
Jihan menggigit bibirnya menahan sakit saat melepaskan infus. Jarum yang menancap di pembuluh darahnya, ia cabut dengan paksa sehingga mengakibatkan banyaknya darah yang bercucuran keluar.
"Nyo-nyonya!"
"Jihan!!!"
Kedua pria itu berteriak dengan lantang di saat yang bersamaan. Mereka terkejut saat melihat keberanian Jihan menarik paksa jarum infus dan bergegas turun dari kasur pasiennya.
"Di mana Aideen?!!" Jihan menatap lekat ke arah Chris. Gadis itu tak lagi peduli dengan darah yang tak henti-hentinya keluar dari pembuluh darahnya. Yang ada di pikirannnya saat ini hanyalah, 'bagaimana keadaan suaminya sekarang?'
"Tuan ada di rumah sakit ini, Nyonya. Di ruang UGD."
"Jihan, tunggu sebentar, aku akan memang-"
"Segera bawa aku ke sana!" Perintah Jihan pada Chris. Ia benar-benar tak peduli pada dirinya, bahkan ia mengindahkan perkataan Ezryl.
Chris terjebak di situasi yang mendesak. Satu sisi dia harus membawa Jihan ke ruangan Aideen, tapi di sisi lain, Jihan merupakan pasien yang belum sembuh total dan harus mendapatkan penanganan lebih lanjut, terlebih lagi tangannya mengalami pendarahan karena pencabutan infus dengan paksa.
"Chris!!!" Panggil Jihan dengan nada yang penuh penekanan. Tatapannya benar-benar bak silet yang kapan saja dapat melukai orang yang berani membantahnya.
"Baik, Nyonya. Kita ke sana sekarang," ucap Chris.
Ezryl yang saat itu sadar bahwa Jihan belum sepenuhnya pulih bahkan berdiri saja belum stabil, dia segera mengambil kursi roda yang ada di dalam ruangan tersebut yang telah disediakan oleh rumah sakit. Pria itu menyodorkan kursi roda ke arah Jihan.
"Duduklah. Aku akan mengantarmu, simpan tenagamu untuk merawat Aideen nanti," bujuk Ezryl. Entah dari apa hati pria itu terbuat, dia benar-benar tulus mengantarkan wanita yang ia cintai kepada rivalnya sendiri.
Jihan yang merasa tak ada pilihan lain, dia duduk ke atas kursi roda tersebut, lalu mereka bertiga menuju ke ruang UGD dengan perasaan yang tak tenang.
"Kau harus selamat! Apapun yang terjadi!" Gumam Jihan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, setelah melewati lorong, menaiki lift dan sedikit berjalan melewati lorong lagi, akhirnya mereka tiba di depan ruang UGD. Ketiga orang tersebut menunggu di depan ruang UGD dengan gelisah. Jihan yang sedari tadi hanya duduk di atas kursi roda, dibuat tak tenang menunggu hasil dari dokter. Chris terlihat sedang mondar mandir karena cemas, sedangkan Ezryl duduk tak tenang di kursi yang ada di depan ruang UGD.
Di saat yang sama, Ezryl tak sengaja menoleh ke arah kiri, matanya menangkap sosok wanita yang berjubah hitam di ujung lorong yang sepi itu. Wanita tersebut terlihat seperti sedang memperhatikan mereka bertiga dengan seksama. Tak ingin kehilangan jejak wanita tersebut, Ezryl bangkit dari duduknya dan berlari ke arah lorong tersebut. Namun sayangnya, sosok tersebut segera menghilang tanpa jejak.
"Sial!" Umpat Ezryl. "Aku yakin, yang ku lihat tadi adalah malaikat maut!"
Ezryl menyibak kasar rambutnya ke atas menggunakan kedua tangan. Dia berdecak sebal.
"Tak mungkin Aideen meninggal 'kan?!!" Gumamnya. Pria itu benar-benar dibuat frustasi karena kemampuan yang sebelumnya ia miliki di dunia nyata, tak berguna saat di dunia komik. Merasa bahwa pengejarannya sia-sia, Ezryl kembali menuju ke ruang UGD menunggu hasil dari dokter yang menangani Aideen.
Ceklek!
Sosok pria yang tak asing, tampak keluar di balik pintu ruang UGD mengenakan atribut dokter berwarna hijau, menggunakan masker dan sarung tangan karet.
"Dokter Edward, bagaimana keadaan Aideen?" Tanya Jihan tak sabar. Gadis itu langsung berdiri dari kursi rodanya.
"Bagaimana keadaan cucuku?!!!" Suara lantang Nyonya Margareta terdengar dari sudut lorong yang tak jauh dari ruang UGD. Wanita tua tersebut berlari tertatih-tatih ke arah Edward diiringi Kyle dan Nyonya Reyna.
"Jawab, Edward?!" Desak Nyonya Margareta.
