kamu kenapa?" tanya Marvin, yang rupanya menatapnya sambil rebahan dan memiringkan tubuhnya. Suara lelaki itu terdengar serak.


Kinanti refleks menoleh, menatap suaminya itu, dan menggelengkan kepala, "nggak apa-apa, Mas," jawabnya berdusta.


"Nanti kita bereskan semua barang-barang kenangan pernikahan saya dan Atika, jika kamu merasa nggak nyaman. Jangan khawatir, semua pasti akan ada diri kamu dalam semua foto di rumah ini," ungkap Marvin kemudian.


Marvin lantas bangkit, dan merasa sekujur tubuhnya terasa linu. Perjalanan panjang, di sertai dengan bekas tangan papanya, membuat Marvin merasakan patah tulang di semua bagian tubuhnya.


"Tapi, lebih baik jangan, Mas. Nanti, mama kamu marah ke aku," jawab Kinanti.


Tanpa kata, Marvin segera menghampiri Kinan dan memeluknya. Lelaki itu lantas membawa sang istri ke dalam hangatnya sebuah cinta.


"Jangan nangis. Kalau kamu merasa nggak betah, nggak kuat, jangan di tahan dan segera ngomong aku. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, Ibu nggak akan maafin aku. Aku sayang kamu, Nan, sangat sayang," kembali Marvin berkata, seraya memeluk Kinan.


"Aku juga sayang sama kamu, Mas. Apapun yang akan terjadi sama aku di sini, aku janji akan tetap selalu bertahan demi kamu, demi cinta kita," jawab Kinanti seraya meneteskan air matanya lagi.


Kaos putih yang Marvin kenakan, basah oleh air mata wanita itu. Tak ada yang bisa menukar kebahagiaan mereka setelah mereka bersama. Tetapi percayalah, ada banyak air mata yang akan tumpah, saat orang tua tak menghendaki mereka untuk bersama.


Gemerlap isi dunia sering kali menjadi tolak ukur kepantasan seseorang, untuk mendampingi hidup orang yang di cintainya. Wanita miskin dan pria kaya, kerap kali mengalami kontra yang tak wajar. Siapa yang tangguh melawan arusnya, akan dipastikan dapat menapaki bahagia. Itu sudah hukum alam.


"Aku cinta sama kamu, Nan," ungkap Marvin lagi. Lelaki itu lantas mengecup pipi Kinanti, dan menghadiahkan kecupan di bibir.

__ADS_1


"Ayo kita keluar kamar. Bersikap biasa saja, seolah nggak ada apa-apa. Ajak Mama dan Papa untuk bicara untuk mengambil hati mereka. Jangan sampai nanti mereka semakin nggak suka sama kamu," ajak Marvin pada istrinya.


Kinan mengangguk, meski hatinya yang berdarah tadi, masih belum sembuh.


Langkah keduanya menuju keluar kamar. Meski Marvin memaksakan tubuhnya yang letih luar biasa, namun senyum lelaki itu masih menawan di mata Kinanti.


Cinta Kinan memang sebuta itu.


"Den, apa Aden baik-baik saja?" tanya mbok Sri seraya menampakkan raut khawatir.


"Nggak apa-apa, mbok. Saya baik-baik saja. Mbok jangan khawatir," jawab Marvin.


"Anu, den. Non Dewi datang dengan suaminya. Ibu sedang menemui mereka. Dan ... non Dewi akan tinggal disini selama beberapa hari katanya," ungkap mbok Sri.


"Terus, apa masalahnya, Mbok?" tanya Marvin serius.


Sebelum menjawab, mbok Sri menatap Kinanti sekilas, nampak khawatir.


"Tadi mbok sempat dengar, Non Dewi bilang nggak suka sama non Kinanti. Mbok khawatir, Ibu dan non Dewi makin memusuhi Istri Aden," ungkap mbok Sri khawatir.


Marvin memijit keningnya yang terasa nyeri. Masalah kian datang bertubi-tubi. Ada banyak ujian yang mungkin akan mewarnai rumah tangga Kinanti dan Marvin, selama Dewi tinggal di rumah ini.


Sejak dulu, Dewi orang paling judes dan licik. Marvin kenal betul bagaimana adiknya yang satu itu.

__ADS_1


**


__ADS_2