
Glen melirik ponselnya yang tidak lagi berdering. Sebab tadi Shara terus menghubunginya tiada henti. Membuat ponsel Glen hampir kehabisan baterai.
Sekarang laki-laki itu tinggal memikirkan cara untuk mendapatkan hati Emely. Malam ini ia berencana memberi kejutan makan malam romantis di sebuah restoran mewah.
"Halo Vivian, bisakah kamu memesan sebuah ruangan privat di restoran malam ini? Aku akan makan malam dengan istriku," pintanya kepada wanita yang merupakan sekretarisnya.
"Tentu saja, Tuan. Saya akan segera melakukan reservasi. Apa ada yang lain?"
Glen terdiam beberapa saat dan memikirkan sesuatu. Kemudian menyeringai penuh makna.
"Tidak ada. Aku hanya butuh ruangan privat untuk makan malam."
"Baik, Tuan."
*
*
*
Di sisi lain, Amanda mengemudi dalam kecepatan sedang sore itu. Sebenarnya ia agak malas pulang ke rumah keluarga Golden dan bertemu dengan orang-orang jahat. Dia bertahan hanya demi mengumpulkan bukti dan memberi hukuman setimpal kepada orang-orang yang telah membuat hidup Emely menderita.
Baru akan membelokkan mobil ke kompleks perumahan elit itu, ponsel Amanda sudah berdering menandai adanya panggilan masuk. Wanita itu melirik ponsel di mana tertera nama Glen pada layar.
"Mau apa lagi si otak mesum itu?" gerutu Amanda.
Dia menepikan mobil untuk bisa menjawab panggilan Glen. Meskipun rasanya sangat malas untuk bertemu suami adiknya itu.
"Iya, Glen," sapa Amanda setelah panggilan terhubung.
"Hai Sayang, kamu di mana sekarang?"
Ingin rasanya Amanda mencakar wajah Glen dengan kukunya yang tajam dan terawat, lalu mencuci mulut laki-laki itu dengan cairan pembersih kamar mandi. Panggilan sayang itu membuatnya merinding sekaligus geli.
"Aku di jalan mau pulang ke rumah. Ada apa?"
"Apa kamu punya waktu malam ini?" tanya Glen.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Aku ada kejutan untukmu. Bisa kah kamu meluangkan waktu untukku malam ini?"
Kerutan tipis terukir di dahi mulus Amanda. Dia sedang menebak kejutan ada yang sedang dipersiapkan Glen untuknya.
"Sebenarnya aku sedang lelah dan ingin istirahat. Memang kamu ada kejutan apa?"
"Kalau aku beritahu namanya bukan kejutan lagi. Aku akan mengirim sopir untuk menjemputmu malam ini. Oh ya, berdandan lah yang cantik."
Tanpa menunggu jawaban, Glen memutus panggilan. Amanda meletakkan kembali ponsel ke dashboard mobil. Kemudian menghela napas panjang.
"Pantas saja Shara bertekuk lutut di hadapan si me sum itu. Dia bermulut manis dan sok romantis."
*
*
*
Wanita itu tengah berbicara dengan Gordon di telepon. Ponsel ia letakkan di meja setelah mengaktifkan loudspeaker. Sementara sebelah tangannya memijat punggung leher yang terasa pegal.
"Semua kejadian ini benar-benar di luar rencana. Seharusnya si buruk rupa Emely yang menggunakan mobil itu dan kecelakaan. Tapi kenapa malah Shara yang terkena imbasnya. Dasar wanita sialan," gerutu wanita paruh baya itu.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Nyonya? Apa perlu saya singkirkan Emely sekarang juga?" balas Gordon. Suara nya terdengar sangat jelas.
"Tidak usah terburu-buru, Gordon, Shara masih di rumah sakit. Lagi pula kita harus berhati-hati. Emely itu hanya pura-pura polos tapi sebenarnya dia sangat licik. Kita akan menyingkirkan nya seperti cara kita melenyapkan Gabriel Golden."
"Ya, tentu saja, Nyonya. Kalau begitu Anda tinggal memberi saya perintah untuk melenyapkan wanita itu dan semua akan beres."
