
..."Andai aku bisa memilikimu, hari-harimu akan kuhiasi dengan tawa tanpa sedikitpun duka." - Ezryl...
...✍🏻✍🏻✍🏻...
Pagi itu, Jihan terlihat gelisah. Ia memutarkan tubuhnya ke kiri, ke kanan dan terlentang menatap langit-langit kamar.
"Hah! Ini sangat menyebalkan!" rutuknya dengan wajah kusut.
Ucapan Ezryl semalam cukup membuat ia tak dapat memejamkan mata hingga pagi ini. Setiap ia ingin memejamkan matanya, kalimat Ezryl terngiang-ngiang di kepalanya.
"Dia benar. Aku tak memiliki bukti apapun untuk menunjukkan bahwa aku adalah istrinya, meskipun ada Dina dan Dini serta Chris, mereka pasti sudah di ancam duluan oleh Nyonya Margareta dan Kyle untuk tidak menyebut-nyebut tentangku," gumam Jihan lirih.
Tiba-tiba ia mendadak duduk dari tidurnya dan menatap ke kiri di mana ada meja rias di sana. Ia bergegas menapaki kakinya ke lantai dan menuju ke meja rias tersebut. Sorot matanya tertuju pada sebuah dompet hitam, dompet miliknya. Dia membuka dompet tersebut dan mengeluarkan "black card" yang diberikan Aideen padanya dulu. Di "black card" tersebut tertulis nama "Aideen Rudolf".
Terlintas dipikirannya untuk menjadikan kartu tersebut sebagai bukti bahwa dia adalah Nyonya Aideen, namun tak perlu menunggu lama, ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Ck! Jika aku menunjukkan kartu ini, pasti dia menganggapku wanita matre atau simpanan yang hanya memanfaatkannya. Tidak, tidak. Ini tak dapat dijadikan bukti. Bukan menjadi baik, malah menjadi rumit. Huft!"
Jihan menyilangkan kedua tangannya di dada sambil mondar-mandir memikirkan cara untuk mendekati Aideen secara natural. Tapi ini bukanlah hal yang mudah, karena Aideen dikelilingi oleh wanita-wanita sangat menolak hubungannya dengan Aideen.
Tok Tok Tok!
Suara ketukan pintu tersebut mengusik Jihan. Dia bergegas ke arah pintu kamar dan membukanya.
"Selamat pagi, Tuan Putri!" sapa Ezryl dengan ramah. Pria itu terihat rapi dan sudah bersiap-siap ingin ke kantor.
"Sudah lama aku tak mendengarkan kalimat itu," ucap Jihan. Benar, terakhir kali Ezryl memanggilnya Tuan Putri adalah saat mereka masih di dunia nyata, namun setelah mereka menginjakkan kaki ke dunia komik, panggilan tersebut tak lagi pernah ia dengarkan.
"Hahaha ... ternyata kau nyaman dengan sapaan tersebut," Ezryl tersenyum sumringah.
"Bu-bukan, maksudk-"
"Aku akan sering-sering memanggilmu seperti itu," potong Ezryl. "Ayo sarapan! Aku sudah membuatkan nasi goreng."
"Nasi goreng?" tanya Jihan.
"Yap! Kau harus mencobanya, aku ini jago masak! Kau pasti menyukainya!" Ezryl langsung meraih tangan Jihan dan menariknya keluar dari kamar menuju meja makan.
"Ee eh!" Jihan terbelalak kaget melihat tingkah laku Ezryl yang terlihat biasa saja setelah percakapan mereka semalam. Tak ada pilihan lain selain mengikuti Ezryl menuju meja makan.
Ezryl menarik kursi dan mempersilahkan Jihan duduk. Di meja tersebut telah terhidang sepiring nasi goreng dengan topping telor mata sapi dan segelas susu.
__ADS_1
"Selamat menikmati sarapannya, Tuan Putri," ucap Ezryl sambil membungkukkan tubuhnya ke arah Jihan. Lalu ia bergegas duduk di kursi yang ada di hadapan Jihan, kini mereka saling berhadapan.
"Hahaha ... kau benar-benar membuatku terkejut!" Jihan tertawa lepas tanpa beban akibat ulah Ezryl. Pria yang ada di hadapannya benar-benar sukses merubah suasana hatinya yang kacau menjadi tenang.
"Terima kasih," sambungnya.
Ezryl tersenyum menatap gadis itu. "Andai aku bisa memilikimu, hari-harimu akan kuhiasi dengan tawa tanpa sedikitpun duka."
Pagi itu mereka lalui dengan sukcita. Percakapan semalam yang semula menjadi beban pikiran, kini seolah-olah lenyap karena Ezryl pandai merubah suasana yang tak nyaman menjadi nyaman.
"Aku menikmati nasi gorengnya. Ini sangat lezat!" puji Jihan di suapan terakhirnya. Piring yang semula penuh, kini menjadi licin tanpa tersisa sebutir nasipun di atasnya. "Wanitamu akan bahagia mendapatkan suami sepertimu."
"Benar, aku telah melihat kebahagiaan di wajahnya pagi ini," sahut Ezryl sambil menatap Jihan.
