
...“Aku akan mencoba melupakan Aideen.” - Jihan...
...✍🏻✍🏻✍🏻...
Kyle menatap lekat ke arah wajah Aideen yang sedang sibuk menyuapi mulutnya dengan bubur yang ada di mangkok yang ia pegang. Pria itu terlihat menikmati sarapannya. Kyle menatap wajah pucat itu dengan seksama. Ada rasa mengelitik yang mengusiknya, entah perasaan apa itu, ia pun tak mengerti.
“Andai kau bukan anak dari pasangan itu, mungkin saja kita sudah bersatu tanpa hambatan. Yah, meskipun aku sedikit kecewa karena kau tidur dengan gadis itu, bukan denganku,” batin Kyle.
“Kau membuatku tak nyaman,” celetuk Aideen tiba-tiba. Celetukan tersebut sukses membuat Kyle tersontak kaget dari lamunannya.
“Maaf, aku hanya merindukanmu,” ucap Kyle. Kalimat spontan yang ia sendiri tak sadar kenapa ia mengucapkannya, terasa mengganjal di hatinya.
“Rindu?” pikir Kyle.
“Apa hubungan kita?” tanya Aideen. Ia meletakkan mangkok yang sudah licin itu ke atas meja yang ada di sampingnya.
“Kita sudah bersama sejak SMP kelas satu. Saat itu, kau terkenal karena pendiam dan tak punya teman. Aku bisa bersekolah di sekolah yang mahal itu karena orangtuamu,” ucap Kyle.
“Orangtuaku? Kenapa?”
“Ayahku bekerja sebagai supir di keluargamu. Suatu hari ….”
Kyle menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.
“Suatu hari, kedua orangtuamu meminta ayahku mengantarkan mereka ke sebuah pertemuan. Ayah pergi meskipun aku melarangnya karena saat itu ayah sedang sakit. Aku melepaskan kepergian ayah dengan berat hati pada siang itu. Sejam setelah ayah berangkat kerja, aku mendapatkan kabar bahwa ayah kecelakaan bersama kedua orangtuamu, dan … dan mereka meninggal dengan mengenaskan,” ucap Kyle lirih. Wanita itu menundukkan kepalanya sambil kedua tangannya terpaut di sisi ranjang Aideen.
“M-maaf. Karena kau harus mengingat kisah pilu ini lagi,” ucap Aideen. Pria itu mendaratkan tangannya ke atas kedua tangan Kyle. Dia mengusap lembut kedua tangan Kyle. “A-aku benar-benar tak dapat mengingat apapun.”
Kyle tersentak kaget, ia mengangkat wajahnya menatap ke arah Aideen. Pria itu terlihat khawatir. “Kau tak perlu minta maaf. Itu lah alasan kenapa aku berada di sini sekarang.”
“Lalu, hubungan kita … apa?” tanya Aideen ragu-ragu.
Kyle tak menjawab pertanyaan pria tersebut, ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu segera membuka galeri foto dan menyodorkan ponselnya ke arah Aideen. Aideen meraih ponsel tersebut dari tangan Kyle.
“Kau lihat, itu adalah kita. Kau sedang menyarungkan cincin tunangan ke jari manisku,” jelas Kyle sambil menunjuk ke arah foto yang terpampang di layar ponselnya.
Aideen menatap ke arah Kyle dan foto yang ada di layar, kedua wajah wanita itu sama.
__ADS_1
“Seharusnya, sekarang kita telah menjadi sepasang suami istri, tapi ….”
“Tapi?” Aideen mengerutkan keningnya.
“Pernikahan kita batal.”
“Batal? Kenapa?”
“Dia menjebakku dengan seorang pria di hotel, lalu dia memanggil reporter untuk datang ke hotel tersebut. Kau yang melihatnya langsung percaya tanpa mendengarkan sepatah katapun dari ku,” jelas Kyle lirih.
“Apakah gadis kemarin yang ditampar oleh wanita tua itu?” tanya Aideen.
“Iya. Wanita tua itu adalah nenekmu, Nyonya Margareta. Sedangkan gadis itu bernama Jihan.”
“Jihan?” ucap Aideen. Pria itu menyebut nama Jihan. Ada debaran yang aneh saat ia menyebut nama gadis itu, padahal gadis itu merupakan biang kerok di sini. Seharusnya ia merasa kesal dan marah, tapi perasaan apa ini? Sekilas, kejadian kemarin mengusiknya. Wajah Jihan yang tertunduk itu terbayang-bayang di kepalanya.
