
Ada kalanya, meja makan menjadi tempat untuk menyalurkan kehangatan dalam keluarga. Namun, hal ini tidak demikian bagi Kinanti yang merasakan aura mencekam dalam rumah mertuanya.
Jangan pernah bertanya bagaimana impian Kinan. Wanita itu bermimpi untuk diperlakukan dengan sangat baik oleh mertuanya, namun yang ia dapati justru adalah rasa takut. Tak disetujui sebagai menantu Bhaskara, membuat Kinanti nyaris gila.
Bertahannya Kinanti, sebab cinta yang ia miliki begitu besar untuk suaminya.
"Ayo, Nan," bisik Marvin yang menyadari bahwa Kinanti sangat gugup, serta takut.
"Mas Marvin, itu siapa?" tanya Dewi, yang pura-pura tak tahu apapun. Sejatinya, Dewi sudah tahu semuanya. Hanya saja, Dewi berusaha untuk menjadi pihak yang tidak tahu apa-apa.
"Kinanti, putrinya pak Bayu tetangga kita dulu," jawab Marvin, masih menjeda kalimatnya.
"Kok dia bisa ada disini? Mau ngapain?" tanya Dewi menaikkan sebelah alisnya.
"Dia istriku, Wi. Mas Marvin harap, kamu bisa menerimanya. Mulai sekarang, istriku adalah Kinan, tolong hargai Kinan di rumah ini, karena Mama sendiri yang memintaku untuk tetap tinggal disini dengan Kinan," ungkap Marvin kemudian.
Parlan dan Rindi sudah tak berselera untuk makan kali ini. Makan siang yang menjijikkan bagi sepasang suami istri itu, sebab ada Kinan yang tidak mereka harapkan kehadirannya.
"Makan siang cepat, Marvin. Papa nggak ada waktu untuk menunggu ungkapan kamu yang nggak perlu itu," ujar Bhaskara menatap tajam putranya.
"Ayo, Nan. Mulai sekarang, kamu makan di meja makan sama saya," ajak Marvin kemudian.
Namun, baru saja Kinanti duduk, Dewi sudah membanting pelan sendok dan pisau makannya. Ini adalah awal permulaan yang akan menjadi luka Kinan, saat tinggal di rumah ini.
"Maaf, Mas. Aku kehilangan selera makan kali ini. Mas Marvin makan aja berdua sama istri Mas Marvin. Dewi nggak terbiasa makan satu meja dengan wanita ini," kata Dewi, membuat hati Kinan tertusuk banyak duri.
__ADS_1
"Kenapa, Wi? Karena Kinan anak orang miskin? Sehina apa orang tua istriku bagi kamu?" tanya Marvin, dengan menatap adiknya yang sombong itu.
Dewi tak segera menjawab, melainkan menatap Kinanti yang menunduk dalam. Seperti kucing yang kehilangan nyalinya di depan srigala, Kinan tak sanggup bila harus menjadi musuh adik iparnya.
"Coba pandang dia sekali lagi, Mas. Jangan melihat hanya dari satu sudut pandang cinta. Dia bukanlah wanita yang pantas buat kamu. Penampilannya, pendidikannya, juga martabatnya sebagai perempuan. Harusnya otaknya di pakai dengan sempurna, bukan sekadar mau menikah sama kamu, hanya karena harta," jawab Dewi, Lina membuat kepala Kinan memanas.
"Jaga mulut kamu, Wi!" seru mar in dengan tajam.
"Aku bersumpah, Mas. Aku nggak akan nerima dia jadi iparku. Suruh pulang sana, kalau kamu masih menganggapku adik kamu. Ingat, kala kamu butuh banyak hal, hanya saudaramu yang selalu ada, bukan dia. Wanita nggak punya harga diri dan rela mengungkapkan rasa pada lelaki, itu bukan wanita yang baik-baik!" balas Dewi seraya mendorong kursi dan berbalik meninggalkan meja makan.
Baik Rindi maupun Parlan, suaminya, tak menyahut sama sekali. Keduanya lebih memilih untuk bungkam dan juga meninggalkan meja makan.
