Catatan Kelam Gadis Malang

Catatan Kelam Gadis Malang
Bagaimana Bisa Melamun Separah Ini?


__ADS_3

Zack menjadi sangat murka setelah mengetahui rencana licik Glen untuk memiliki Amanda. Demi apapun, tidak akan ia biarkan sang pemilik hatinya dimiliki orang lain. Akan ia lenyapkan siapapun yang berani mendekati Amanda, meskipun harus melalui cara terkejam. Tak peduli siapapun itu. 


Tanpa sepengetahuan Amanda, Zack menyadap telepon semua orang yang tinggal di rumah keluarga Golden, termasuk Glen. Selain itu, diam-diam ia juga menyambungkan alat perekam yang telah dipasang Amanda ke perangkat komputer miliknya. Sehingga Zack mengetahui apapun yang terjadi di rumah itu sampai ke bagian terkecil sekalipun. 


Ia juga mengetahui keinginan Shara untuk melenyapkan Amanda, sehingga Zack bergerak cepat memanipulasi keadaan. Hal pertama yang dia lakukan adalah menyusup ke rumah itu dan memberikan obat bius kepada Amanda dan Ibu Liana. Lalu menculik Amanda dan membawanya pergi dari rumah itu tanpa disadari oleh siapapun. Zack juga memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan Ibu Liana ke kamar Amanda. Sehingga Shara mengira yang tertidur adalah Amanda, padahal yang sebenarnya adalah ibunya sendiri. 


Sebelumnya, Zack juga telah melaporkan Shara dan Glen kepada pihak kepolisian dengan berbekal bukti-bukti yang dikumpulkan Amanda. Ditambah lagi dengan bukti yang ia kumpulkan sendiri, sehingga polisi dapat bekerja sama dan membekuk Shara dan Glen dengan cepat. 


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Zack yang masih betah memeluk Amanda. Ia mencium kening, lalu menyibak selimut dan bangkit dari tempat tidur. 


"Ada apa?" tanyanya, sesaat setelah membuka pintu. Dia hanya menyisakan celah untuk tubuhnya, sebab tidak rela jika Richi sampai melihat Amanda yang sedang tertidur.


Sekedar informasi, Amanda sangat cantik saat tertidur menurut Zack. Dan laki-laki mana pun pasti akan jatuh cinta.


"Shara dan Glen sudah tertangkap, Tuan. Sekarang mereka sudah menjalani pemeriksaan di kantor polisi." 


"Baguslah." Zack menutup pintu kamar dan memilih duduk di sofa ruang televisi, agar dapat leluasa berbicara dengan Richi tanpa mengganggu istirahat Amanda.  


Sementara Richi mengikuti tuannya dan duduk saling berhadapan. Kemudian menuang minuman dan ke dalam gelas yang sudah tersedia di sana. 


"Bagaimana dengan wanita tua itu?" Zack meneguk minuman yang tadi dituang oleh Richi. 


"Dia tewas di tempat dengan puluhan luka tusuk. Sementara putrinya mengalami depresi. Di kantor polisi Shara terus menangis dan berteriak," jawab Richi.

__ADS_1


"Itu akibat kesalahannya sendiri." Zack meringis. Bahkan tidak ingin membayangkan jika tadi terlambat sedikit saja, mungkin ia akan kehilangan Amanda untuk selama-lamanya. "Lalu bagaimana dengan pecundang itu?" 


"Dia terus menyangkal dan mengatakan dirinya hanya korban rencana Shara dan ibunya. Sebelumnya dia juga berusaha melarikan diri, tapi polisi berhasil menangkapnya." 


Zack mengulas senyum tipis di bibirnya. "Dia pikir bisa lolos begitu saja. Biarkan saja dia mendekam di penjara dalam waktu yang lama." 


"Sepertinya, Tuan."


*


*


*


"Aku di mana?" Padangan Amanda meneliti ruangan itu. Pikiran buruk sempat terlintas di benaknya. Namun, seketika bernapas lega setelah mendapati kacamata milik Zack di meja tepat di sisi ranjang.  


Setelah melirik taman kecil yang terlihat dari jendela kamar, ia baru sadar sedang berada di rumah pribadi dokter itu.


"Ini kan rumah Zack tempatnya menyembunyikan Emely. Bagaimana aku bisa di sini? Aku ingat semalam tidur di kamar Emely." 


Dalam keadaan bingung, penciuman Amanda menangkap aroma mentega yang dipanaskan. Berikut aroma roti yang membuat perutnya keroncongan. Wanita itu langsung bergerak turun dari tempat tidur dan berjalan mengikuti sumber aroma yang memanjakan penciumannya. 


Begitu tiba di dapur, sosok punggung kokoh yang sedang berdiri di dapur. Hanya melihat potongan rambut dan bentuk tubuhnya saja, Amanda sudah dapat mengenali.

__ADS_1


"Zack?" panggil Amanda.


"Selamat pagi, Amanda." Menoleh sekilas, Zack tersenyum ramah. Kemudian melanjutkan membuat roti panggang yang menjadi kesukaan Amanda. 


Wanita itu pun mendekat dan berdiri tepat di samping Zack dan menatap penuh tanya. "Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di rumahmu? Bukankah semalam aku tidur di kamar Emely?"


"Sstt!" Zack meletakkan jari telunjuk di depan bibir Amanda. Membuat wanita itu terdiam di tempat. 


"Jangan banyak tanya, aku bukan google yang serba tahu."


Tanpa kata, Zack membungkukkan kepala dan mengikis jarak. Sepasang matanya terpejam ketika berhasil menyatukan bibir mereka. Rasanya begitu hangat dan lembut. Zack merasa berada di dimensi lain dan hanya berdua dengan Amanda. 


"Hey, Zack! Kamu belum menjawab pertanyaanku!" pekik Amanda sambil mengguncang lengan. 


Detik itu juga, Zack tersadar dari lamunan. Kehangatan dan kelembutan tadi berganti menjadi rasa panas yang berpusat di tangan. Baru sadar bahwa ternyata kedua telapak tangannya menyentuh alat pemanggang roti yang panasnya menyerupai air mendidih.


"Awh panas sekali." Dia mengibaskan tangan berulang-ulang.


"Ya ampun. Bagaimana aku bisa melamun mencium Amanda? Aku pasti sudah gila."


...****...


 

__ADS_1


__ADS_2