CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT

CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT
BAB 39 - PANGGILAN SAYANG


__ADS_3

Pagi itu, pagi di mana cuaca begitu terang dengan silau mentari yang nyentrik. Ezryl mengetuk pintu kamar Jihan sembari di tangannya menenteng nampan yang berisikan segelas susu dan beberapa potong roti sandwich.


Tok! Tok! Tok!


Mendengar tak ada suara yang menyaut, Ezryl memberanikan diri membuka pintu kamar Jihan. Dari depan pintu saja terlihat gadis yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Wajah yang begitu tenang. Apa mimpi gadis itu masih belum selesai pikir Ezryl saat itu.


Ia berjalan mendekati ranjang Jihan, kemudian ia meletakkan nampan tersebut ke atas meja kecil yang ada di samping ranjang. Setelah itu, ia duduk di sisi ranjang dan tubuhnya menghadap Jihan. Tangan kekarnya tak tahan hanya berdiam diri tanpa menyentuh beberapa helai rambut yang menutupi wajah indah gadis itu.


“Aku menantikan saat di mana kita bisa bahagia bersama,” liri Ezryl dalam hati. Ia menyibak pelan rambut coklat milik gadis itu, kemudian di tatapnya dengan seksama.


“Jihan,” panggil Ezryl lembut. Ia membangunkan gadis itu dari tidur karena hari ini ia berencana ingin mengajak gadis itu pergi keluar untuk menghirup udara segar.


“Ji…” panggil Ezryl lagi. Kali ini, tanpa ragu ia menyentuh pipi gadis tersebut dengan lembut dan membelainya.


Perlahan Jihan tersadar sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia memicingkan mata dan melihat ke arah Ezryl yang entah sejak kapan sudah berada di sana.


“Ezryl!” sentak Jihan dengan kedua bola mata terbuka sempurna. Ia terkejut saat mengetahui pria itu sudah berani memasuki kamarnya.

__ADS_1


“Good morning, Sayang,” tutur Ezryl sambil meraih kepala Jihan dan memberikan sebuah kecupan lembut ke dahi gadis itu.


“P-pa-pacar?” ujar Jihan terbata-bata.


“Hmm… pacar,” sahut Ezryl sambil mengangguk pelan dan mengulum senyum. “Aku tak akan rela jika kau melupakan apa yang telah kita sepakati kemaren.”


Jihan mengerutkan dahinya dengan tatapan yang tak bertumpu. Ia dibuat melamun seraya mengingat kembali apa yang kemaren telah mereka sepakati.


“Jadi pacarku selama tiga bulan! Siapa yang jatuh cinta duluan, dia yang kalah!”


“Hehehe…” Jihan terkekeh gugup. Ia merasa sedikit canggung dengan situasi yang ia hadapi saat ini. Meskipun pria yang ada di depannya sekarang tampan dan tak memiliki cela sedikitpun, tetap saja ia merasa canggung.


“G-good morning too,” balas Jihan dengan gugup.


“Sayangnya mana?” tanya Ezryl sembari kedua alisnya menurun dan sudut bibirnya yang melengkung ke bawah dengan raut wajah yang sedih.


“Ayolah, itu tak penting,” tutur Jihan dengan wajah yang merona.

__ADS_1


“Tapi bagiku itu penting,” gumam Ezryl lirih dan hampir tak terdengar oleh Jihan.


“Huh? Aku tak mendengarkannya,” ucap Jihan sembari berusaha duduk dari tidurnya dan bersandar di ranjang.


“Tapi di taruhan ini, panggilan ‘sayang’ itu penting,” jelas Ezryl sambil menegaskan kembali bahwa ada beberapa hal yang harus diikuti dalam taruhan.


“B-baiklah,” sahut Jihan terbata-bata.


Ezryl meraih segelas susu yang tadi ia bawakan, kemudian ia memberikannya kepada Jihan. “Minumlah dan isi perutmu yang kosong.”


“Wahh… kau rajin sekali,” gumam Jihan sambil meraih segelas susu yang disodorkan oleh Ezryl.


“Tentu. Aku tak ingin pacarku sakit karena perut kosong.” Lagi-lagi Ezryl mengatakan hal tersebut secara spontan dan tanpa dibuat-buat. Kalimat tersebut murni ia ucapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Pasalnya, taruhan ini bukalan sekedar taruhan biasa, melainkan suatu hubungan nyata yang sedang ia jalani dengan gadis yang ia cintai itu.


...****************...


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2