
Glen mundur beberapa langkah saat dua pria berbadan besar melangkah masuk. Bola mata nya meneliti mereka dengan saksama. Glen dapat melihat bahwa tidak satu orang pun dari mereka yang membawa senjata tajam. Setidaknya ia tidak perlu khawatir akan terluka, atau bahkan lebih buruk nya agi terbunuh.
"Sebenar nya siapa kalian?" pekik laki-laki itu. Dia melirik ke arah pintu di mana istrinya hendak dibawa pergi oleh seorang pria asing. "Hey, lepaskan istriku! Mau dibawa ke mana dia?"
Baru saja Glen akan melangkah, dua pengawal sudah berdiri menghalangi dan mendorong dadanya, membuat Glen refleks mundur. Ia bergidik ngeri, sebab dua orang itu terlihat cukup menyeramkan dari segi fisik.
Jika pun Glen melawan, sudah dipastikan diri nya akan kalah dalam dua atau tiga kali pukul.
"Ayo, kita bicara baik-baik dulu, aku yakin kalian sudah salah orang. Aku adalah Glen Wayne. Aku dan juga istriku sedang makan malam di sini."
Namun, penjelasan Glen tak lantas dihiraukan oleh mereka. Malah kini pria berjas tadi sudah membawa pergi istrinya. Tetapi, Glen tak dapat berbuat apa-apa. Karena dirinya pun sedang dalam bahaya.
"Ayo, kita habisi dia!" Salah satu pria memberi kode kepada temannya.
Glen tersentak. Otak nya bersusah payah memikirkan cara untuk terhindar dari keadaan ini.
"Hey, kalian tidak bisa main hakim sendiri seperti ini. Aku bisa saja melaporkan kalian ke polisi!"
Jika Glen pikir mengancam dapat menyelamatkan nya, maka salah besar. Karena kedua orang tersebut malah menyeringai dengan menyeramkan. Glen bertanya-tanya dalam hati siapakah orang-orang misterius ini dan mengapa membawa pergi Emely.
"Melapor saja sebanyak yang kamu mau!"
Tak ada yang dapat dilakukan Glen sekarang. Malam itu, ia harus takluk dan merasakan sakit yang luar biasa pada tubuh nya, karena dua pria asing itu menghajar nya tanpa ampun. Gerakan cepat mereka membuat Glen tak mampu untuk sekedar membalas atau menghindar, sehingga harus merelakan tubuhnya untuk menjadi samsak hidup.
"Tolong, aku menyerah! Jangan pukul lagi!" ucapnya memohon. Tubuh nya terkapar tak berdaya dengan lelehan cairan merah di sekitar hidung dan mulut. Juga wajah nya yang tampak lebam di beberapa bagian.
"Dengar baik-baik Glen Wayne. Kalau berani macam-macam dengan Nona kami lagi, maka kamu akan mendapatkan yang lebih buruk dari ini!"
Glen tak sanggup lagi menjawab. Seluruh tenaga nya terasa tercabut dari tubuh nya. Detik itu juga, semua nya terasa gelap dalam penglihatan, hingga akhir nya dia kehilangan kesadaran.
"Lihat dia, baru dihajar sedikit sudah terkapar. Dasar lemah!" ucap salah satu pria, yang kemudian mendekat dan memeriksa denyut nadi untuk memastikan apakah Glen masih hidup atau tidak.
*
__ADS_1
*
**
Tatapan semua orang mengarah kepada sosok pria bertubuh jangkung yang menggendong seorang wanita meninggalkan gedung restoran. Ada yang hanya menatap, ada juga yang tampak saling berbisik.
Namun, sepertinya pria berpakaian serba mahal itu tak begitu peduli dengan tatapan orang-orang. Ia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menuju mobil yang sudah terparkir di lobi.
"Jalan!" perintahnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang malam itu.
*
*
*
Ia menghela napas panjang sambil menyandarkan punggung. Amarah nya belum reda meskipun sang pujaan hati sudah selamat dari cengkraman laki-laki jahat itu.
