
Dua hari telah berlalu, hari ini adalah hari terakhir Jihan di rumah sakit. Gadis itu sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah membaik.
Dengan wajah hampa, Jihan melamun di sisi ranjang pasien yang sempat ia tempati selama di rawat di rumah sakit tersebut. Bahu gadis itu jatuh, tatapannya kosong menatap lurus tanpa titik fokus bahkantak ada lekukan ke atas atau ke bawah di sudut bibirnya. Pikirannya menerawang.
"Jihan?" Panggil Ezryl. Pria tersebut sedang merapikan beberapa pakaian dan barang-barang milik Jihan untuk di masukkan ke dalam koper. Dia sadar bahwa gadis itu begitu sejak kecelakaan yang menimpa Aideen.
"Sebelum kita pulang, mari kita mampir sebentar melihat Aideen!" Seru Ezryl. Pria itu telah selesai merapikan semuanya, menaruh ke lantai koper yang tadinya di atas sofa saat memasukkan barang-barang ke dalamnya. Dia berjalan mendekati Jihan. Duduk jongkok di depan Jihan dan menyorongkan sendal ke kaki gadis itu.
Jihan hanya diam, lalu berdiri setelah Ezryl memasangkan sendalnya. Kedua orang tersebut pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ruangan VVIP di mana Aideen di rawat. Mereka masuk ke ruangan tersebut, terlihat Aideen masih terbaring kaku. Jihan mendekat ke arah suaminya, lalu duduk tepat di kursi yang ada di sebelah kasur Aideen lalu memegang tangan pria itu.
"Kau belum sadar juga," gumam Jihan lirih. Wajahnya tertunduk lesu. Ezryl yang sedari tadi mengikuti Jihan, kini berdiri tepat di belakang Jihan sambil menepuk pundaknya.
Tak! Tak! Tak!
Sayup-sayup terdengar suara hentakan kaki saling bersahutan mendekati ruangan yang Aideen tempati. Tak lama setelah itu, pintu ruangan tersebut terbuka. Kyle, Nyonya Margareta dan Nyonya Reyna memasuki ruangan tersebut.
"Ck! Melihatnya saja membuat mataku sakit!" Celetuk Nyonya Reyna saat melihat Jihan dan Ezryl di samping Aideen. Wanita paruh baya itu menyilangkan kedua tangannya ke dada dengan angkuh.
"Dosa apa yang telah ku perbuat sebelumnya, sampai aku harus berurusan dengan gadis tidak tahu malu ini!" Keluh Nyonya Margareta saat melihat Jihan dan Ezryl di ruangan tersebut.
Melihat kehadiran tiga wanita tersebut, Jihan melepaskan genggamannya dari tangan Aideen. Ia berdiri sambil memegang kedua tangannya.
"Maaf, saya hanya ingin berkunjung," ucap Jihan.
"Halah! Kau pasti sedang merencanakan sesuatu!" Tuduh Kyle. Wanita itu sangat berbeda dengan apa yang sebelumnya Jihan baca di komik. Wanita yang lemah lembut, anggun dan ramah di komik itu ternyata berbeda dengan aslinya. Jihan sampai merasa Kyle yang ada di depan matanya saat ini bukanlah Kyle yang ia ketahui di komik yang ia baca.
"Saya akan pergi sekarang jika kalian tidak nyaman," ucap Jihan. Gadis itu menoleh ke belakang dan menatap ke arah Ezryl seolah memberi isyarat, 'ayo kita pergi'. Ezryl hanya mengangguk mengikuti Jihan. Namun, baru saja Jihan ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba jari Aideen bergerak.
Jihan terbelalak. "Aideen?"
__ADS_1
Perlahan Aideen membuka matanya sambil memengang kepalanya yang dibalut kain kasa.
"Ugh." Ringis Aideen. Kepalanya terasa sakit dan badannya terasa ngilu.
"Aideen!" Ucap semua orang yang ada di ruangan tersebut secara bersamaan dengan mata yang membulat karena kaget.
Ezryl yang melihat pria itu telah sadar dari komanya, ia segera menekan bell emergency yang berada tepat di sebelah ranjang pasien. Beberapa detik kemudian, perawat masuk.
"Panggilkan dokter. Dia sudah sadar!" Seru Ezryl saat dua orang perawat masuk ke ruangan tersebut. Mendengarkan ucapan Ezryl, perawat tersebut bergegas keluar.
"Sial! Dia sadar! Bagaimana jika dia mengatakan pada Nyonya Margareta lagi bahwa dia tak pernah memperkosa ku?!!" Pikir Kyle. Wanita itu menggigit kukunya karena ketakutan saat melihat Aideen sadar. Dia benar-benar tak punya pilihan lain selain mengatakan Aideen telah memperkosanya, karena itu adalah ide ibunya sendiri agak dia dapat melangsungkan pernikahan yang dulu sempat kandas.
Aideen menatap sekelilingnya dengan kepala yang masih berat. Pria itu melihat satu satu wajah orang yang ada di sekeliling kasurnya.
"Si-siapa kalian?" Tanya Aideen. Pria tersebut menatap bingung ke arah semua orang.
Jihan terperangah sambil menutup mulutnya. Tak beda dengan Nyonya Reyna, Nyonya Margareta, Kyle dan Ezryl. Mereka benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aideen. Saat ini, hanya satu yang ada dipikiran mereka.
