
"Wanita sialan!" Umpat Aideen. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras menahan amarah. Aideen bergegas mendekati tubuh Jihan. Di saat yang sama, Dina dan Dini berlarian dari dapur menuju ke arah Jihan, Aideen dan Kyle.
"Dengarkan aku. Jihan terpeleset dari tangga, dan a-"
"Diam! Kau tak pantas menyebut namanya!" Potong Aideen. Dia bergegas membopong tubuh Jihan menuju garasi mobil diikuti Dina dan Dini. Wajah ketiga orang itu terlihat cemas. Sesekali Aideen melirik wajah istrinya yang tak sadar.
"Bertahanlah, jangan sampai terjadi apa-apa padamu," batin Aideen.
Saat tiba di garasi, Dina membukakan pintu belakang agar Aideen dapat memasukkan tubuh istrinya.
"Dina, masuk, kau ikut aku ke rumah sakit," titah Aideen, "aku akan menyetir mobil."
"Baik, Tuan."
Setelah Dina masuk ke dalam mobil, Aideen memasukkan tubuh istrinya dan merebahkan tubuh Jihan ke kabin belakang dengan posisi kepala Jihan ditidurkan di paha Dina.
"Dini, segera hubungi Edward, katakan padanya aku menuju rumah sakit," titah Aideen lagi. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan mengidupkan mesin mobilnya, lalu melaju ke arah Rumah Sakit Garuda Kencana. Pria itu benar-benar mencemaskan istrinya.
...****************...
Di waktu yang sama, Kyle tampak sedang mondar mandir di depan tangga yang masih meninggalkan bekas darah Jihan. Dia melipatkan satu tangannya ke dada dan satu lagi di pangku di atas lipatan tangan tadi dengan jari di mulut, dia menggigiti kuku jempolnya.
"Ini bukan salahku!" Gumam Kyle tak tenang. Matanya berkeliling mencari sesuatu.
"Seharusnya ada cctv di rumah sebesar ini," gumamnya lagi.
"Sial! Aku lupa kalau Aideen selalu enggan meletakkan cctv di rumahnya dengan alasan privasi, hanya ada cctv di luar rumah!" Gerutu Kyle. Dia benar-benar sedang memutar otaknya bagaimana cara membuktikan kepada Aideen bahwa ini semua bukan ulahnya.
Tak lama kemudian, Dini masuk ke rumah dan bergegas menghubungi Edward. Setelah itu, dia mengambil kain lap untuk membersihkan darah Jihan yang ada di lantai.
"Dini! Kau lihatkan tadi, aku sama sekali tak mendorong gadis itu?!" Ucap Kyle. Dia menatap Dini dengan tatapan yang ingin menerkam, padahal hanya sekedar bertanya. Tapi karena dia sudah ketakutan duluan, tanpa sadar mengeluarkan ekspresi yang menakutkan seperti itu.
__ADS_1
"M-maaf, saya tidak lihat, Nona."
"Hei! Kenapa kau ketakutan melihatku seolah-olah kau sedang melihat seorang pembunuh di depan matamu?" Tuduh Kyle. Dia merasa tak nyaman dengan tatapan asing Dini yang sedang ketakutan itu.
"T-tidak, Nona. S-saya-"
Ucapan Dini terpotong saat tiba-tiba ada orang yang sedang memasuki rumah.
Nenek Aideen dan Ibu Reyna, yaitu Nyonya Margareta dan Nyonya Reyna. Kedua orang ini memasuki rumah tersebut dengan tatapan yang penuh tanda tanya saat melihat Kyle yang sedang cemas dan pucat bersama Dini yang sedang memegang kain lap, terlebih lagi mereka melihat darah di lantai.
"D-darah siapa itu?!" Tanya Nyonya Reyna, dia bergegas ke arah Kyle lalu memeriksa tubuh putrinya dari atas hingga bawah. Wanita paruh baya itu ingin memastikan setiap inci dari tubuh anaknya tidak ada yang terluka.
"Kau tidak apa-apa 'kan sayang?" Tanya Nyonya Reyna lagi. Dia ingin memastikan bahwa anaknya tidak kenapa-kenapa setelah tidak menemukan sedikitpun luka di tubuh Kyle.
"Apa yang terjadi, Dini? Darah siapa itu?!" Tanya Nyonya Margareta dengan penuh penekanan. Wajah keriputnya itu semakin mengkerut saat kedua alisnya di gerakkan ke atas secara bersamaan saat bertanya pada Dini.
