CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT

CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT
BAB 26 - BERPISAH SEBELUM BERTEMU


__ADS_3

Di sebuah tempat yang gelap gulita tanpa secercah cahaya, Jihan berjalan perlahan-lahan. Tangannya meraba-raba ke kiri dan ke kanan untuk mencari sesuatu yang dapat dia jadikan titik tumpu. Sayangnya, tak ada satupun yang ia temukan sejak tadi.


“Ma,” terdengar sebuah suara anak kecil yang memanggil.


Jihan terdiam. Gerakan kakinya terhenti. Dia menggerakkan kepalanya ke kiri ke kanan mencari-cari asal suara yang tak diketahui itu. Sesekali dia memutarkan badannya melihat sekitar, padahal dia sendiri tau kalau saat ini dia tak dapat melihat apa-apa di tempat yang gelap gulita itu.


“Mama,” suara itu kembali menggema.


“Ini aku, Ma,” sambung suara itu. Suara yang begitu unik namun terdengar sedih.


“Si-siapa?” tanya Jihan. Tubuhnya bergidik ketakutan.


Tiba-tiba ada suara bayi yang sedang tertawa.


Saat mendengar tawa tersebut, Jihan segera memegang perutnya dan berdiri di tempat dengan posisi kaki yang sejajar. Gadis itu memejamkan matanya seraya menenangkan diri. Lalu dia mencoba fokus untuk mendengarkan dari mana suara itu berasal.


"Ini aku, Ma."


Tiba-tiba ada sesuatu yang menghentak perut Jihan dan masuk ke dalamnya. Jihan terbalak membuka paksa matanya, sesuatu yang masuk ke dalam perutnya itu sempat membuat nafasnya tertahan beberapa detik. Kedua tangan gadis itu dengan spontan memegang pinggangnya dari belakang saat perut yang semula datar itu mendadak buncit bak kandungan yang sedang berusia 9 bulan.


"Hihihi," tawa bayi itu kembali terdengar, namun kini suara tersebut berasal dari perut Jihan.


Di waktu yang sama, sekeliling Jihan yang semulanya gelap gulita, kini berubah menjadi terang benderang dengan hamparan taman bunga yang sangat luas.


Jihan terperangah. Matanya berkeliling melihat sekitar. Sayup-sayup terdengar bunyi angin yang bertiup lembut membelai rambut panjangnya dan mengibas-ngibas dress putihnya.


"Mamaaa," suara itu kembali terdengar dari dalam perut, sepertinya dia sedang memanggil Jihan.


Dengan takut-takut, Jihan mencoba meraba perutnya.


Dug!


Sebuah tendangan dari dalam mengejutkannya sehingga tangan itu terangkat. Namun dengan rasa penasaran, dia kembali memegang perutnya yang membengkak itu.


"Maafkan aku ya, Ma. Maafkan aku karena tidak berjuang agar bertahan lebih lama lagi sampai kita bertemu," ucap suara tersebut.


"K-kau-" Jihan terbata-bata, namun tak dapat melanjutkan perkataannya. Bibirnya terasa kelu.


“Ma. Jangan sedih ya, sekarang aku berada di sebuah tempat yang indah… saaangat indah. Walaupun tempat terindah yang pernah aku singgahi itu di perut, Mama.”


Airmata perlahan merembes dibalik kelopak mata Jihan yang tertutup. Gadis itu tak bergeming, hanya saja, kedua tangannya memeluk erat bagian perutnya. Saat itu dia sadar, siapa yang sedang memanggilnya.

__ADS_1


“Syukurlah, kalau kau telah berada di tempat yang indah,” ucap Jihan. Dengan mata yang terpejam, Jihan mengucapkan kalimat tersebut sambil tersenyum.


“Maafkan mama, Nak,” timpal Jihan.


Tiba-tiba suara itu kembali tertawa. Seperti suara bayi yang sedang tertawa bahagia karena diberikan mainan.


“Aku itu kuat, Ma!” ucap suara tersebut dengan penuh penekanan.


“Dapat melawan sel-sel lain, menurutku itu sudah menjadi pembuktian bahwa aku anak yang kuat. Hanya saja, aku tak ingin melanjutkan perjuanganku untuk berada di dunia yang kejam itu, hingga aku memutuskan untuk menyudahi semuanya. Maafkan aku ya, Ma.”


Tiba-tiba ada sebuah dorongan kuat dari dalam perut Jihan. Tak lama kemudian, ada sebuah cahaya yang keluar dari perut itu seiring dengan mengempesnya perut Jihan. Cahaya tersebut terbang menjauh darinya.


Sekitar 500 meter, cahaya tersebut berhenti di awang-awang dan mendadak berubah menjadi seorang anak kecil berambut panjang yang menggemaskan.


Anak kecil tersebut perlahan menapaki kakinya di tengah-tengah ribuan bunga yang sedang mekar. Dia berlari-lari kegirangan melihat kupu-kupu yang sedang hinggap di atas bunga yang sedang mekar dengan sempurna.


Tak lama kemudian, anak kecil itu berhenti dari kesibukannya. Dia menoleh ke arah Jihan yang sedari tadi tak bergeming. Anak kecil itu melambaikan tangannya pada Jihan. Tanpa sadar, Jihan membalas lambaian tangan tersebut.


