Catatan Air Mata Berdarah

Catatan Air Mata Berdarah
24. Kecurigaan.


__ADS_3

Tubuh Kinanti terasa sangat lelah saat ini. Sedari pagi hingga siang menjelang sore, wanita itu terus melakukan banyak pekerjaan pembantu, dan tak di beri jeda istirahat sama sekali. Tak hanya itu, bahkan Kinanti juga dipaksa mencuci seluruh pakaian seisi rumah.


Di rumah sendiri, Kinan menggunakan mesin cuci dan sering kali ibu yang menggiling seluruh pakaian. Tetapi di rumah Bhaskara yang megah nan penuh kemewahan, ia bahkan melakukan semua pekerjaan rumah.


Rasanya Kinan ingin menangis, namun ia tak mungkin mengadukan semua perbuatan mertua dan iparnya, pada suaminya. Wanita itu hanya bisa menahan resah hatinya, hanya di dalam dada.


"Non, biar saya gantikan saja. Mending Non Kinan masuk kamar, biar mbok Sri yang kerjakan ini semua. Jangan sampai den Marvin pulang, dan tahu kalau Non Kinan diperlakukan kayak pembantu," mbok Sri berbisik lirih.


Meski sejujurnya mbok Sri tidak terlalu mengenal Kinan, juga tak begitu suka apalagi tertarik pada majikan mudanya itu, namun melihat Kinan diperlakukan demikian rasanya mbok Sri tak tega. Pekerjaan yang Kinan terima dari mertua dan iparnya, mungkin sanggup membunuh Kinan secara perlahan.


"Jangan, mbok. Kalau Mama dan Dewi tahu, bisa bahaya," jawab Kinan seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruang cuci dan setrika.


"Tapi non Kinan lelah. Nanti kalau ada Ibu dan non Dewi, biar mbok Sri yang bilang kalau ini maunya mbok Sri," ujar mbok Sri merayu.


Kinan hanya melempar senyum, dan memaklumi keinginan mbok Sri. Tentu wanita yang nyaris separuh baya itu tidak tega melihat dirinya kelelahan begini.


"Nggak apa-apa, mbok. Mungkin dengan perlahan begini, akan membuka pintu hati mertua Kinan. Mending mbok Sri kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Kinan akan lanjut nyetrika, ini tinggal sedikit," sahut Kinan seraya menunjuk baju dalam keranjang yang tinggal separuh.


"Ya sudah, banyakin minum biar nggak sakit pinggang, Non. Bibi kembali ke dapur," mbok Sri mengangguk, sebelum berlalu pergi meninggalkan Kinanti yang tengah merasa letih.


Di luar, Marvin baru saja sampai dengan membawa tas kerjanya. Lelaki itu sengaja pulang tanpa mengabari siapapun. Ia ingin tahu, bagaimana sikap semua orang yang banyak berubah terhadapnya.


Benar saja, tak ada Kinan yang ia dapati di dalam kamar. Yang ada hanyalah hening yang menguasai seisi kamar. Lelaki itu sudah memiliki firasat tak nyaman saat pagi menjelang siang tadi. Namun, semoga saja firasatnya kali ini salah. Hanya itu harapan Marvin.


"Di mana Kinan, Wi?" tanya Marvin pada Dewi yang kebetulan tengah melintas di depan kamar utama.

__ADS_1


"Aku nggak pernah mau tau dimana dan ngapain istri kamu itu," jawab Dewi yang lantas tetap melangkah pergi. Wanita itu tengah marah, dan juga enggan bila harus banyak bicara dengan sang Kakak.


"Kamu nggak ngapa-ngapain Kinan, kan?" tanya Marvin kemudian, memandang lebih curiga.


"Jangankan mau ngapa-ngapain, dia mau mati aja bukan urusanku!" tegas Dewi dengan berani.


Marvin tercengang.


Dulu, Dewi tak seperti ini padanya. Sekarang, entah mengapa Dewi begitu berani menantangnya secara terang-terangan.


"Apa yang membuat kamu begini sama saudara kamu, Wi? Rupanya, sifat sombong dan angkuh kamu ini berhasil membuat kamu lupa diri," ujar Marvin kemudian.


