
Emely dapat bernapas lega setelah mendengar apa yang terjadi kepada Glen, Shara dan ibu tirinya. Ketiga orang itulah yang telah merebut semua miliknya dan membuat hidupnya seperti di neraka.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" tanya Amanda.
"Aku menginginkan pembatalan pernikahan antara aku dan Glen."
Tentu saja Amanda sangat mendukung keputusan adiknya kembarnya. "Baguslah. Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan dengan laki-laki pengkhianat dan penjahat seperti Glen."
Emely mengangguk setuju. Meskipun sebenarnya, ia pernah mencintai laki-aki itu. Tetapi, semua pengkhianatan yang dilakukan oleh Glen berhasil mengikis habis cinta yang dimiliki Emely.
"Lalu kapan ibunya Shara akan dimakamkan?" tanya Emely.
"Aku dengar siang ini."
"Apa kamu ada waktu? Aku mau menghadiri pemakamannya."
Amanda hampir tak percaya mendengar ucapan Emely. Padahal selama ini Ibu Liana sangat jahat kepadanya. "Untuk apa, Emely? Dia sangat jahat, kenapa kamu harus menghadiri pemakamannya?"
"Bukan untuk menangis, tapi untuk berbahagia karena pembunuh ayahku sudah mendapatkan balasan setimpal atas perbuatannya. Bukankah nyawa harus dibayar dengan nyawa?"
"Baiklah, aku akan menemanimu ke sana. Tapi aku akan beritahu Zack nanti."
*
*
*
Sudah berjam-jam lamanya Shara terus menangisi kepergian sang ibu. Di dalam kamar dingin berukuran 3x3 meter itu ia mendekam sejak semalam. Menyesali kecerobohannya yang telah membuat ibunya kehilangan nyawa.
"Tolong aku! Setidaknya biarkan aku menghadiri pemakaman ibuku!" teriak wanita itu dari balik jeruji besi.
__ADS_1
Seorang petugas wanita datang menghampiri. Terlihat cukup kesal karena sudah puluhan kali Shara meneriakkan hal yang sama.
"Berhentilah menangis! Itu sangat mengganggu tahanan lain."
Shara mengusap cairan bening yang membasahi kedua sisi pipinya. "Tolong izinkan aku ke pemakaman ibuku. Kalau tidak, maka aku akan bunuh diri di dalam sini!"
Namun, petugas wanita tersebut hanya menggelengkan kepala. Dia merasa tahanan baru itu sudah gila. "Saya ikut prihatin, Nona. Tapi maaf, saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk Anda. Izin hanya bisa diberikan oleh pimpinan kami."
Wanita itu lantas pergi meninggalkan Shara yang masih menangis seorang diri.
*
*
*
Setelah mendapat izin dari Zack, Amanda menemani Emely untuk mendatangi rumah keluarga Golden, di mana jenazah Ibu Liana disemayamkan. Keduanya datang dengan pakaian serba hitam. Amanda mendorong kursi roda yang diduduki Emely.
"Kamu baik-baik saja, kan?" bisik Amanda. Dia takut saudara kembarnya masih mengalami trauma dan takut jika harus berada di rumah itu dan bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya.
"Aku baik-baik saja," jawabnya. "Bisakah kita sedikit mendekat ke arah sana?"
"Tentu saja."
Amanda lantas mendorong kursi roda Emely mendekat ke peti ibu tirinya. Dari kaca penutup yang transparan, Emely dapat melihat sosok berwajah pucat yang tidur di sana.
"Hay, Ibu. Akhirnya kamu mendapatkan balasan atas semua perbuatan jahatmu. Sekarang anakmu Shara akan dipenjara dalam waktu yang lama dan mungkin seumur hidup."
Emely meletakkan buket bunga mawar hitam. Tiba-tiba teringat semua perbuatan wanita itu dengan anaknya di masa lalu. Hari ini semuanya sudah berakhir dan akan terkubur bersama Ibu Liana.
Cukup lama waktu yang dihabiskan Emely di rumah itu. Ia juga sempat berbicara dengan beberapa asisten rumah tangganya dan menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya selama ini.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, Amanda. Ayo, kita pergi dari sini," ucap Emely setelahnya.
"Kamu yakin?"
"Iya."
Tanpa banyak bertanya, Amanda mendorong kursi roda. Ketika tiba di depan gerbang rumah, bersamaan dengan kedatangan Shara yang didampingi oleh beberapa petugas kepolisian. Ia baru saja mendapatkan izin untuk menghadiri pemakaman ibunya.
Emely menghujamkan tatapan tajam ke arah saudara tirinya itu. Kedua tangannya terkepal sempurna.
Dan, bukan hanya Emely yang terkejut. Shara lebih terkejut dengan penampakan dua orang yang sangat mirip di hadapannya. Kenyataan bahwa Emely yang asli ternyata masih hidup membuatnya sangat marah.
"Dasar penipu! Karena kalian berdua lah aku kehilangan ibuku hari ini! Lihat saja nanti, aku pasti akan membalas perbuatan kalian!" jerit Shara, berusaha maju untuk menyerang, tetapi dua orang petugas kepolisian membekuk tubuhnya.
Amanda terkekeh. "Sepertinya kamu tidak punya cermin. Apa yang terjadi hari ini adalah hasil dosa-dosamu di masa lalu. Jadi jangan pernah menyalahkan orang lain."
"Aku tidak peduli denganmu, wanita sialan!" teriak Shara lagi. Perhatian semua orang pun tertuju kepadanya.
"Jangan membuat keributan, Nona. Atau kami akan membawa Anda kembali ke sel."
Ancaman dari salah seorang polisi itu berhasil membungkam Shara. Dia akhirnya pasrah dan memilih mendekati peti ibunya, masih dengan didampingi petugas kepolisian.
Sementara Amanda segera membawa saudara kembarnya meninggalkan rumah itu. Sebenarnya, Emely bisa saja kembali tinggal di rumah itu. Tetapi Amanda memilih menjauhkannya dari orang-orang dari masa lalunya.
Di sisi lain, air mata terburai tatkala melihat ibunya terbujur kaku dalam balutan blus hitam. Jeritan Shara memenuhi ruangan itu. Ia baru berhenti menangis dan menjerit, saat tenaganya yang tersisa terasa tak lagi cukup untuk menopang tubuhnya.
"Tolong, aku mau ke toilet sebentar. Aku merasa mual," ucap Shara sambil memijat pelipisnya.
"Baik. Tapi jangan lama-lama," ucap sang polisi wanita sambil menuntun Shara ke kamar mandi.
Belasan menit dihabiskan di dalam toilet, namun wanita itu tak kunjung keluar.
__ADS_1
...****...