"Aku sayang Mamaaa!" seru anak kecil tersebut dari kejauhan.


"Mama jangan sedih ya! Di sini aku bahagia! Jadi, Mama juga harus bahagia bersama papa!" lanjut anak kecil tersebut. Dia kembali berlari-larian, namun kini arahnya semakin jauh dan perlahan kian menghilang dari pandangan.


...****************...


"Anak yang menggemaskan," desisnya lirih.


“Mungkin ini yang disebut berpisah sebelum bertemu,” Jihan tersenyum getir. Tangan kanannya mengelus lembut perutnya yang kini tak lagi berpenghuni.


Saat tangan kanan sibuk mengelus perut, tangan yang sebelahnya terasa kram seperti tertimpa sesuatu yang berat. Dia menoleh ke sebelah kiri. Gerakan tangan kanannya terhenti saat melihat sosok pria yang sedang lelap dibuai mimpi sedang menggenggam erat tangan kanannya.


“Aideen?” gumam Jihan. Cukup melihat sekilas saja, siapapun pasti tahu bahwa pria ini kelelahan dan kurang tidur karena berjaga semalaman.


Jihan menganjakkan tangan kanannya dari perut dan menaruhnya di kepala Aideen. Dia membelai lembut kepala itu dengan penuh kasih sayang sambil berkata, “apakah dia juga sedang berpamitan denganmu?”


“Hmm,” gumam Aideen. Pria itu sepertinya terusik dengan belaian tangan Jihan. Dia kembali mencari posisi nyaman untuk melanjutkan tidurnya dengan memindahkan posisi kepalanya yang berada di sisi ‘Hospital Bed’.


Namun, saat dia ingin memindahkan posisi kepalanya, seketika matanya terbuka dengan lebar. Pria itu langsung bangkit dari tidurnya dan duduk dengan tegap.


“Sayang!” seru Aideen dengan nada yang terkejut. Sebuah senyuman terukir di wajah lelahnya.


“Terima kasih karena sudah sadar!” sambungnya. Kedua tangan pria itu menggenggam tangan kiri istrinya dengan erat, lalu dia memberikan ciuman bertubi-tubi pada tangan itu.

__ADS_1


“Kau tau! Aku sangat mengkhawatirkanmu!” Aideen tak henti-hentinya mencium tangan itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Jihan yang masih terbaring lemas dengan wajah yang pucat, seketika tertawa melihat tingkah tak biasa suaminya.


“Hahaha… kau terlalu mencemaskanku. Aku baik-baik saja, Sayang,” ucap Jihan sambil membelai lembut pipi Aideen.


“Tadi, aku ber-“


Pembicaraan Jihan terpotong saat mendengarkan suara ketukan pintu dari luar.


Tok tok tok.


Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan. Tubuh yang tak asing dan sangat familiar itu terlihat sedang menenteng 2 buah keranjang yang berisikan buah-buahan.


"Syukurlah, kau sudah sadar," ucap Ezryl sambil berjalan mendekati Aideen dan Jihan.


"Aku tak tau kau menyukai buah apa? Jadi aku membelikan semuanya," sambung Ezryl sambil meletakkan keranjang tersebut di atas meja kecil yanga ada di samping ranjang Jihan.


"Hahaha... terima kasih, tapi aku tak dapat menghabiskannya sendiri, itu terlalu banyak," ucap Jihan.


"Aku akan menyuapimu dan menemanimu menghabiskannya," ucap Ezryl. Pria itu sadar bahwa perkataannya merupakan sebuah kalimat yang dapat memancing api cemburu Aideen.


"Biarkan aku yang menyuapinya!" Ketus Aideen. Raut wajahnya seketika menjadi kecut.


"Ck! Baru saja dipancing, umpannya langsung dimakan!" gerutu Ezryl dalam hati.


"Kau ingin menyuapi Jihan dengan buah yang ku beli?! Kemana uang banyakmu itu? Untuk menyuapi istrimu saja menggunakan buah yang dibeli oleh orang lain," ejek Ezryl. Pria itu mencebik dengan kedua bahu yang terangkat.


Aideen yang kesal mendengarkan kalimat itu, dia merogoh kantong celananya, lalu pria itu mengeluarkan ponsel. Dia terlihat sedang mencari kontak yang ingin dia hubungi. Setelah mendapatkan yang ia cari, Aideen mengarahkan ponsel itu ke telinganya.


"Halo, Chris. Belikan Nyonya semua buah-buahan import yang segar! Segera kirimkan ke rumah sakit!" Aideen mematikan ponselnya.


"Ck! Membelikan sesuatu untuk orang tercinta saja malas! Malah menyuruh orang lain!" ejek Ezryl sambil mengeluarkan anggur dari keranjang buah.


"Ezrylll," panggil Jihan sambil menahan tawa. Gadis itu sudah sangat familiar dengan situasi yang sedang dia hadapi saat ini. Dia mengedipkan kedua matanya ke arah Ezryl agar pria itu segera berhenti mengusili Aideen.


"Ya, baiklah, baiklah. Aku hanya merasa bosan," Ezryl asal nyeletuk. Padahal pria itu sudah sangat kesal kepada Aideen karena setiap hal buruk yang terjadi pada Jihan, semua itu karena Aideen.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2