
Kyle mempercepat langkahnya saat menapaki anak tangga itu, dia terlalu bersemangat saat membayangkan Jihan akan jatuh terguling-guling sampai ke bawah dengan darah segar yang mengucur dari seluruh tubuhnya.
Kedua wanita itu terlihat semakin dekat, Jihan menuruni tangga, sedangkan Kyle sebaliknya. Kedua wanita itu saling sadar akan keberadaan sosok di depan mata mereka, namun mereka terlihat acuh tak acuh.
"Aku tak menyangka, Kyle yang ku kenal lewat komik, ternyata sangat berbeda dengan yang asli, ku pikir, dia benar-benar mencintai Aideen," pikirnya sambil berusaha mengalihkan pandangan.
Hanya dalam 3 langkah lagi, mereka akan berpapasan dan Kyle dapat mendorong tubuh itu.
Tak tak tak.
"Inilah waktunya!" Batin Kyle. Dia tersenyum penuh kemenangan dan dengan sengajanya menabrakkan tubuhnya pada tubuh Jihan. Jihan yang merasa tubuhnya kehilangan kendali tak dapat berbuat apa-apa.
"Jihan!" Teriak Aideen sambil meraih tangan istrinya. Hampir saja wanita hamil itu terpeleset dan jatuh. Namun dengan sigap, Aideen meraih tangan mungil milik istrinya itu.
"Sial! Bagaimana bisa Aideen datang di waktu yang tepat!" Umpat Kyle dalam hati. Wanita ini menatap tajam ke arah Jihan yang benar-benar beruntung kali ini.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Aideen khawatir.
"Terima kasih, aku baik-baik saja." Jawab Jihan. Lalu, sorot matanya mengarah ke Kyle, dia dapat merasakan niat buruk Kyle terhadap dirinya.
"Maaf, Jihan. Aku tak sengaja, soalnya perutku mules, jadi aku berlarian ingin segera ke toilet," ucap Kyle sambil memegang perutnya. Dia beralasan karena tak ingin menimbulkan kecurigaan Aideen, meskipun Aideen sadar bahwa ada niat buruk yang sedang Kyle rencanakan.
"Ya, aku mengerti. Sudahlah," jawab Jihan datar, dia pun membalikkan tubuhnya dan lanjut menuruni anak tangga perlahan-lahan menuju ruang dapur.
"Kyle, ada yang ingin ku bicarakan, segera ke ruang kerjaku," perintah Aideen. Dia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai 3, lalu berjalan ke kiri ke ruang kerjanya yang berada tepat di sebelah kamarnya.
Di waktu yang sama, Jihan mendengarkan perkataan Aideen walaupun dia sudah membalikkan badan.
"Apa yang ingin dibicarakan Aideen? Aideen tak se-peka itu untuk permasalahan tadi. Apa mereka... ah tidak tidak, itu bukan urusanku." Pikir Jihan penasaran sambil menggelengkan kepalanya. Wanita itu berjalan perlahan sambil menerka-nerka keadaan seperti apa yang akan terjadi saat Aideen dan Kyle berduaan di ruangan yang sepi.
"Dasar kau otak mesum! Aideen tak akan seperti itu! Percayalah padanya," Jihan berusaha meyakinkan dirinya. Kepalanya benar-benar dipenuhi setumpuk rasa penasaran dan pikiran-pikiran negatif.
...****************...
__ADS_1
Di ruangan yang tidak terlalu besar, dipenuhi buku-buku namun tetap tertata rapi, Aideen terlihat sedang duduk di kursi ergonomis dan menyandarkan tubuhnya. Kyle masuk ke ruangan itu dan menutup pintu.
"Ruangan ini, masih sama seperti 15 tahun yang lalu," ucap Kyle sambil matanya berkeliling. Dia tahu bahwa Aideen ingin menanyakan tentang kecerobohannya tadi saat di tangga, oleh karena itu dia mencoba mengalihkan topik dengan membahas masa lalu.
"Benar, ruangan ini masih sama seperti 15 tahun yang lalu," jawab Aideen sambil menyilangkan tangannya ke depan, "tapi kau yang telah berubah sampai-sampai aku tak dapat mengenali sosok dirimu yang sekarang."
"Hahaha... candamu benar-benar kaku sejak dulu," Kyle tertawa mencoba mencairkan suasana. Dia berjalan menghampiri Aideen dan duduk di atas meja tepat di depan Aideen. Wanita itu menyilangkan kakinya.
"Menurutku, aku yang sekarang hanya bersikap lebih terbuka dan-"
"Terbuka?" Tanya Aideen menatap sinis, "aku tidak tahu terbuka dan liar itu sama."
"K-kau bilang aku liar?!" Tanya Kyle sambil menumpukan tangan kanannya di meja dengan tubuh yang sedikit membungkuk dan condong ke arah Aideen.
