
Richi tak banyak bicara setelah diusir oleh Zack. Dia lantas beranjak meninggalkan tuannya seorang diri di dalam ruangan itu.
Rupanya kabar tentang Shara yang melarikan diri sudah sampai ke telinga Amanda dan Emely. Mereka baru saja mendapat kabar dari pelayan di rumah keluarga Golden yang memperingatkan untuk berhati-hati. Keduanya sedang menghabiskan waktu di taman belakang rumah ketika mendapat berita tersebut.
"Bagaimana ini, Amanda? Shara itu sangat jahat dan dia pasti akan mencari kita untuk balas dendam," ucap Emely. Dia tampak mulai ketakutan.
Melihat ketakutan di wajah saudaranya, Amanda mencoba untuk menenangkan. "Tenang saja. Selama ada aku, tidak akan kubiarkan dia mendekatimu. Lagi pula polisi pasti akan segera menemukannya."
Namun, ucapan Amanda tak serta merta membuat Emely bernapas lega, dan Amanda tahu Emely masih memiliki trauma atas kejahatan Shara kepadanya di masa lalu.
"Tenang lah. Lagi pula Shara tidak tahu kalau kamu ada di rumah ini. Nanti aku juga akan memberi tahu Zack. Dia pasti akan membantu kita."
Perlahan Emely menghela napas panjang. Dia berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya sekarang dia memiliki Amanda, seorang saudari yang tiba-tiba hadir dalam kehidupannya bak seorang malaikat penolong.
"Apa kamu yakin Shara tidak akan menemukan kita di sini?" tanyanya sekali lagi.
"Tentu saja. Shara itu sangat bodoh. Aku pernah mengurungnya di gudang bawa tanah persis seperti yang pernah dia lakukan kepadamu."
__ADS_1
Ingatan Emely seketika tertuju pada masa lalu di mana dirinya kerap mendapat intimidasi dari saudara dan ibu tirinya. "Bagaimana kamu tahu bahwa dia pernah mengurungku di gudang?"
"Aku sudah membaca diary-mu. Dari sana lah aku tahu apapun tentangmu untuk membalas mereka dengan cara yang sama. Aku juga pernah menendang barang berharga milik Glen dan itu menyenangkan."
Untuk pertama kalinya, Emely terkekeh. Meskipun baru pertama kali bertemu, tetapi ia sangat kagum dengan saudara kembarnya yang sangat pemberani dan tangguh.
"Terima kasih sudah melakukan semuanya untukku. Sekarang aku tidak merasa sendirian lagi karena sudah memilikimu."
Keduanya saling memeluk. Hati Emely dipenuhi rasa syukur untuk pertemuannya dengan Amanda dan Dokter Zack.
"Zack itu teman lamaku. Kami pertama kali bertemu di stasiun kereta. Hari itu kereta terlambat berangkat karena ada beberapa polisi yang sedang mengejar penjahat berbahaya. Katanya penjahatnya ada di dalam kereta yang kami tumpangi," kenang Amanda, terlihat sangat kesal. "Aku jadi gagal ikut ujian karena si penjahat itu."
"Lalu?"
"Di sana lah pertama kali aku bertemu dengan Zack. Saat itu aku sangat kesal karena dia tidak mau memberi tempat duduk untuk seorang wanita tua. Jadi aku memukulinya."
Emely terkekeh. Rasanya sangat lucu membayangkan Amanda memukuli Zack di tengah kepanikan orang-orang di dalam kereta karena adanya seorang buronan polisi.
__ADS_1
"Apa dia tidak marah karena kamu memukulinya?"
"Tentu saja dia sangat marah. Dia memanggil polisi dan mengatakan kepada mereka bahwa aku mungkin adalah penjahat yang sedang dicari oleh para polisi itu, karena aku sangat barbar. Konyol sekali 'kan dia."
Emely tampak semakin penasaran. "Lalu apa yang terjadi?"
"Kami berdebat dan saling tuduh. Para polisi itu jadi ikut pusing dan pergi meninggalkan kami begitu saja."
Tawa Emely pecah mendengar cerita Amanda. "Dan bagaimana kalian bisa berteman?"
"Saat turun dari kereta, semua penumpang berdesakan. Aku jatuh dan terinjak oleh orang-orang sampai mengalami luka. Aku pasti sudah mati kalau tidak ditolong Zack saat itu. Dia juga mengobati luka di kakiku. Ternyata dia adalah seorang mahasiswa kedokteran. Sejak saat itu lah kami berteman."
Emely mengangguk paham. Masih dengan sisa tawa di bibirnya. "Pertemuan kalian sangat unik. Apa kamu tidak ada perasaan lebih terhadapnya setelah sekian lama berteman?"
Amanda seketika terdiam. Kedua sisi pipinya terasa menghangat dan ia yakin sudah semerah tomat matang.
...****...
__ADS_1