"Ini tidak mungkin!" Suara serak Jihan yang tak bertenaga itu memecah keheningan. Dia sangat tak terima saat mengetahui bahwa suaminya kecelakaan, terlebih lagi sekarang suaminya amnesia. Ini bagaikan jatuh ditimpa tangga.
Nyonya Margareta berjalan mendekati Jihan. Wanita tua itu berjalan dengan perlahan-lahan menggunakan tongkatnya.
PLAK!!!
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Jihan. Semua yang ada di ruangan termasuk Chris yang baru saja muncul dari balik pintu, terperangah melihat perlakuan Nyonya Margareta. Bahkan Aideen yang baru tersadar pun langsung membulatkan matanya karena tak menyangka saat ia sadar, ada sebuah kejadian yang membuatnya terkejut. Tak lama setelah Nyonya Margareta menampar Jihan, dengan sigap Ezryl memegang bahu Jihan agar gadis itu mundur dan dia maju kedepan menengahi peristiwa tersebut.
"Nyonya tak seharusnya melakukan ini!" Tegas Ezryl.
"Jangan ikut campur!" Sanggah Nyonya Reyna dari belakang. Wanita paruh baya itu tersenyum miring setelah melihat Jihan ditampar langsung oleh Nyonya Margareta.
__ADS_1
"Gila! Keberuntungan apa ini?! Aideen hilang ingatan dan Nyonya Margareta menampar Jihan. Sepertinya wanita tua itu sangat membenci gadis tak beruntung itu," batin Kyle. Dia benar-benar merasa puas saat melihat kejadian yang memanjakan matanya tersebut.
"A-apa yang terjadi? Ke-kenapa anda menamparnya?" Tanya Aideen tiba-tiba. Ribuan pertanyaan yang ada dipikirannya saat ini. Namanya siapa, apa yang terjadi pada dirinya, mereka siapa, apa yang mereka lakukan saat ini, hingga kenapa wanita tua itu menampar gadis yang ada di sampingnya. Dia benar-benar dibuat bingung.
"Ini Nenekmu, ini Nenek. Kau mendapat kesialan karena wanita ini!" Ucap Nyonya Margareta sambil menunjuk-nunjuk ke Jihan saat mengatakan bahwa ia mendapat kesialan karena wanita tersebut.
Aideen hanya diam tak bergeming. Bukan karena tak mampu berbuat apa-apa, hanya saja ia benar-benar tak faham dengan situasi saat ini. Pria itu memejamkan matanya sejenak sambil mencoba mengingat-ngingat kejadian apa yang telah ia lalui sampai ia bisa seperti ini.
"Shhh," desis Aideen menahan sakit yang tiba-tiba menyentrum kepalanya sembari membuka paksa matanya.
"Tenanglah, jangan paksakan dirimu untuk memikirkan masa lalu, step by step," ucap Edward sambil mendekat ke ranjang pasien yang di tempati Aideen.
"Siapa wanita ini?" Tanya Aideen sambil menunjuk ke arah Jihan.
"Dia karyawanmu di kantor! Dia selalu mengejar-ngejarmu padahal kita sudah bertunangan dan hampir menikah!" Kyle langsung mengucapkannya dengan lantang. Wanita tersebut benar-benar sedang memanfaatkan keadaan saat ini.
"Tunangan? Menikah?" Tanya Aideen lagi. Aideen kembali memejamkan matanya mencoba mengingat-ngingat kejadian yang ia lalui.
"Jangan dipaksakan, jika kau memaksakannya, itu akan berdampak buruk pada kesehatanmu," ucap Edward khawatir.
"Pergi!" Suara nyaring Nyonya Margareta mengagetkan semua yang ada di ruangan tersebut. Jarinya menunjuk ke arah pintu keluar sedangkan matanya menatap tajam ke arah Jihan.
"Pergi dari sini!!! Dan jangan pernah menginjakkan kaki mu di rumah Aideen! Jangan pernah muncul lagi di depan mataku!" Ucap Nyonya Margareta dengan penuh penekanan dan nada suara yang tinggi.
"T-tapi..." Jihan melihat ke arah Aideen yang masih kebingungan. Gadis itu berharap agar suaminya dapat mengenalinya walau hanya sebentar. Ini kedua kalinya ia merasakan patah hati. Sakit, bahkan sakitnya melebihi rasa sakit saat melihat Violet dengan Rey mantannya dulu.
"Sudahlah," ucap Ezryl dengan suara yang pelan. Pria itu menatap ke arah Jihn sambil memegang pundaknya. "Kita pulang dan beristirahat dahulu. Tenangkan pikiran, dan kita cari jalan keluarnya bersama, karena ini bukanlah hal yang dapat kita tangani dengan mudah."
Jihan dan Ezryl melangkahkan kaki mereka menuju pintu keluar tanpa sepatah katapun, bahkan mereka tak sekalipun menatap ke arah Aideen. Jihan hanya manut dan mendengarkan saran Ezryl. Karena bagaimanapun, akan sia-sia jika dia bersikeras meminta Aideen untuk mengingatnya. Untuk saat ini, dia hanya dapat pasrah dan menjalani takdir yang sudah ditentukan padanya.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...