CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT

CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT
BAB 32 - SEBUAH PERMINTAAN


__ADS_3

..."Lakukanlah apapun yang kau mau, tapi jangan pernah terluka. Jika kau terluka, maka kau harus melihat ke arahku." - Ezryl...


...✍🏻✍🏻✍🏻...


Tok tok tok!


Ezryl mengetuk pintu kamar Jihan sambil memanggil gadis tersebut, "Han? Jihan?"


Ceklek!


"Ya?" sama-samar terdengar sahutan suara Jihan seiring terbukanya pintu kamar.


"Makanannya sudah sampai, ayo makan!" Panggil Ezryl. Pria tersebut memutar tubuhnya membelakangi Jihan dan berjalan menuju ke arah meja makan yang letaknya bersebelahan dengan ruang tamu disusuli Jihan dari belakang. Pria itu membuka bungkusan plastik yang ada di atas meja dan mengeluarkan sebuah box dari plastik tersebut lalu memberikannya kepada Jihan yang sedang duduk di kursi yang ada di meja makan.


"Aku tidak tahu kau suka apa, jadi aku membelikan KFC," ucap Ezryl.


"Oh... tidak apa-apa, ini sudah mewah bagiku," ucap Jihan. Gadis itu membuka box yang diberikan oleh Ezryl tadi, terdapat sebungkus nasi dan 2 potong ayam yang wanginya benar-benar menggugah selera.


Ezryl bangkit dari duduknya, ia ke dapur mengambil segelas air putih dan menyodorkannya kepada Jihan. "Minum air putih saja dulu, jangan minum minuman bersoda."


Jihan hanya mengangguk mengiyakan sambil menyuapi mulutnya dengan makanan. Gadis itu mengunyah makanan dimulutnya dengan paksa karena sejujurnya ia sama sekali tak selera untuk menelan apapun saat ini.


"Maaf," gumam Jihan lirih dengan nada suara yang tercekat. Gadis itu terlihat menelan paksa makanan yang ada di mulutnya.


"Huh?" Ezryl mengerutkan keningnya sambil tetap mengunyah ayam yang ia pesan tadi.


"Maaf atas kelakuanku tadi, aku ta-"


"Hei, makanlah. Nanti dingin." Perintah Ezryl. Ia sadar bahwa Jihan ingin membahas perselisihan yang terjadi di kamarnya tadi, hanya saja ia ingin melupakan kejadian tersebut. Karena jika dibahas lagi, mungkin saja saat ini ia akan kehilangan selera makannya.


Mereka berdua melanjutkan makan tanpa berbicara sepatah katapun. Entah makanannya yang lezat atau memang tak ada sepatah kata pun yang terlintas dipikiran mereka saat itu.


Beberapa menit berlalu, mereka telah menyelesaikan makan malam mereka yang hening itu. Keduanya bergegas ke dapur untuk mencuci tangan. Setelah itu, Jihan menuju ke ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, gadis itu duduk bersandar sambil menatap lepas ke pintu kaca balkon yang ada di sebelah kirinya. Tak ada apapun yang terlihat, hanya langit yang sudah mulai gelap tanpa bias bintang.


Ezryl datang dari arah dapur dengan membawa segelas air putih dan kantong plastik yang berisikan obat-obat yang diresepkan dokter untuk Jihan. Pria itu duduk di sebelah Jihan dan menyodorkan gelas air putih kepada Jihan. Ia mengeluarkan beberapa obat-obatan dari kontong plastik tersebut.


"Minum obatnya," ucap Ezryl sambil menyodorkan beberapa obat. Jihan mengambil obat yang ada di tangan Ezryl lalu meminumnya.


"Maaf jika aku membuatmu tak nyaman," ucap Ezryl lirih setelah melihat Jihan menelan obatnya.


"Ti-tidak, seharusnya aku yang minta maaf."

__ADS_1


"Hahaha... lupakan." Ezryl berusaha tertawa senatural mungkin, sayangnya dia tak memiliki bakat tersebut sehingga tawanya terdengar seperti sebuah mesin rusak.


"Ryl, apa rencanamu ke depannya?" tiba-tiba Jihan melontarkan pertanyaan kepada Ezryl. Tak mengerti dengan ucapan gadis tersebut, Ezryl mengangkat alisnya sebelah.


"Apa kau akan tetap menjadi model di Needia?" tanya Jihan lagi.


"Yap! Hanya itu yang dapat kulakukan saat ini," jawab Ezryl, pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa empuk berwarna cream tersebut.


"Untuk pertama kalinya aku merasa kehilangan arah di dunia yang asing ini," ucap Jihan. "Selama ini aku hanya bergantung pada Aideen."


Ezryl menghela nafasnya dengan berat sambil mendongakkan kepalanya menatap langit-langit. Ia tak bergeming.


"Lalu, apa yang ada dipikiranmu saat ini?" tanya Ezryl, ia menatap ke wajah Jihan dan gadis itu balik menatap wajahnya.


"A-aku tidak tau."


"Bagaimana jika kita pulang saja ke dunia nyata? Ini bukan dunia kita," ucap Ezryl sembari duduk tegap dan menghadap ke arah Jihan.