"Nyo-nyonya Jihan jatuh dari tangga, Nyonya. Se-sepertinya beliau keguguran," jawab Dini terbata-bata.
"Sepertinya dia sengaja!" Ucap Nyonya Reyna tiba-tiba, "aku yakin sekali bahwa dia sengaja karena bayi di dalam kandungannya itu bukan anak Aideen!"
Mendengar ucapan spontan Nyonya Reyna, suasana di ruangan itu seketika hening tak bergeming. Kyle tak dapat membantah ucapan ibunya, dia hanya terdiam dan tertunduk, pandangannya lurus ke bawah menatap lantai. Sedangkan Nyonya Margareta menghela nafasnya dengan berat. Dini yang menyadari omong kosong Nyonya Reyna hanya diam tak dapat berbuat apa-apa karena situasi saat ini sangat tak menguntungkannya sebagai seorang pembantu rumah tangga.
"Kita ke rumah sakit!" Titah Nyonya Margareta, "rumah sakit mana yang di tuju Aideen?"
"R-rumah Sakit Garuda Kencana, Nyo-nyonya," jawab Dini terbata-bata. Matanya tak berani melihat ke arah Kyle dan Nyonya Reyna.
Mendengar jawaban dari Dini, Nyonya Margareta berjalan perlahan-lahan menggunakan tongkatnya menuju lobby di mana supirnya masih menunggu.
"Nyo-nyonya Margareta, aku ingin berbicara dengan anakku sebentar," ucap Nyonya Reyna agar Nyonya Margareta menunggu di dalam mobil sambil dia berbicara dengan Kyle.
Nyonya Reyna bergegas menarik paksa tangan Kyle dengan kuat menuju dapur agar tak terlihat oleh Dini.
__ADS_1
"S-sakit, Ma," rintih Kyle.
Wanita paruh baya itu tak mengindahkan rintihan putrinya, dia menjambak rambut Kyle dengan kuat dan mendekatkan wajahnya ke telinga Kyle.
"Hal kecil seperti ini saja kau tak becus!" bisik Nyonya Reyna ke telinga Kyle.
"Jika kau tak ingin aku menjualmu kepada pria tua di luar sana, maka rebut hati Aideen dan rampas seluruh harta pria itu!" Ancam Nyonya Reyna lagi.
Bisikan itu benar-benar kecil sehingga tak terdengar oleh Dini yang sedang sibuk membersihkan darah Jihan di depan tangga, di tambah jarak tanggan dan dapur lumayan jauh. Setelah membisikkan ancaman tersebut, Nyonya Reyna menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangannya dari rambut Kyle.
"Sayang, mama pergi dulu ya. Tenang saja, mama akan memastikan bahwa gadis itu sengaja menjatuhimu," ucap Nyonya Reyna dengan lantang agar terdengar oleh Dini.
Setelah memberikan ancaman tersebut, wanita paruh baya itu bergegas menuju lobby meninggalkan Kyle sendiri di dapur.
Kyle menitikkan airmatanya tanpa sengaja. Rasa sesak di dadanya membuncah tak tertahankan. Dia bergegas lari meninggalkan dapur dan menaiki anak tangga. Sayangnya dia salah menginjak anak tangga sehingga terpeleset.
Gubrak!
Dini yang tak sengaja melihat kejadian itu terperangah.
"Nona!" Seru Dini sambil berdiri mendekati Kyle. Dia berusaha memegangi Kyle dan membantunya bangun dari jatuh.
Kyle menangkis tangan Dini yang ingin membantunya. Wanita itu bergegas bangun dan berlari ke lantai 2 menuju kamar. Setelah tiba di kamar, dia menghempaskan pintu kamar itu dengan sangat kuat. Lalu dia mendekati meja riasnya yang dipenuhi produk skincare dan produk make up. Dia menjatuhkan semua barang-barang yang ada di meja rias tersebut dengan kedua tangannya dengan sekali dorong. Lalu wanita itu berteriak histeris.
"Aaarggghhh!!!" Teriaknya. Dia benar- enar mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan sebuah teriakan.
Wanita itu menyandarkan dirinya ke dinding dan duduk tersungkur sambil menjambaki rambutnya sendiri. Airmata mengalir membasahi pipinya.
"Apa salahku!" Umpat Kyle sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Apa salahku sampai harus terlahir dari rahim wanita binatang itu!" Umpatnya lagi. Wanita itu tersedu-sedu di sela tangisnya. Dia benar-benar buntu dan tak tahu harus berbuat apalagi saat itu. Dia menengadah sambil menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan yang hampa dan putus asa.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...