
Bau khas Karbol yang menusuk hidung dengan hiruk pikuknya manusia berseragam putih dan hijau yang lalu lalang dengan wajah yang cemas serta setengah berlari, terlihat Aideen dan Dina yang sedang duduk dengan cemas menunggu di kursi yang di sediakan di depan ruang UHD.
Aideen menangkupkan kedua tangannya ke wajah sambil sikunya menopang di lutut. Pria itu tak henti-hentinya menghela nafas dengan berat. Tiba-tiba dia menatap ke arah Dina dengan wajah bertanya-tanya.
"Din, kau belum pernah mendengarkan wanita yang meninggal karena keguguran 'kan?
"Pernah, Tuan. Bahkan, tante saya meninggal karena keguguran," jawab Dina polos. Dia seolah-olah mengiyakan memperkuat argumen bahwa ada wanita yang meninggal karena keguguran.
Seketika Aideen langsung berdiri dari duduknya. Dia semakin dibuat gelisah setelah mendengarkan jawaban Dina. Pria itu mondar mandir di depan ruangan UDG sambil sesekali memijat-mijat pelipisnya.
Krietttt.
Pintu UDG tersebut berderit. Tampak seseorang yang berpakaian seragam scrub tersanitasi berwarna hijau keluar dari ruangan itu. Dia membuka masker yang menutupi wajahnya menggunakan tangan yang masih berbalut sarung tangan karet latex. Dia adalah Edward.
"Bagaimana istriku?!" Tanya Aideen cemas. Intonasinya sangat berat namun penuh dengan penekanan.
"Maaf, aku tak dapat membantumu kali ini," ucap Edward sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menghempaskan nafasnya dengan keras.
"Apa maksudmu?" Tanya Aideen.
"Istrim-"
"Hei, istriku baik-baik saja 'kan? Dia tak mungkin meninggal hanya karena keguguran kan?!!" Bentak Aideen tak tahan. Pria itu memotong pembicaraan Edward sambil menarik kerah baju Edward. Dia benar-benar takut kehilangan Jihan.
"Tenanglah, istrimu baik-baik saja," ucap Edward. Pria itu memegang tangan Aideen yang menarik kerah bajunya.
"Dia baik-baik saja. Namun, aku tak dapat menyelamatkan anakmu," sambung Edward.
"Dasar wanita licik!" Umpat Nyonya Margareta yang tiba-tiba muncul dari sudut lorong rumah sakit itu, dia mendengar perkataan Edward bahwa bayi yang dikandung Jihan tak dapat diselamatkan.
"Nyo-nyonya!" Seru Dina. Seketika dia bangkit dari duduknya saat melihat Nyonya Margareta yang menghampiri bersamaan dengan Nyonya Reyna.
Kedua wanita itu berjalan mendekat.
"Rencana busuk wanita liar itu benar-benar sukses sesuai rencana!" Geram Nyonya Margareta. Dia mencengkeram erat kepala tongkatnya sambil bergetar.
"Benar Nyonya, wanita itu sangat handal dalam memainkan peran. Bagaimana bisa dia mengorbankan bayi dalam perutnya karena itu bukan anak Aideen!" Timpal Nyonya Reyna. Wanita itu benar-benar telah mengompori nenek Aideen agar percaya dengan fitnahnya.
"A-apa maksud Nenek? Apa maksud Nyonya Reyna?" Tanya Aideen tak paham. Dia melepaskan cengkraman tangannya dari kerah Edward dan menatap ke arah kedua wanita yang baru muncul itu.
"Anak yang dikandung Jihan itu bukan anakmu!" Tukas Nyonya Margareta sambil menghentakkan tongkatnya. Dia terlihat menahan amarah.
__ADS_1
"Atas dasar apa nenek berkata seperti itu?" Tanya Aideen. Dia mengernyitkan kedua keningnya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Aideen! Kau benar-benar sudah tertipu oleh kepolosan wanita itu! Dia telah merencanakan hal buruk agar dapat bersamamu. Karena janin yang diperutnya bukan anakmu, dia menggugurkan janin itu dengan dalih jatuh dari tangga, padahal, dia takut kau tahu bahwa janin itu bukan anakmu!" Jelas Nyonya Reyna. Dia benar-benar sedang memfitnah dan menjatuhkan Jihan.
"Aku dengar, istrimu dekat dengan pria yang tinggal di rumah," lanjut Nyonya Reyna.
"Itu hanya sebatas teman, tak seperti yang Nyonya fikirkan," bantah Aideen.
"M-maaf memotong pembicaraan keluarga ini," ucap Edward yang sedari tadi tak bergeming.
"Aideen, kami akan memindahkan Jihan ke ruangan agar dia dapat beristirahat lebih baik lagi," sambung Edward.
"Tempatkan dia di ruangan VVIP," titah Aideen.
"VVIP?!!! Dasar wanita ja lang! Sudah seja-"
"Nenek!" Aideen memotong umpatan neneknya.
"Nek, dia istriku. Sudah seharusnya aku memperlakukan dia selayaknya," ucap Aideen. Wajahnya terlihat memelas memohon agar menghentikan perdebatan ini terlebih dahulu.