"Ba-"


"Bagaimana dengan Aideen?" Ezryl langsung memotong ucapan Jihan, dia sangat mengerti bahwa Jihan tak ingin meninggalkan pria itu, karena bagaimanapun dia masih berstatus istri sah Aideen.


"Iya, aku mengkhawatirkannya."


Jihan terdiam mendengarkan pertanyaan Ezryl. Pikirannya menerawang. Setelah dia ingat-ingat kembali, benar, selama ini yang dia pikirkan hanyalah Aideen, dia selalu menomor satukan setiap hal yang berhubungan dengan pria tersebut. Sampai-sampai dia lupa memikirkan bagaimana nasib dirinya sendiri di dunia yang asing itu.


"Ryl, aku harus bekerja di Needia!" seru Jihan tiba-tiba.


"Hah?"


"Iya! Sebelumnya aku menggantikan model yang masuk penjara itu. Meskipun masih kaku dan belum sepenuhnya bisa, tapi aku akan berusaha dan mencoba menjadi model yang terampil!" Jihan terlihat bersemangat dan menggebu-gebu. Sorot matanya yang sempat redup beberapa hari ini karena musibah yang menimpa Aideen, kini perlahan mulai bersinar kembali.


Ezryl tak menanggapi ucapan Jihan. Dia malah menjadi tak bersemangat.


"Jika kau masuk ke Needia, berarti kau akan kembali bersamanya?" batin Ezryl.


"Bagaimana?" Jihan memegang lengan Ezryl sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Tujuanmu?" tanya Ezryl pura-pura tidak tahu.


"Agar aku bisa mendekati Aideen lagi! Aku akan memulai semuanya dari nol!"

__ADS_1


"Kau lupa? Kyle akan selalu menempel dengannya? Apalagi saat ini Aideen sedang hilang ingatan, pasti wanita rubah itu akan memanfaatkan kesempatan emas ini," tukas Ezryl.


"Aku sudah memikirkan itu. Aku tetap akan mendekatinya secara perlahan dan bila saatnya sudah tepat, aku akan menceritakan padanya semua yang telah aku dan dia lewati."


"Kau pernah berfoto dengannya?" tanya Ezryl tiba-tiba.


Jihan mendadak diam mendengar pertanyaan Ezryl. "T-tidak."


"Apa dia memiliki fotomu?" tanya Ezryl lagi.


"Ku rasa ... tidak."


"Bagaimana dengan surat nikah? Apa kau membawanya denganmu?" tanya Ezryl lagi.


"T-tidak, aku tidak membawanya bersamaku."


"Lantas, kau hanya ingin mengandalkan cerita sepihakmu padanya? Bualan tanpa bukti nyata? Kau pikir, dia akan mempercayai semua itu? Apalagi jika Nyonya Margareta dan Kyle mengetahui rencanamu, kau akan menjadi bulan-bulanan mereka lagi!" cecar Ezryl tanpa henti.


"Okay, kau memutuskan untuk mendekatinya secara perlahan dari awal. Tapi sebelum itu, apa kau sudah memikirkan semua konsekuensi-konsekuensi yang akan kau hadapi? Aku tau rasa cintamu itu begitu besar padanya, tapi stop mengorbankan dirimu! Kau begitu berharga untuk disakiti berulang kali Jihan! Kau lupa? Tujuanku menyelamatkanmu dari kematian apa? Semua itu karena aku ingin kau bahagia!"


Suara Ezryl terdengar semakin lantang. Pria yang biasanya terkenal humoris dimata Jihan, kini menjadi seorang pria yang terlihat posesif dan lebih ingin mendominasi. Benar, dia khawatir. Tapi dia tak seharusnya mengungkit masa lalu.


"Aku tak memintamu menyelamatkanku!" ucap Jihan. Matanya berkaca-kaca saat mendengarkan ucapan Ezryl yang mengungkit-ungkit tentang jasa pria itu padanya.


"Aku tak memintamu menyelamatkanku! Kau yang menyelamatkanku! Kau! Dan sekarang kau mengungkitnya agar aku selalu ingat akan jasa yang telah kau perbuat padaku? Begitu?" kecam Jihan. Sorot matanya menajam ke arah Ezryl.


"J-Jihan, maaf. Aku tak bermaksud. A-aku hanya mengkhawatirkanmu," Ezryl meraih kedua lengan Jihan, ia menatap mata sendu yang sudah berkaca-kaca itu.


"Aku ... aku tak ingin kau terluka lagi, sungguh," sambungnya lirih.


"Aku tau maksudmu, tapi kata-katamu menyakitiku, Ryl."


"Maaf, maafkan aku. Aku berjanji untuk tak mengulanginya lagi. Tapi, bisakah kau berjanji satu hal padaku?"


"Apa?" Jihan mengerutkan keningnya mendengar permintaan Ezryl.


"Lakukanlah apapun yang kau mau, tapi jangan pernah terluka. Jika kau terluka, maka kau harus menatap ke arahku."


Lagi-lagi Jihan terdiam mendengar ucapan Ezryl. Pria tersebut benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2