CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT

CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT
BAB 23 - DITUDUH MESKI BUKAN PELAKU


__ADS_3

Aideen menghampiri Jihan yang sedang melamun menatap piring sambil mengaduk-aduk nasinya dengan malas menggunakan sendok di meja makan. Sepertinya gadis itu terlihat sedang tak berselera menelan makanan tersebut.


"Kyle benar. Cinta itu nafsu," pikir Aideen, "bahkan aku tak pernah bisa menahan diri saat berada di dekatnya. Ck!"


Dia berdecak kagum saat melihat Jihan, bagaimana bisa semesta begitu baik padanya dengan mengirimkan gadis itu ke dalam hidupnya. Bahkan kedatangan gadis itu dari dunia yang sangat berbeda dengannya. Entah apa yang akan terjadi pada akhir kisah mereka, dia tak ingin memikirkannya. Yang terpenting saat ini, dia ingin menikmati detik-detik berharganya dengan gadis itu.


"Apakah makanannya tak sesuai seleramu?" Tanya Aideen membuyarkan lamunan istrinya.


Jihan tersentak dari lamunannya. Gerakan tangannya berhenti. Lalu dia menatap lurus ke depan di mana suara itu berasal.


"Aku sedang tak ingin makan," jawabnya lirih.


"Katakan, apa yang sedang ingin kau makan? Bukankah ibu hamil selalu ngidam?" Tanya Aideen sambil tersenyum. Ketulusan Aideen benar-benar tersampaikan dengan baik kepada Jihan. Wajah Jihan yang semula redup, kini perlahan terlihat bersinar. Sudut bibir gadis itu kian membentuk, terukir sebuah senyum yang indah sebagai balasan.


"Hmm... sebenarnya, ada yang ku inginkan sejak kemarin," Jihan berdiri dari duduknya. Gadis itu memainkan jari jemarinya sambil memajukan bibir bawahnya ke depan.


"Apa? Kau ingin memakanku?" Ledek Aideen sambil tertawa.


"Hahaha... bukan. Aku benar-benar merindukan jajanan SD."


"Jajanan SD?" Tanya Aideen sambil mengerutkan keningnya.


"Benar. Ku rasa pedagangnya masih ada jika kita bergegas ke sana," ucap Jihan sambil melirik jam analog di ponselnya.


"Hahaha... baiklah, ayo kita ke sana."


Aideen meraih tangan istrinya dan menggenggam tangan mungil itu. Mereka benar-benar bahagia saat berjalan berdampingan menuju garasi mobil. Ada lega yang tak dapat di ungkapkan. Sepertinya kini Aideen tahu dia harus memilih siapa.


...****************...


Tepatnya di tepi jalan yang dapat di lalui 2 buah mobil, terdapat sebuah sekolah dasar. Ada banyak sekali pedagang-pedagang yang sedang berdiri sambil menyiapkan dagangan mereka.


"Sempol ayamnya 10 ribu ya!" Pinta Jihan girang, "nanti saya ke sini lagi."


"Baik," ucap pria paruh baya itu sambil memasukkan sempol mentah ke dalam wajan yang penuh dengan minyak mendidih.


Jihan berpindah ke pedang yang di sebelah.


"Telur gulung!" Ucap Jihan terkejut. Dia benar-benar tak menyangka. Ternyata di dunia komik juga ada jajajanan seperti ini. Gadis ini benar-benar memesan hampir semua jajanan SD yang ada. Bahkan dia tak melewatkan es goyang.


Setelah puas membeli makanan yang ada, Aideen dan Jihan berjalan perlahan menyeberangi jalanan menuju taman yang berada tepat di seberang SDN Kasih Ibu. Mereka berdua duduk di kursi yang telah disediakan sebagai fasilitas umum.


"Es goyang?" Tanya Aideen sambil melihat es yang ia pegang perlahan mencair. Tak ingin mengotori tangannya, dia bergegas melahap setangkai es goyang itu dengan sekali lahapan, lalu dia menggoyang-goyangkan tubuhnya saat mulutnya masih dipenuhi es.

__ADS_1


"Ih! Sayang! Bukan seperti itu cara makannya!" Jihan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol Aideen. Ternyata di balik sisi perfeksionisnya pria ini, dia juga memiliki sisi konyolnya.


Aideen segera menelan es yang ada di mulutnya sambil menahan tawa.


"Kau bilang namanya es goyang? Berarti badanmu harus goyang saat makan," ucap Aideen. Dia benar-benar melepaskan tawanya setelah menelan seluruh es yang ada di mulutnya.


Jihan pun tak habis-habisnya tertawa melihat kekonyolan suaminya. Setelah puas tertawa, mata Jihan menghadap lurus tepat di gerbang sekolah. Sudah waktunya pulang bagi anak-anak sekolah. Semua berhamburan keluar dengan wajah yang bahagia, seperti ada sesuatu yang menanti mereka di rumah. Berbeda dengan yang dijemput oleh orangtuanya, mereka berlarian mencari orangtuanya lalu memeluk orangtua mereka.


"Kau tau, saat kecil dulu, aku selalu berharap salah satu dari orangtuaku menunggu ku di depan gerbang, tapi itu tak pernah terjadi," Jihan menatap sendu. Dia tersenyum, tapi senyumnya terasa pahit.


"Kenapa? Apakah kau hidup tanpa orangtua?" Tanya Aideen, pria itu menatap ke arah wajah Jihan yang masih menatap lurus dengan tatapan yang kosong.


