Catatan Kelam Gadis Malang

Catatan Kelam Gadis Malang
Amanda Menghilang


__ADS_3

Zack menarik napas dalam-dalam demi mengurai perasaan gugup yang menguasai dirinya. Sejak tadi jantungnya berdetak tidak karuan, hingga rasanya mau meledak. Keringat pun enggan berhenti mengucur di kening, yang membuatnya harus menghabiskan sekotak tissue di meja. 


"Aku rasa aku memiliki kelainan kelenjar keringat!" 


Padahal yang membuatnya mengeluarkan keringat berlebih adalah perasaan gugup. Zack bahkan sudah beberapa kali melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam ia menunggu Amanda, tetapi pujaan hatinya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. 


Zack mencoba mengalihkan perhatian dengan menatap sebuah cincin pemberian ibunya. Malam ini ia akan meminang Amanda dengan cincin indah itu. 


"Aku mencintaimu, Amanda." 


Laki-laki itu mengulas senyum. Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa jika Amanda menerima cintanya, akan ia tinggalkan dunia hitam yang selama ini dijalaninya dan hidup normal bersama Amanda, wanita yang sudah merebut hatinya tanpa menyisakan ruang sedikit pun. 


getaran ponsel yang terasa di saku jas membuyarkan lamunan laki-laki itu. 


"Mauren?" Kerutan terukir di kedua alis Zack melihat nama yang tertera pada ponsel. Tanpa pikir panjang, Zack menggeser simbol hijau, agar terhubung dengan sopirnya itu. 


"Tuan!" Terdengar suara Mauren yang seperti sedang panik. 


"Ada apa? Kenapa kalian lama sekali?" 


Keheningan tercipta selama beberapa saat. Hanya terdengar hela napas Mauren yang berat di ujung telepon. 


"Tuan, tolong cepat, Nona Amanda menghilang!" lirih Mauren. 


Laporan Mauren layaknya sambaran petir bagi Zack. Dia langsung berdiri meninggalkan tempat duduknya. 

__ADS_1


"Apa maksudmu Amanda menghilang?" teriak lelaki itu seolah tak sabar. 


"Saya baru saja tiba di salon tempat Nona Amanda meminta dijemput. Tapi, karyawan salon bilang Nona Amanda sudah dijemput seseorang sepuluh menit lalu." 


Untuk beberapa saat, Zack merasa kewarasannya terbang entah ke mana. Pikiran buruk sudah membayangi hatinya. Serang kecurigaannya hanya tertuju kepada satu orang. 


Shara .... 


"Ke mana saja orang-orang yang kuperintahkan untuk mengawasi Amanda?" teriak Zack frustrasi. 


"Mereka tidak melihat Nona Amanda keluar, Tuan. Karyawan salon bilang, orang yang menjemput Nona Amanda meminta keluar lewat pintu belakang." 


Tak dapat menguasai Amarah, Zack mencengkram ponsel di tangannya hingga layar retak. Beruntung ponsel tersebut masih dapat digunakan. 


"Cepat periksa semua CCTV yang ada di salon dan sekitarnya. Temukan Amanda atau kalian semua mati di tanganku!" 


Sambungan terputus. Zack merasa akan gila sekarang. Tetapi, ia mencoba untuk berpikir tenang dan tidak gegabah. Salah bergerak sedikit saja Amanda pasti akan menjadi korban. 


*


*



Amanda membuka mata dengan terkejut saat merasakan semburan air yang tiba-tiba menghantam tubuhnya. Perlahan wanita itu memindai seluruh ruangan. Ia tengah berada di sebuah ruangan asing dalam keadaan tubuh terbelenggu tali. 

__ADS_1


"Apa kabar Amanda? Apa kamu masih mengingatku?" 


Amanda menatap marah pemilik suara yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Meskipun menggunakan masker, tetapi Amanda masih mampu mengenali siapa pemilik suara itu. 


Sekuat tenaga Amanda menggeliat demi melepaskan diri. Bukan hanya tubuhnya yang terlilit tali, mulutnya pun ditutup dengan menggunakan kain. 


"Kenapa? Kamu mau menyerangku seperti yang selama ini kamu lakukan?" Shara tertawa, lalu melepas masker yang menutupi wajahnya. "Lebih baik simpan dulu tenagamu, karena kita akan bersenang-senang." 


Shara menggenggam botol minuman di tangannya. Kemudian ia hantamkan pada dinding hingga botol kaca itu pecah menyisakan setengahnya. dengan ujung yang runcing. 


"Kamu ingat, wajahku jadi cacat seperti ini karena tergores pecahan kaca. Kamu tahu rasanya? Perih sekali." 


Wanita itu berjongkok di depan Amanda. Lalu melepas kain yang ia gunakan untuk membekap mulutnya. 


"Lepaskan aku, Shara? Apa kamu sudah gila?" 


Shara hanya merespon ucapan Amanda dengan tawa sinis. Sebelah tangannya langsung menjambak rambut Amanda sekuat tenaga, hingga Amanda harus meringis saat merasakan rambutnya seperti hendak tercabut dari kulit kepala. 


"Bagaimana rasanya? Sakit, kan?" Wanita gila itu menerbitkan smirk. 


"Apa yang kamu inginkan? Apa kamu pikir dengan membunuhku kamu akan lolos dari hukum?" ucap Amanda sambil menahan rasa sakit. 


"Apa yang aku inginkan? LIhat ujung pecahan kaca ini. Pasti sakit sekali kalau sampai menggores wajahmu. Kamu harus mencobanya." 


Sepasang mata Amanda terpejam saat Shara mengarahkan ujung runcing pecahan botol minuman itu ke wajahnya. 

__ADS_1


...****...


__ADS_2