“Ya. Namanya adalah Jihan.”
Aideen memegang kepalanya, ada rasa sakit yang menusuk yang tak dapat ia jelaskan. Kepalanya terasa berputar-putar, pandangannya mendadak kabur dengan jantung yang tiba-tiba berdetak dengan cepat. Saat itu, tiba-tiba wajah Jihan yang sedang tersenyum terbayang-bayang di kepalanya.
“Argh!” pekik Aideen.
...****************...
Di waktu yang sama, di sebuah apartemen yang di tinggali oleh Ezryl dan Jihan, keduanya sedang duduk bersebelahan di sofa sambil menonton siaran yang ada di tv.
“Aku mendapatkan tawaran bermain film,” ucap Ezryl tiba-tiba.
Jihan tersentak kaget, gadis itu langsung duduk dengan tegap dan menghadap Ezryl. “Kau serius?!”
Ezryl mengangkat kedua alisnya, “Untuk apa aku bercanda, Tuan Putri.”
“Wah! Ini sangat luar biasa. Aku pikir, kejadian seperti ini hanya ada di komik, tapi ternyata ….” Jihan tak melanjutkan ucapannya, ia mengerutkan keningnya sambil menatap ke atas tanpa arah.
“Ck! Ini kan memang dunia komik, Tuan Putri,” timpal Ezryl sambil tertawa, lalu pria itu mencubit pipi Jihan.
“Aww!” pekik Jihan. Teriakannya melengking sampai ke telinga Ezryl sehingga Ezryl menutup telinganya menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
“Kau ini! Sakit, ih!” Jihan meringis kesakitan dengan wajah yang mendadak cemberut.
“Aku tidak salah, bukan? Kita ini memang sedang di dunia komik! Hahaha.”
“Kau memang benar. Huft. Enak ya,” ucap Jihan sambil menatap ke arah Ezryl lagi.
“Enak?”
“Ya enak, kau sudah memiliki pekerjaan dan sekarang tinggal menjalaninya. Tak seperti aku yang masih pengangguran. Padahal aku ini masih seorang mahasiswa yang hampir tamat tau!”
“Bagaimana jika kau kuliah di sini?” tanya Ezryl tiba-tiba sambil duduk tegap menghadap Jihan. Keduanya saling duduk berhadapan.
“Eum … tidak usah, kuliah itu mahal.”
“Hei, aku ini akan menjadi superstar!” seru Ezryl sambil membusungkan dadanya. “Biaya kuliah bukanlah masalah besar untukku.”
“Ya tetap saja, aku ‘kan sudah bertekad untuk tidak bergantung pada siapapun.”
“Kau benar, tapi apa salahnya mencoba jika kau belum tau ingin melakukan apa saat ini?”
“Akan ku pikirkan,” ucap Jihan. Ia kembali menghempaskan punggungnya bersandar di sofa di susuli Ezryl.
“Hei, aku sudah memutuskannya,” tutur Jihan tiba-tiba. Ia mengatakannya tanpa menatap ke arah Ezryl. “Aku akan mencoba melupakan Aideen.”
Ezryl terbelalak. Dia yang tadinya bersandar di sofa sambil menikmati siaran yang ada di tv, sontak duduk menghadap ke arah Jihan. Matanya mendadak cerah. Ada harapan, pikirnya.
“Kau benar, untuk apa aku hidup jika terus-terusan sengsara dan menderita? Aku yakin, Kyle dan kedua wanita itu akan memperlakukan Aideen dengan baik. Jadi, aku memutuskan untuk meneruskan hidupku.”
“Jihan!” suara lantang Ezryl seketika menggema sehingga membuat gadis itu dengan refleks menutup telinganya menggunakan kedua tangan.
“Kau mengagetkanku!” ucap Jihan dengan mata yang membulat.
“Ma-maaf, tapi aku lega mendengarkannya. Kau harus hidup dengan bahagia!” ucap Ezryl. “Jika kau tak bahagia, aku bersedia membahagiakanmu.”
“Ezryllll?” Jihan mengerlingkan matanya ke arah Ezryl. Pria itu benar-benar bersemangat. Ia tak tau apakah ini merupakan keputusan yang benar atau salah, hanya saja, ia ingin mencoba hidup dengan bahagia mulai sekarang. Yang berlalu, biarlah berlalu.
“Aku serius, jika kau tak bahagia, maka aku akan membahagiakanmu. Sungguh!” ucap Ezryl.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...