"Apa yang membuat Marvin berubah kayak gini, Mas? Jawab! Rupanya, cinta buta kamu ke Kinanti, berhasil membuat kamu durhaka sama Mama dan Papa. Kamu mungkin lupa, bukan Kinan yang menyusui kamu, mencuci popok kamu, menggendong kamu, bahkan membersihkan kotoran kamu. Hanya demi satu perempuan yang rendahan seperti dia, Kamu rela jadi durhaka sama orang tua sendiri. Aku nggak paham, kenapa Mama lebih memilih mengalah dan membiarkan kamu tinggal di rumah ini, sementara Mama sudah tentu sesak napas kalau harus menghirup udara yang sama dengan Kinan!" seru Dewi dengan berani.


"Apa-apaan ini?" tanya Rindi yang tiba-tiba muncul dari arah pintu kamarnya.


"Kamu mau menampar adik kamu, Vin? Sejak kapan kamu jadi kurang ajar begini?" tanya Rindi kemudian.


Wanita yang telah berusia lebih dari separuh abad itu, melangkah menghampiri putra dan putrinya yang tengah berseteru.


"Mulutnya lebih tajam dari jarum, Ma. Dia tidak kurang didikan, tapi mulutnya seolah dengan lancar merendahkan orang lain, yang bahkan lebih baik dari dia," kata Marvin dengan suara dingin.


Netra putra sulung Parlan itu lantas, tanpa sengaja menangkap sosok sang istri yang tengah berdiri tegang di anak tangga terakhir. Mata wanita itu sudah memanas dan berkaca-kaca.


"Silahkan bela terus dia, Mas. Jangan harap nanti kamu mendapatkan ridho Ibu kamu. Kamu cerdas, kamu sekolah tinggi, kamu juga nggak kurang didikan. Tetapi sayangnya, hari ini kamu menunjukkan kebodohan yang hakiki hanya karena cinta buta. Dasar bodoh!" umpat Dewi sebelum berlalu pergi.

__ADS_1


Rindi hanya menatap datar keduanya, dan tak berkata apapun. Wanita itu lebih memilih bungkam. Otak liciknya sudah menyusun banyak rencana, untuk membuat Kinan tidak betah di rumah. Hanya saja, andai nanti setelah ini Marvin akan pergi dari rumah hanya karena membela Kinanti, Rindi bersumpah akan menghancurkan keluarganya Bayu, bagaiman pun caranya.


Selepas rindu pergi, Marvin segera menghampiri Kinan dan memeluk istrinya itu. Bahu Kinan sudah bergetar dan syok di tempatnya. Hanya sebuah pelukan dan usapan lembut pada bahu wanita itu, yang Marvin berikan untuk menenangkan.


"Yang sabar, Nan. Apapun yang di katakan oleh mereka, jangan diambil hati. Aku sayang sama kamu. Tolong jangan goyah sedikitpun dari keputusan kita," ujar Marvin. Lelaki itu cemas, Kinan akan pergi dari hidupnya. Cintanya pada Kinanti, Marvin tak ingin jika ia kehilangan Kinanti untuk yang ke dua kalinya.


"Gara-gara aku, kamu jadi durhaka, Mas. Apa sebaiknya kita pisah saja? Atau aku pulang saja dan kamu bisa nengok aku beberapa bulan sekali?" tanya Kinanti.


"Jangan berpikiran yang macam-macam," sahut Marvin, melerai tubuhnya dari sang istri. Dan sungguh, Marvin baru sadar jika Kinanti terlihat lebih pucat.


"Nan, kamu sakit?" tanya Marvin.


"Enggak, Mas," Kinan menggelengkan kepalanya.


"Tapi kamu pucat," ujar Marvin yang tak percaya.


"Mungkin hanya syok biasa," jawab Kinanti seraya menghapus air matanya. Ia tak mau jika marvin tahu, jika ia telah di perbudak oleh ipar dan mertuanya, dengan dasar ia ingin mengambil hati mertuanya.


"Ya sudah, ayo ke kamar. Kamu perlu istirahat sepertinya," sahut Marvin kemudian, yang memiliki sebuah kecurigaan.


Sepertinya, ada yang tidak beres.


Batin Marvin.


**

__ADS_1


__ADS_2