"Sudahlah, Nyonya. Ingat kesehatanmu, nanti kita bicarakan lagi dengan Aideen," pujuk Nyonya Reyna. Dia benar-benar sangat mendalami acting-nya. Wanita paruh baya itu mengusap dan memijit lembut bahu Nyonya Margareta agar emosinya mereda. Berkat perlakuan Nyonya Reyna, perlahan emosi Nyonya Margareta mulai stabil.
"Baiklah, kau boleh masuk. Tapi dia belum sadarkan diri," ucap Edward.
...****************...
Ruangan yang dingin, hening namun terdengar suara elektrokardiogram yang mengukur dan merekam aktivitas listrik pada jantung. Jihan terbaring lemah di atas kasur dengan menggunakan ventilator oksigen di wajahnya. Tubuh itu terbaring kaku tak bergerak, sesekali perutnya naik turun karena bernafas.
Aideen mendekati tubuh itu dengan tegang.
Setelah berada di sisi tubuh itu, dia mengusap wajahnya dengan keras sambil menghela nafas berat.
"Huh!" Desahnya berat.
"Aku memang suami yang tak berguna," dia kembali mengutuk dirinya sendiri. Matanya berkaca-kaca, terlihat genangan airmata yang mulai memenuhi matanya. Pria itu menarik kursi yang ada di sana, lalu duduk di sebelah tubuh lemah istrinya. Dia memegang tangan ramping yang mulus itu.
"Hei, i'm here," ucap Aideen sambil tersenyum.
Tes!
Setetes airmatanya jatuh mengenai jemari Jihan.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku yang telah membawamu ke sini dan aku juga yang telah membuatmu terluka. Bangunlah, kita mulai semuanya dari awal."
Aideen menangis tersedu-sedu. Dia menciumi tangan Jihan berkali-kali untuk menenangkan dirinya.
...****************...
Aideen keluar dari ruang UGD dengan wajah yang semraut, matanya terlihat sembab habis menangis.
Tap tap tap!
Suara hentakan sepatu terdengar dari ujung lorong rumah sakit. Perlahan sosok Ezryl terlihat, dia berlari ke arah Aideen yang baru keluar dari ruang UGD.
BUK!!!
Sebuah tonjokan melayang ke wajah Aideen. Terlihat darah segar mengalir dari hidungnya.
"Bajingan!!!" Umpat Ezryl, pria itu menonjok pipi Aideen untuk yang kedua kalinya sehingga tubuh putus asa itu jatuh terjerembab ke lantai. Ezryl menaiki tubuh itu dan menarik kerah baju Aideen.
"Belum puas kau menyakitinya?!!!" Bentak Ezryl. Rahangnya mengeras, ototnya menonjol saat tangannya mengepal.
"Kau yang membawanya ke sini! Tapi di mana tanggungjawab mu?!!!" Sergah Ezryl penuh amarah. Pria itu berulang kali menonjok Aideen dengan penuh emosi.
Tak lama kemudian, Edward dan beberapa suster bergegas meleraikan Aideen dan Ezryl. Dua orang suster wanita meraih tubuh Ezryl dan menahannya agar tidak melepaskan pukulan lagi kepada Aideen. Sedangkan Edward meraih tubuh lemas tak berdaya Aideen.
"Semua ini salahku," ucap Aideen. Pria itu menangis sambil menarik baju Edward.
"Tidak, semua ini hanya kecelakaan, sadarlah," ucap Edward. Dia memapah tubuh Aideen menuju ke ruang UGD untuk diberikan pertolongan pertama. Sedangkan Ezryl, dua orang suster tadi mendudukkan Ezryl ke kursi yang ada di depan UGD, lalu berlalu pergi masuk ke dalam ruang UGD untuk memberikan pertolongan pertama kepada Aideen yang babak beluar.
Ezryl tertunduk lesu. Tubuhnya tak bertenaga saat mendengar dari Dini bahwa Jihan keguguran karena jatuh dari tangga. Dia menatap lurus ke dinding dengan tatapan kosong. Setelah beberapa menit dia menatap dinding itu dengan hampa, dia menghempaskan nafasnya sekuat tenaga.
"Huh!!!" Desahnya, lalu kedua tangannya menyeka rambutnya ke atas. Pria itu membuang pandangannya ke kiri, ke arah lorong yang hampa tanpa ada seorangpun yang lewat.
Namun, pandangannya terhenti saat melihat sebuah sosok hitam yang terlihat sedang mengintipnya. Ezryl menyipitkan matanya ke arah sosok hitam yang samar-samar terlihat itu. Sadar bahwa Ezryl sedang memperhatikannya, sosok itu langsung kabur dan menghilang dari lorong itu.
Ezryl mengucek-ngucek matanya dan kembali menyipitkan matanya ke arah lorong tadi. Tak terlihat sosok hitam tadi yang sedang memperhatikannya.
"Sepertinya aku terlalu banyak pikiran," ucap Ezryl. Dia mengalihkan pandangannya dari lorong sepi itu, dan bersandar di kursi sambil memejamkan matanya.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1