"Benar. Sekarang kau telah membuktikannya. Aku tak tau sejak kapan kau berubah seperti ini, bahkan aku sadar saat kau menempelkan da da mu di lenganku."
"Oh come on! Itu hal yang lumrah di zaman ini! Bukankah semua pria menyukai hal seperti itu?!" Kyle memutarkan matanya sambil kembali duduk tegap dengan kedua tangannya disilangkan.
Aideen mengela nafasnya dengan kasar. Pandangannya terfokus pada mata Kyle yang tersirat penolakan atas perkataannya tadi.
"Kau im-po-ten?" Bisik Kyle. Wanita itu kembali melanjutkan ucapannya dengan penekanan intonasi suara saat di perkataan 'impoten'.
Seketika saat mendengarkan kalimat impoten ditujukan padanya, Aideen segera meraih tangan Jihan dengan tatapan tajam. Pria itu mencengkram tangan Kyle dengan erat.
"Impoten?!" Tanya Aideen dengan mata yang membulat.
"Ya! Apa kau sungguh tidak peka selama ini? Harus berapa kali aku merayumu agar kita bisa tidur bersama? Bahkan kau menolakku terang-terangan saat aku datang dengan pakaian yang minim?! Kau membuat harga diriku benar-benar jatuh di hadapanmu!" Kyle mengungkit masa lalu yang benar-benar tidak dipermasalahkan sama sekali oleh Aideen, namun wanita ini masih mengingatnya karena penolakan Aideen yang sangat membuatnya malu.
"Aku ini pasanganmu! Dan kau sama sekali tak menganggapku ada!" Timpal Kyle dengan nada yang penuh penekanan. Tersirat kekecewaan akan nafsu yang tak terlampiaskan oleh nya.
"Apakah hubungan ini hanya sebatas nafsu?" Tanya Aideen sinis. "Aku tak ingin merusak wanita yang ku cintai sebelum menikah, bagaimana jika kau hamil sebelum menikah?! Aku bahkan memikirkan di mana letak harga dirimu nanti di depan orang lain kau hamil sebelum kita menikah!"
"Alasanmu basi! Ini bukan zaman kuno! Bahkan pil kontrasepsi sudah banyak di jua-"
__ADS_1
"Ini bukan tentang pil atau apapun itu, ini tentang bagaimana aku menjagamu sampai kau benar-benar sah menjadi milikku!"
Kyle yang tak tahan mendengarkan perkataan Aideen, dia segera turun dari meja itu dan berdiri tepat di depan Aideen yang masih duduk.
"Lalu bagaimana dengan sekarang?" Tanya Kyle sambil membuka kancing blouse maroonnya.
Aideen segera berdiri dan menahan kedua tangan Kyle.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Aideen tak mengerti dengan situasi yang sedang dia hadapi.
"Kau telah bercinta dengan gadis yang baru kau kenal, sedangkan aku?" Kyle berusaha melepaskan kedua tangannya dari genggaman Aideen.
"Sadarlah! Dia itu istriku!"
"Aku juga calon istrimu! Wajar jika aku ingin memastikan kejantanan suamiku sebelum aku menikah!"
"Kau benar-benar wanita gila!" Umpat Aideen sambil melepaskan tangan Kyle dengan hentakan keras. Pria itu beranjak pergi meninggalkan Kyle dari duangan kerjanya.
Kyle tertunduk sendu saat Aideen berjalan menuju pintu.
Saat itu, punggung mereka saling berhadapan.
"Jadi, selama ini kau tak pernah tulus mencintaiku?" Tanya Kyle lirih.
"Apakah selama ini kau mencintaiku karena rasa terima kasih? Jika dulu aku tak menemanimu yang kesepian, apa kau tetap akan mencintaiku?" Timpal Kyle dengan nada yang sangat pilu.
Aideen menghentikan langkahnya. Dia kembali terbawa pada masa lalu yang telah dia lalui bersama Kyle sejak kecil. Saat di mana tak ada seorangpun yang ingin berteman dengannya, saat di mana dia kesepian karena sendirian di rumah besar itu dan saat dia menghadapi trauma yang menghancurkan hidupnya, Kyle ada di sana menemaninya.
"Kau tau, cinta itu nafsu. Jika kau tak memiliki nafsu pada orang yang kau cintai, maka cintamu tidaklah tulus." Ucap Kyle sambil menitikkan airmatanya. Dia benar-benar telah menghabiskan seluruh barga diri dan rasa malunya di depan Aideen, namun Aideen tidak menjawab apapun selain melanjutkan jalannya untul keluar dari ruangan itu dan menutup pintu meninggalkan Kyle sendiri.
"Kau benar-benar keterlaluan, Aideen! Aku tak akan membiarkan kau bahagia!" Ucap Kyle sambil mengepalkan tangannya dengan wajahnya yang mengerang.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...