"Tidak. Hahaha."


Aideen menggenggam erat tangan Jihan.


"Aku tak tau apa yang terjadi pada masa lalu mu, aku yakin semua itu berat dan menyakitkan, tapi satu hal yang dapat aku janjikan, aku tak akan membuatmu kecewa lagi," ucap Aideen sambil memalingkan wajahnya dari Jihan dan menatap lurus dengan tatapan yang penuh impian.


"Maaf, telah membuatmu menunggu dan menyakitimu. Aku akan memilihmu di depan semua orang dan aku akan menyingkirkan Kyle dari rumah itu," lanjut Aideen.


Seketika Jihan menatap ke arah Aideen. Dia terkejut.


"A-apa maksudmu?" Tanya Jihan. Dia terlihat terkejut, namun bahagia.


"Dan?" Tanya Jihan penasaran.


Aideen menaruh tangannya ke perut Jihan, lalu mengelus lembut perut itu.


"Dan anak kita."


Mendengarkan pernyataan itu, Jihan langsung memeluk Aideen. Dia bahagia. Sangat bahagia. Ketakutan yang selama ini menghantui, kekhawatiran yang selama ini menguasai, akhirnya terjawab dan dia tak lagi harus berspekulasi sendiri dengan memikirkan hal yang tidak-tidak. Hal yang belum tentu dilakukan Aideen.


"I love you," ucap Aideen. Dia membalas pelukan istrinya sambil membelai lembut punggung istri.


"I love you too," sahut Jihan sambil menghela nafas lega.


"Besok, ayo kita ke rumah sakit. Aku ingin melihat wajah lucu bayi kita," imbau Aideen bersemangat.


"Baiklah," jawab Jihan, "aku juga sedang memikirkan nama yang bagus buatnya, tapi aku belum menemukan yang pas."


"Hmm... nama ya?" Aideen mengerutkan keningnya sambil matanya menatap ke atas. Dia sedang mencari ide.


"Masih banyak waktu. Jangan terlalu di pusingkan," ucap Jihan. Dia tertawa melihat suaminya yang langsung berfikir.

__ADS_1


"Baiklah. Baiklah." Ucap Aideen. Dia langsung berdiri dari duduknya. Jihan mendongak melihat ke arah Aideen.


"Ayo. Kita pulang, terlalu panas. Kau harus menjaga kesehatanmu," ucap Aideen. Dia mengulurkan tangannya kepada Jihan. Jihan pun meraih tangan kekar itu. Mereka menuju mobil dengan langkah yang gontai.


...****************...


Saat tiba di rumah, Aideen menurunkan Jihan dari mobil tepat di depan pintu rumah.


"Masuklah. Aku akan menyusulmu, aku harus memarkirkan dulu mobil ini di garasi," ucap Aideen kepada Jihan.


Jihan mengiyakan perkataan Aideen. Dia membuka pintu mobil dan keluar, lalu menutupinya kembali. Gadis itu memasuki rumah sambil bersenandung ria. Dia menuju tangga dan perlahan menapaki tangga itu.


Kyle tiba-tiba terlihat dari arah dapur. Dia sedang memegang mangkok yang berisikan buah-buahan.


"Bahagia sekali?" Sindir Kyle. Gadis itu juga berjalan sambil menapaki tangga itu.


Jihan tak mempedulikan ucapan Kyle. Gadis itu tetap berjalan menaiki tangga.


"Hei!" Teriak Kyle. Dia merasa kesal saat Jihan tak menggubrisnya. Wanita itu menaiki anak tangga dan mendahului Jihan. Sekarang, dia berada tepat di depan Jihan.


"Kau pikir, kau bisa menang? Kau itu orang baru di hubunganku dan Aideen!" Ucap Kyle dengan penuh emosi.


"Kyle, aku tau kau telah menemani Aideen sejak kecil. Bahkan, kau juga sudah mengetahui seluk beluk rumah ini dan kau selalu tidur di rumah ini dulu," ucap Jihan sambil sedikit mendongak, karena Kyle berada 1 anak tangga di atasnya.


"Kau juga selalu merawat Aideen saat dia sakit, kau ju-"


"B-bagaimana kau mengetahui itu?" Potong Kyle.


"Dulu, kau selalu di tindas oleh Rena dan teman-temannya, namun sejak kau mendekati Aideen, hal itu lagi pernah terjadi padamu."


Kyle terbelalak. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Jihan.


"Kau menyelidiki ku?!" Tanya Kyle.


"Tidak. Tapi aku mengetahui semuanya," ucap Jihan. Merasa tak nyaman dengan wajah yang dekat dengan Kyle, Jihan melangkah mundur dari tangga. Sialnya, dia salah menapaki kakinya dan akhirnya terjatuh.


Brukkk!


Tubuh Jihan jatuh berguling-guling dari tangga dan dia pingsan. Ada darah segar yang keluar menembus celananya. Terdapat luka juga di kepalanya. Kyle yang melihat hal itu, terperangah. Dia benar-benar kehabisan akal. Wanita itu bergegas menuruni anak tangga. Namun, di saat bersamaan, tampak Aideen yang sedang memasuki rumah dengan wajah yang riang. Sayangnya keriangan itu tak bertahan lama saat melihat tubuh istrinya terlentang di lantai dengan darah segar yang mengalir dari tubuh.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2