"Baiklah. Aku ingatkan jangan sampai gagal. Aku sudah tidak tahan dengan keberadaan Emely di rumah ini. Aku berharap dia segera menyusul ayah angkatnya itu ke alam baka."
Wanita itu menutup panggilan dan meletakkan kembali ponsel ke meja. Ia melirik arah jam yang melekat pada dinding ruangan. Sebentar lagi ia harus ke rumah sakit untuk menemani Shara, sebab beberapa menit lalu, pelayan yang menjaga Shara memberitahu jika putrinya itu terus menangis dan sulit untuk ditenangkan.
"Kenapa bukan Glen saja yang menemani Shara?" Ia duduk sebentar untuk memijat kepala.
Baru saja akan berdiri, Ibu Liana sudah terlonjak saat mendapati Amanda ternyata berdiri di belakang kursi yang didudukinya. Wajah wanita itu seketika memucat dalam hitungan detik. Ia sedang menebak apakah wanita yang dipikirnya adalah Emely itu mendengar pembicaraannya dengan Gordon atau tidak. Terlebih, tadi ia mengaktifkan loudspeaker ponsel.
__ADS_1
"Kamu? Sejak kapan kamu di sini?" tanyanya sedikit gugup.
Amanda memasang senyum manis, ponsel di genggamannya ia sembunyikan di balik punggung.
"Aku baru saja tiba dan tidak sengaja melihat Ibu rebahan di sini. Aku hanya ingin menyapa."
Ibu Liana bernapas lega. Sepertinya anak tirinya itu tak mendengar pembicaraannya dengan Gordon. Mereka semua bisa dikirim ke penjara jika sampai perbuatan mereka ketahuan.
"Oh ya, Bu. Bagaimana keadaan Shara? Apa Ibu tidak ke rumah sakit untuk menjaganya?"
"Untuk apa kamu repot-repot menanyakan shara? Bukankah kamu yang menyebabkan Shara kecelakaan? Seharusnya kamu senang, kan?" Ibu Liana mulai tersulut amarah.
"Ya ampun, Ibu. Kenapa Ibu mengira aku yang menyebabkan shara kecelakaan, sedangkan aku tidak bersamanya saat dia kecelakaan?" Amanda memang wajah prihatin dan sedih, tetapi dalam hati tertawa puas.
"Tentu saja kamu lah yang menyebabkan dia sampai kecelakaan dan terluka. Karena kamu menggunakan mobilnya dan dia terpaksa harus menggunakan mobilmu."
"Lalu apa salahku dalam hal ini?" Sepasang mata Amanda melelehkan air mata. Sedangkan Ibu Liana tampak semakin murka dengan amarah yang meledak-ledak.
"Karena mobilmu itu sebenarnya sudah rusak dan remnya tidak berfungsi. Seharusnya kamu yang ada di sana dan mengalami kecelakaan itu, bukan putriku!"
Menyembunyikan seringai di bibirnya, Amanda lantas mengusap dada dan menunjukkan ekspresi terkejut. Hey makhluk Bumi, beri dia penghargaan tertinggi untuk julukan ratu drama.
"Bagaimana Ibu tahu kalau rem mobilku tidak berfungsi?"
Mendengar pertanyaan itu, tubuh Ibu Liana tersentak seketika. Jantungnya berpacu cepat. Mendadak dadanya terasa sesak. Mulutnya baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya. Apa lagi sekarang Amanda tengah menatap nya curiga.
Membuat Ibu Liana tak kuasa menyembunyikan sikap gugupnya. "Maksudku, Shara yang memberitahu kalau rem mobilmu tidak berfungsi."
"Lalu kenapa Ibu berkata seharusnya aku yang di sana? Apa Ibu ingin agar aku yang kecelakaan, begitu?"
Lagi, wanita paruh baya itu terjebak dalam ucapannya sendiri. Dia menutup bibirnya dengan jari. Emely yang sekarang benar-benar berubah dan tidak seperti yang dulu.
Amanda pun mendecakkan lidah. "Seharusnya Ibu bersyukur karena Shara tidak hanyut di sungai dan menghilang selama 10 hari seperti yang kualami."
Setelahnya, Amanda beranjak menuju lantai atas dan kembali ke kamar. Meninggalkan Ibu Liana yang masih mematung di tempat.
****
__ADS_1