Catatan Kelam Gadis Malang

Catatan Kelam Gadis Malang
Di Mana Zack?


__ADS_3

Amanda membuka mata secara perlahan. Dalam kesadaran yang belum utuh, matanya berotasi ke sekitar. Dahinya berkerut meneliti sebuah ruangan asing tempatnya sedang terbaring.


"Aku di mana?"


Sebelah tangannya terangkat demi memijat kepala yang masih terasa berdenyut. Konsentrasinya buyar, Amanda bahkan tak mampu mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Wanita itu kembali meneliti ruangan. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Ia merasa pernah berada di ruangan ini sebelumnya. Ruangan ini adalah salah satu kamar di klinik Zack. Tempatnya pernah merawat Emely saat mengalami koma selama beberapa bulan.


"Zack!"


Nama itu yang pertama kali terlintas dalam ingatan Amanda. Tubuhnya yang masih terasa lemah ia paksa untuk bangkit. Jarum infus yang menancap di pergelangan tangan kiri pun ia tarik paksa hingga tercabut. Amanda harus meringis saat merasakan denyutan luar biasa, sebab permukaan kulit bekas jarum mengeluarkan cairan merah.


Namun, rasa sakit itu seakan tak berarti. Hatinya dipenuhi tanda tanya akan keadaan Zack. Rasa sakit itu kian nyata. Di depan matanya sendiri, ia menyaksikan pemandangan mengerikan saat mobil Zack terbakar dan meledak di dasar jurang.


"Anda sudah sadar, Nona?"


Ketika hendak menyibak selimut untuk turun dari tempat tidur, sapaan itu terdengar. Amanda melirik ke arah pintu yang baru saja terbuka. Di sana ada Richi yang masuk dengan mendorong kursi roda yang diduduki Emely.


"Amanda, kamu baik-baik saja?" Mata Emely berkaca-kaca menatap saudara kembarnya.

__ADS_1


Richi mendorong kursi roda mendekat ke tempat tidur. Emely langsung memeluk saudara kembarnya dalam tangis. Seluruh rasa khawatir yang sempat memenuhi hatinya perlahan menghilang.


"Aku baik-baik saja, Emely. Jangan khawatir." Amanda membalas pelukan saudaranya.


"Aku takut sekali saat Richi memberitahu bahwa Syara menculikmu. Dia wanita yang sangat jahat. Tapi syukurlah dia sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya."


"Memangnya Shara kenapa?" Perlahan Amanda melepas pelukan, lalu menatap Richi dan Emely penuh tanya.


"Shara dan Glen jatuh ke jurang. Mereka tewas."


Amanda hampir tak percaya mendengar jawaban itu. Tetapi, ia tak begitu peduli. Yang ada di pikirannya sekarang hanya Zack.


"Lalu bagaimana Zack? Dia tidak apa-apa, kan? Dia di mana sekarang! Bawa aku ke tempat Zack, Richi."


"Aku bertanya, bagaimana keadaan Zack!" Amanda membentak tanpa sadar. Meskipun suaranya terdengar masih sedikit lemah.


"Maafkan saya, Nona."


Amanda merasakan seluruh tubuhnya lemas. Cairan bening yang sejak tadi tertahan di matanya lolos juga. Mengalir dengan deras di pipi.

__ADS_1


"Jawab aku, Richi! Zack pasti tidak apa-apa, kan?"


Tak ada jawaban. Richi hanya diam, sementara Emely menyeka air mata. Melihat sikap kedua orang itu, Amanda sudah yakin bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap Zack. Mobilnya terjun bebas ke jurang dan meledak. Untuk selamat dari kejadian nahas itu adalah sesuatu yang mustahil.


Amanda menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Menyesali kebodohannya sendiri, mengapa tak ia ungkapkan perasaannya terhadap Zack sejak lama, sejak mereka masih berteman.


"Kenapa kamu biarkan dia melakukan semua ini untukku, Richi? Seharusnya kamu mencegahnya!" tangisan pilu Amanda menggema di ruangan itu.


Emely dan Richi hanya mampu membujuknya. Mengingat kondisi Amanda sendiri masih sangat lemah.


"Seharusnya aku yang ada di sana, bukan Zack! Kenapa dia sebodoh ini!"


Amanda masih histeris kala merasakan tubuhnya tertarik kuat. Dengan tenaga yang masih tersisa ia memberontak, memukuli dada bidang tempatnya bersandar.


"Lepaskan aku! Lepaskan!"


Sekali lagi, ia hujamkan kepalan tinjunya bertubi-tubi.


"Apa kamu tidak merasa berdosa memukuli orang yang sedang terluka?"

__ADS_1


Amanda tersentak. Detik itu juga ia merasakan seluruh tubuhnya meremang. Suara yang berhembus ke telinga terasa hangat dan familiar. Perlahan kepalanya mendongak demi menatap pemilik wajah yang tengah memeluknya.


...*****...


__ADS_2