
"Kamu melamun, ya?" tanya Amanda.
Zack hanya tersenyum dan berusaha menyembunyikan rona merah di pipi. Mau disembunyikan di mana wajahnya jika sampai ketahuan Amanda sedang memikirkan hal-hal aneh.
"Maaf, pikiranku sedang di tempat lain."
"Memangnya kamu memikirkan apa?"
"Pasienku. Dia kena penyakit yang sangat langka dan belum ada obatnya."
"Penyakit apa?"
"Dia terlalu manis dan tidak ada obat penawar di belahan Bumi mana pun." Zack tertawa, membuat Amanda melayangkan cubitan di lengannya.
Dia lantas mengeluarkan roti yang telah dipanggang dan meletakkan ke piring. Selain untuk Amanda, Zack juga membuatnya untuk Emely.
"Ayo, kita sarapan dulu."
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi."
Sepertinya Zack gagal mengalihkan fokus Amanda pada kejadian semalam. Laki-laki itu terdiam beberapa saat, seperti sedang mencari sebuah alasan masuk akal. Tidak mungkin ia menceritakan secara detail tentang kejadian semalam. Karena Amanda mungkin akan curiga kepadanya.
__ADS_1
"Semalam mendengar berita bahwa ada kejadian buruk di rumah itu. Makanya aku langsung datang untuk memastikan apa yang terjadi. Karena takut terjadi sesuatu yang berbahaya, jadi aku membawamu pergi."
Sepasang alis Amanda saling bertaut membentuk busur panah. Ia sama sekali belum menangkap kesimpulan apapun dari ucapan Zack.
"Memangnya ada kejadian buruk apa?"
"Aku juga tidak tahu persis. Yang aku tahu, Shara menikam ibunya dengan pisau dapur karena dia mengira itu adalah kamu."
Amanda tersentak. Botol air mineral di tangannya terjatuh ke lantai. "Lalu apa yang terjadi dengan wanita tua itu?"
"Dia tewas di tangan putrinya sendiri."
"Aku tidak bisa percaya ini. Bagaimana mungkin Shara membunuh ibunya sendiri?" ucap Amanda, ketika telah mampu mengembalikan akal sehatnya yang sempat menghilang.
"Mana aku tahu. Sepertinya Shara itu memang psikopat. Dia pernah membunuh Tuan Gabriel sebelumnya dan tidak menutup kemungkinan dia bisa membunuh siapapun," ucap Zack, masih dengan memang wajah pura-pura tidak tahu.
Amanda masih tidak habis pikir, bagaimana dirinya bisa tertidur lelap, padahal ada kejadian buruk di rumah itu. Dan anehnya lagi ia terbangun dan sudah berada di rumah pribadi Zack.
"Kamu tidak sedang bercanda kan, Zack?"
"Kalau tidak percaya, kamu bisa lihat berita di TV atau internet. Sepertinya berita pembunuhan ini sudah ramai dibicarakan."
__ADS_1
Amanda menghembuskan napas panjang. "Bagaimana aku bisa tidur senyenyak itu? Dan bagaimana kamu membawaku ke sini?"
"Aku sudah membangunkanmu beberapa kali. Tapi kamu tidur seperti seekor kerbau, jadi aku menggendongmu keluar."
Jika saja tidak dalam keadaan terkejut, Amanda pasti sudah menjambak rambut Zack yang telah menyamakan dirinya dengan kerbau. Tetapi, saat ini yang ada di pikirannya hanya kejadian semalam.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana dengan Shara dan Glen?"
"Tenang saja, mereka berdua sudah diamankan oleh polisi. Sekarang sedang menjalani pemeriksaan. Aku juga sudah menyerahkan semua bukti-bukti kejahatan mereka yang sudah kamu kumpulkan. Jadi mereka pasti akan dihukum berat."
Amanda mengangguk paham. Namun, masih ada hal yang terasa cukup janggal baginya. Bagaimana Zack bisa selalu mengetahui hal-hal genting yang bahkan tidak disadari olehnya? Tatapan penuh selidik pun ia arahkan kepada sang dokter.
"Zack, bagaimana kamu bisa melakukan semua ini? Kalau tidak tahu bahwa kamu adalah seorang dokter, mungkin ...."
"Tentu saja aku hanya seorang dokter. Memangnya kamu pikir aku apa?" potong Zack cepat, sebelum Amanda berpikir buruk tentangnya.
"Aku sedang mengira bahwa kamu adalah jelmaan superhero di film-film yang selalu datang tepat waktu," ucapnya sambil tertawa. Amanda tak lagi menyadari raut wajah Zack yang sudah berubah, padahal ucapan Amanda tadi hanya sebuah candaan semata.
"Kalau kamu tahu siapa aku yang sebenarnya, kamu akan takut dan pasti menjauh dariku."
...***...
__ADS_1