"Ohokkk ... Ohokkk ... " Jihan tersedak mendengarkan ucapan Ezryl.
"Han!" Ezryl bangkit dari duduknya menuju ke arah Jihan dan mengambil susu yang ada di meja lalu menyodorkan ke arah Jihan. "Maaf, aku hanya bercanda."
"It's okay." Jihan meneguk susu yang di sodorkan Ezryl dan meletakkan gelasnya ke meja. "Aku baik-baik saja, terima kasih."
Melihat Jihan sudah baik-baik saja, Ezryl kembali ke kursinya.
"Aku belum memikirkannya, tapi aku sempat kepikiran untuk membuat novel online. Ya, seperti yang sering ku lakukan saat di dunia nyata."
"Ide yang bagus, setidaknya kau memiliki kesibukan," tutur Ezryl sambil menganggukkan kepalanya.
"Yah, bagaimanapun aku harus membiayai hidupku bukan? Sampai kapan aku harus terus-terusan bergantung padamu? Ck!" ucap Jihan sambil tertawa.
"Hei! Bergantunglah padaku, dengan senang hati aku ak-"
"Ezryl?" potong Jihan. Gadis itu ngerlingkan matanya sambil tersenyum. "Kau mulai lagi."
"Hahaha ... kau sudah bisa menebakku sekarang. Baiklah, jika ada apa-apa, katakan padaku, aku akan membantumu," ucap Ezryl menawarkan diri. "Saat aku kerjapun, jika kau mengalami kesulitan atau membutuhkan sesuatu, kabari aku. Okay?"
"Okay! Sekali lagi terima ka-"
"Terima kasih! Bisakah kau berhenti mengucapkan terima kasih? Kau menganggapku seperti orang asing," potong Ezryl sambil manyun.
"Hahaha ... iya iya, maaf. Aku akan mengurangi kalomat itu. Nah, sekarang kau harus segera berangkat ke kantor, piring kotor ini biar aku yang membersihkannya," Jihan bangkit dari duduknya sambil mengambil piring kotor yang ada di depan Ezryl.
"Terima kasih!"
__ADS_1
"Loh? Sekarang kau menganggapku orang asing?" ejek Jihan membalikkan perkataan Ezryl tadi, pria itu benar-benar termakan oleh perkataannya sendiri.
"Kau ...." Ezryl mengerutkan keningnya sambil menatap tajam ke arah Jihan, namun tatapan tajamnya itu tak serius melainkan bercanda.
Kedua orang tersebut saling ejek mengejek bahkan saling mencibir satu sama lain. Seketika, Jihan melupakan masalah yang sedang ia hadapi karena terbawa suasana. Ezryl benar-benar pintar dalam mengontrol suasana.
...****************...
Di waktu yang sama, di Rumah Sakit Garuda Kencana di mana Aideen sedang di rawat. Kyle terlihat sedang duduk di samping ranjang Aideen. Aideen belum bangun dari tidurnya, sedangkan Kyle sibuk chatting dengan Dwyne.
^^^"Morning, Baby! 😘" ^^^
"Morning! 🖤" balas Kyle.
^^^"Bagaimana keadaannya? Kau harus segera membuat dia bertekuk lutut padamu."^^^
^^^"Ingat rencana kita, Baby."^^^
Kyle menatap layar ponselnya sambil menghela nafas. Ia meragukan rasa cinta yang Dwyne miliki padanya. Pria itu sungguh mencintainya atau hanya karena memperalat dia demi mencapai keinginannya?
"Ada apa?" tanya Aideen yang entah sejak kapan sudah bangun. Suaranya cukup membuat Kyle tersentak dari lamunan.
"S-sayang? Kau sudah bangun?" ucap Kyle. Ia mematikan layar ponselnya dan meletakkan ponsel tersebut di atas meja.
Aideen tak mengindahkan ucapan Kyle. Ia berusaha bangkit dari tidurnya dan menapaki kaki ke lantai.
"Kau ingin ke kamar mandi? Aku akan menemanimu," ucap Kyle sambil mencoba memapah tubuh Aideen, namun dengan tangkas Aideen menangkis tangan tersebut.
"Aku bisa sendiri," ucap Aideen dingin tanpa sekalipun menoleh ke arah Kyle. Ia berjalan sedikit tertatih menuju kamar mandi karena tubuhnya yang belum sepenuhnya sembuh dan masih banyak yang memar-memar.
Tak memakan waktu lama, Aideen keluar dari kamar mandi dan kembali ke ranjangnya. Kyle terlihat sudah menyiapkan bubur dan segelas susu di meja samping ranjang.
"Aku akan menyuapimu," ucap Kyle sambil menyodorkan sendok yang berisi bubur ke arah Aideen.
"Terima kasih, tapi aku merasa tak nyaman. Berikan padaku buburnya," ucap Aideen.
Melihat sikap dingin Aideen, Kyle tak berani berkata banyak dan ia juga tak berani bersikekeh untuk menyuapi Aideen. Ia meletakkan lagi sendok yang sudah berisi bubur tadi ke dalam mangkok dan kemudian menyodorkan mangkok tersebut kepada Aideen.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1