Sebelumnya, bahkan Rindi dan Parlan sudah berencana untuk membuat Marvin dan Kinanti tertekan. Keduanya hanya tidak ingin, jika Kinan merasa nyaman, dan berakhir wanita itu merasa besar kepala sebab Kinan merasa di terima dalam keluarga Bhaskara.
"Jangan banyak pikiran. Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Ini hanya perkara waktu saja. Saya akan pastikan Mama dan Papa akan benar-benar menerima kamu, Nan. Kamu sudah berjanji pada saya, kalau kamu akan berjuang seberat apapun konsekuensinya. Tolong, kita belum sehari di sini, kita coba lagi untuk bisa mengambil hati mereka," ujar marvin kemudian.
Tak ada pilihan lain bagi Kinan selain tersenyum dan menunduk. Wanita dengan sorot mata tertekan itu, benar-benar akan membersamai Marvin, apapun caranya.
"Kita makan siang berdua saja. Mubadzir kalau makanan yang mbok Sri masak, nggak di makan," sambung Marvin kemudian.
"Iya, Mas. Setelah ini aku janji, akan selalu bertahan di sisi kamu, apapun yang terjadi," janji Kinanti.
Keduanya lantas makan dalam diam, menikmati rasa di hati mereka yang hanya Tuhan yang tahu.
Kinan dan Marvin hanya tidak sadar, sepasang mata Dewi dan sepasang mata Ibunya itu, menatap tajam ke arahnya, dari balik punggung Putri Bayu itu.
__ADS_1
"Ini nggak bisa di biarkan, Ma. Jangan terlalu lama memelihara wanita seperti itu di rumah kita. Ayo kita usir saja dia dari sini," bisik Dewi lirih, tanpa melepaskan pandangannya pada Kinanti.
"Mas Marvin mu itu keras kepala, Dewi. Ya sama seperti Papamu. Mama nggak bisa berbuat banyak. Satu-satunya cara adalah, kita buat Kinan itu nggak betah ada di rumah ini. Hanya itu cara yang tepat. Mengusir Kinandari rumah ini secara terang-terangan, sama artinya dengan menabuh genderang perang dengan Marvin," Rindi menimpali.
Rindu tahu betul bagaimana dengan karakter putranya itu. Ia tak akan mungkin bisa melawan kerasnya ego Marvin. Lihat saja, bahkan Marvin sudah mulai menunjukkan taringnya, padahal dulu Marvin adalah putranya yang penurut.
"Lalu, gimana ini, Ma? Dewi nggak mau rumah ini tercemar virus macam Kinanti itu," Dewi berkata dengan serius. Suara wanita itu lirih, hingga membuat Kakaknya dan istrinya itu tak mendengarnya.
"Sabar. Mama akan pikirkan cara, untuk menyiksa anak itu biar nggak betah tinggal disini," rindi tersenyum picik. Dalam otaknya, Kinan tidak boleh bahagia bersama Marvin.
Sepasang Ibu dan anak itu lantas berlalu, meninggalkan ruang makan di mana Kinan dan Marvin berada.
"Bagaimana ini, Mas? Apa yang mesti aku lakukan biar Mama, Papa dan Dewi nggak memusuhi aku? Aku takut salah bertingkah," tanya Kinanti dengan serius kada suaminya itu.
"Jangan khawatir. Bersikap biasa saja dan jangan banyak ngomong. Saya akan ngawasin mereka, dan kamu jangan segan-segan untuk melaporkan semuanya ke saya, kalau sampai Mana dan Dewi macam-macam," jawab Marvin.
"Baik, Mas. Tapi aku minta sama kamu, ya, kamu harus percaya sama aku, kalau aku bukan orang jahat," pinta Kinanti kemudian.
"Tentu. Terima kasih kamu sudah bersedia menempuh segala konsekuensi yang bisa memberatkan kamu," ungkap Marvin kemudian.
Kinanti tersenyum, merasa bahagia meski ujian awal rumah tangganya, adalah restu keluarga suaminya. Wanita itu adalah wanita yang tangguh, dengan keras pendirian yang sekeras batu.
Tak peduli apapun yang terjadi, Kinan tetap bertahan mendampingi Marvin hingga keduanya menua bersama.
**
__ADS_1