Selama ini Zack diam-diam memerintahkan orang suruhan nya untuk mengawasi Amanda tanpa sepengetahuan Amanda sendiri. Beruntung orang suruhannya melapor dan bertindak dengan cepat, sehingga Amanda tidak sampai terjamah oleh Glen. Karena demi apapun, Zack tidak akan rela.
"Tidak akan ku biarkan siapa pun menyentuh milikku!" ucapnya dalam hati.
Mauren, sang sopir melirik ke belakang melalui kaca spion. Ia tampak sedikit ragu, sebab Dokter Zack yang terkenal ramah kepada semua orang terasa sangat berbeda dengan Tuan Zack yang ada di belakang nya sekarang.
"Tuan." Panggilan sang sopir membuyarkan lamunan Zack. Sejenak ia mengalihkan perhatian pada sosok pria yang duduk di kursi kemudi.
"Hemm."
Tuh kan, suara singkat itu saja sudah mampu membuat Mauren merasa sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa.
"Saya baru saja mendapat laporan bahwa laki-laki tadi sudah terkapar. Apa perintah Anda selanjutnya?"
__ADS_1
Keheningan mendominasi selama beberapa saat. Zack tampak berpikir sejenak. Tatapan nya masih dingin dan penuh amarah.
"Tinggalkan saja dia di sana."
"Baik," jawab Mauren, kemudian menepikan mobil untuk melakukan panggilan. Setelah beberapa saat, mobil mewah itu kembali melaju. "Lalu, kita akan ke mana sekarang? Apa kita antar Nona Amanda ke rumah keluarga Golden?"
"Jangan! Ke apartemen saja. Amanda akan istirahat di sana malam ini."
"Baik, Tuan."
Kurang dari 30 menit perjalanan, mereka sudah tiba di gedung apartemen yang tinggi menjulang. Sang sopir turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil.
"Apa Anda ingin saya memanggil seseorang untuk membawa Nona Amanda ke dalam, Tuan?"
Sesaat setelah mengajukan pertanyaan konyol itu, Mauren merasakan suasana sekitar mendadak terasa mencekam. Apa lagi setelah menyadari tatapan menghujam dari sepasang manik biru tuan nya.
Tentu saja tuan nya yang posesif itu tidak akan senang jika milik nya disentuh orang lain. Dia memiliki tingkat kecemburuan yang jauh di atas manusia normal. Bahkan Zack rela melakukan apapun, termasuk menyembunyikan jati diri yang sebenar nya hanya demi mendekati Amanda.
"Maksud saya ... mungkin Anda butuh bantuan untuk membawa Nona Amanda ke dalam?" ucapnya, mengingat unit apartemen Dokter Zack ada di lantai teratas.
"Apa kamu berani menggendong Amanda ke atas?" tanya nya santai. Tetapi, pertanyaan bermakna ambigu itu berhasil membuat Mauren semakin merinding.
"Tidak, Tuan. Saya tidak akan berani. Kalau begitu, silahkan."
Mauren menggeser tubuhnya ke samping, sehingga Zack dapat menggendong Amanda dan membawa nya ke dalam. Laki-laki itu bahkan begitu santai menggendong Amanda dari lobi menuju lift. Seolah berat tubuh Amanda tidak membebani nya sama sekali.
Setibanya di di kamar, Zack langsung membaringkan wanita itu dan membuka sepatunya. Beberapa kali ia menepuk pipi wanita itu untuk membangunkan nya. Namun, Amanda tak kunjung tersadar.
"Apa yang diberikan predator itu kepada Amanda sampai seperti ini?"
Melihat Amanda yang tak kunjung sadar, Zack yakin Glen telah memberi nya obat bius dalam dosis tinggi. Dia kemudian membuka laci nakas dan mengeluarkan beberapa peralatan medis standar. Setidak nya, Zack harus memastikan Amanda baik-baik saja.
...*****...
__ADS_1