"Kritis, Nek." Edward mengucapkannya dengan nada suara yang berat. "Saat ini dia sedang koma dan tak sadarkan diri."
Semua yang ada di depan ruangan UGD menunggu kabar Aideen terperangah. Jihan, Kyle dan Nyonya Reyna spontan memegang mulut mereka secara bersamaan karena terkejut mendengar kabar buruk tersebut. Sedangkan Ezryl dan Chris, mereka terdiam mematung tanpa bicara sepatah kata pun.
Satu detik, dua detik, waktu berlalu. Tak ada satupun yang berani memulai pembicaraan. Ingin rasanya Jihan berteriak memanggil suaminya berlari ke dalam ruang UGD, namun tenggorokannya seolah terbungkam dan pita suaranya seolah tak berfungsi. Terlebih lagi di sana dia tak sendiri, bahkan ada beberapa orang yang tak senang dengan kehadirannya sehingga dia tak memiliki keberanian untuk berkata-kata.
"Kau!" Nyonya Margareta menunjuk Jihan menggunakan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang tongkat dan mencengkeram kepala tongkat tersebut dengan kuat.
"Dasar kau pembawa sial!!!" Kutuk Nyonya Margareta lagi kepada Jihan. Gadis itu hanya tertunduk tak berkutik. Beberapa perawat dan pengunjung rumah sakit yang sedang lalu lalang, sesekali melihat ke arah Nyonya Margareta yang mengutuk Jihan, mereka seolah-olah sedang menyaksikan sebuah tontonan yang menarik dan bahkan ada yang bisik-bisik 'apa yang terjadi'.
__ADS_1
"Cucuku menjadi seperti ini karena kau!!! Seumur hidupnya, dia tak pernah membantah dan melawanku, bahkan dia bukanlah anak yang pembangkang, tapi sejak kehadiran kau!!! Dia menjadi orang yang tak ku kenal! Dan sekarang dia kecelakaan karena kau!!!" Nyonya Margareta mengakhiri perkataannya sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai, hentakan tongkat tersebut sangat mewakili emosinya yang meluap-luap.
"Nek," ucap Jihan, gadis itu mendekat ke arah Nyonya Margareta.
"Siapa yang kau panggil Nenek?!! Aku bukan nenekmu!" Sanggah Nyonya Margareta dengan penuh penekanan sehingga semua yang ada di sana beberapa ada yang berhenti untuk menyaksikan pertengkaran tersebut.
"Maafkan aku, Nyonya. A-aku-"
"Sudah! Kau tak perlu bicara apa-apa lagi! Kau hanya memperburuk kesehatan, Nyonya!" Sanggah Nyonya Reyna yang tak ingin membiarkan Jihan berbicara kepada Nyonya Margareta. Nyonya Reyna memapah tubuh renta Nyonya Margareta untuk duduk di kursi yang ada sambil mengusap lembut bahu wanita tua itu.
"T-tapi, aku ingin menjelaskan semua yang terjadi," ucap Jihan sambil berusaha berjalan ke arah Nyonya Margareta.
"Apalagi yang harus dijelaskan?! Semuanya sudah jelas! Dasar pembawa sial!" Kyle yang sejak tadi terdiam, kini berbicara dan memojokkan Jihan sambil menghadang Jihan menggunakan tubuhnya agar Jihan tidak mendekati Nyonya Margareta.
"Sampai Aideen kenapa-napa, aku tak akan tinggal diam!" Bentak Kyle dengan mata yang melotot.
Tak tahan melihat Jihan menjadi bulan-bulanan ketiga wanita itu, Ezryl dan Chris secara bersamaan memegang bahu Jihan, sehingga tangan Chris dan Ezryl saling bersentuhan. Mereka terdiam, lalu bertatapan, Chris yang sadar akan posisinya, dia memilih melepaskan tangannya dari bahu Jihan.
"Ayo kita kembali ke ruangan, aku akan meminta Chris mengabari kita jika Aideen sudah sadar," bujuk Ezryl.
"Benar, Nyonya. Anda harus beristirahat agar Tuan tidak sedih saat ia sadar nanti," timpal Chris.
"Benar, kau istirahatlah dulu, aku akan memantau keadaan Aideen," ucap Edward yang sedari tadi terdiam.
Keadaan yang sangat menyulitkan ini, membuat Jihan tak dapat berkata-kata atau membantah. Dia hanya mempunyai satu pilihan, yaitu mengikuti semua perkataan yang disarankan oleh Ezryl, Edward dan Chris. Gadis itu kembali duduk di kursi rodanya dengan hati yang hampa. Ada kekosongan yang tak dapat diisi oleh siapapun di dalam hatinya. Bukan kekosongan karena kepergian Aideen, tapi kekosongan karena suaminya yang saat ini bak mayat hidup dan nyawanya sedang di ujung tanduk, kapan saja siap untuk di bawa pergi oleh malaikat maut.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1