CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT

CEO 2D Atau MALAIKAT MAUT
BAB 27 - MEMORI TENTANGKU


__ADS_3

"Jadi, apa keputusan yang akan kau ambil?" Suara tenang pria bertubuh bak binaragawan itu terdengar penasaran. Ezryl mengutarakan perkataannya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Aideen. Matanya tertuju pada apel yang sedang ia kuliti menggunakan pisau.


"Maksudmu?" Tanya Aideen tak faham.


Ezryl menghela nafasnya. Tangan pria itu memotong apel yang tadinya dia kupas, lalu memberikan kepada Jihan yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.


"Apa tidak hal lain yang dapat kau tanyakan?!" Kecam Aideen dengan nada tak suka. Tangan pria itu segera merampas potongan apel yang di ambil oleh Jihan dari tangan Ezryl.


Ezryl menghentikan gerakan tangannya yang memotong apel. Pria yang duduk di sebelah ranjang kiri Jihan itu menatap tajam ke arah Aideen yang duduk berseberangan dengannya di mana posisi mereka ditengahi oleh ranjang yang ditempati oleh Jihan.


"Kau terlalu pintar untuk pura-pura bodoh!" Tukas Ezryl. Pria itu meletakkan pisau dan apel yang semula ada di tangannya, lalu bangkit dari duduknya.


"Kemarilah, biarkan Jihan beristirahat," sambung Ezryl sambil berjalan menuju pintu dan dia keluar dari ruangan itu.


"Istirahatlah, aku akan keluar sebentar," ucap Aideen sambil memegang tangan Jihan. Pria itu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jihan yang dari tadi tak bergeming.


"Ada apa lagi dengan mereka?" Keluh Jihan. Gadis itu tertunduk sambil melihat ke arah perutnya dengan tatapan hampa. Dia terlalu pusing untuk memikirkan hal lain setelah kehilangan janinnya.


...****************...


Di sebuah lorong yang berada di depan kamar Jihan, terdapat sebuah kursi panjang yang dapat di tempati oleh 4 orang. Sesekali perawat dan beberapa pengunjung yang ingin membesuk pasien terlihat lalu lalang di lorong ruang VVIP itu.


"Aku tak ingin berbasa basi lagi," tanpa jeda, Ezryl langsung berbicara setelah Aideen menutup pintu ruangan yang di tempati Jihan.


"Usir wanita itu atau aku membawa Jihan pergi?!" Dengan tegas, Ezryl mengungkapkan tujuannya tanpa basa basi.


"Wanita itu? Kyle?" Tanya Aideen. Pria itu duduk di kursi yang ada dan menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan bahu yang turun.


"Hmm," Ezryl hanya mendehem. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil menatap ke bawah ke arah Aideen.


"Tak segampang itu."


"Tinggal usir. Beres 'kan?"


"Bukan. Bukan begitu."


"Lalu? Kau ingin melihat Jihan terluka lagi?!" Ezryl meninggikan suaranya.

__ADS_1


Aideen hanya diam membisu. Pria itu menghela nafasnya dan mendongak ke langit-langit.


"Apa kau lupa, siapa yang membawa Jihan ke dunia ini? Dengan membawanya ke dunia yang tak seharusnya dia tempati saja merupakan hal yang patut dipertimbangkan. Mungkin, sekarang belum ada hal-hal buruk yang menimpa, tapi bagaimana kalau suatu saat nanti, ada hal buruk yang menimpanya?" Ezryl berbicara panjang lebar sambil berjalan mondar mandir di depan Aideen.


Beberapa perawat wanita yang sedang lalu lalang, tak dapat melepaskan pandangannya pada dua orang pria yang sedang serius itu. Sesekali ada yang mengangguk sambil tersenyum pada mereka. Aideen tak menggubrisnya, tapi Ezryl balas mengangguk dan tersenyum ramah, meski pikirannya sedang berkecamuk.


"Kau tau, setiap tindakan yang di ambil, pasti ada konsekuensinya," tambah Ezryl lagi. Pria itu mulai lelah karena mondar mandir tak jelas, lalu ia pun memilih duduk di sebelah Aideen.


"Aku tau," Aideen menjawab datar.


Ezryl yang baru saja mendaratkan bokongnya ke kursi, spontan menatap Aideen dengan mata terbelalak. Jawaban yang di berikan oleh pria yang di sebelahnya hanya 'aku tau'. Singkat, padat, tapi tak jelas!


"Terus?!" Ezryl penasaran.


"Ada banyak hal yang sedang ku pertimbangkan."


Ezryl menaikkan alisnya mendengar jawaban Aideen yang sedari tadi sebenarnya bukan jawaban.


"Baiklah, aku akan mengusir Kyle. Sebelum itu, aku harus bertemu dengan nenekku dulu," ucap Aideen. Respon datar yang pria itu perlihatkan sejak awal, tiba-tiba berubah. Dia langsung bangun dari duduknya, lalu menatap ke arah Ezryl.


"Ucapannya seperti orang mau mati saja," celetuk Ezryl sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.


"Sejak kapan dia mempercayakan istrinya padaku? Ck!"


Ezryl bangun dari duduknya dan berniat ingin masuk ke dalam ruangan Jihan. Sebelum itu, dia melihat sekeliling. Sunyi, sepi, tanpa seorang pun yang melewati lorong itu. Entah ada angin apa, tiba-tiba dia ingin sekali melihat ke arah belakangnya. Saat dia melihat ke arah belakang, terlihat sebuah kepala yang sedang mengintip dari ujung lorong. Karena penasaran, pria itu bergegas lari menuju ujung lorong.


Dengan nafas terengah-engah, Ezryl tiba di ujung lorong tersebut, namun sosok yang sedang memantaunya tadi telah menghilang.


"Sial! Aku tak mungkin salah lihat!" Umpatnya sambil menyibak paksa rambut depannya menggunakan tangan kanan sembari tangan kirinya bertolak pinggang.


"Maaf," ucap seorang perawat.


Ezryl terkejut bukan kepalang saat sadar bahwa dia berhenti tepat di depan pintu toilet perempuan.


"O-oh. Si-silahkan. Maaf saya tadi sedang mengejar seseorang," ucap Ezryl sambil memberikan jalan kepada perawat wanita itu. Perawat itu terlihat senyum-senyum malu melihat tingkah Ezryl yang kelabakan.


Merasa sia-sia, Ezryl pun memutuskan untuk tak memikirkan sosok yang sempat ia lihat tadi. Dia berbalik badan dan menuju ruangan Jihan.

__ADS_1


Ceklek.


"Ezryl?" Sapa Jihan. Wajahnya cukup jelas mengatakan bahwa, kemana Aideen? Kenapa hanya kau sendiri yang masuk ke ruangan ini?


"Katanya ada urusan mendadak, jadi dia bergegas pergi dan menitipkanmu padaku," jelas Ezryl. Dia sangat paham dengan apa yang sedang Jihan fikirkan.


"Hahaha... aku belum mengatakan apa-apa, Ryl."


"Hei, tanpa harus kau katakan, aku sudah menebak apa yang ada di pikiranmu," ucap Ezryl. Pria itu tertawa kecil sambil menjatuhkan bokongnya ke atas kursi yang ada di sebelah ranjang Jihan.


"Baiklah, Tuan Malaikat," ejek Jihan mengiyakan perkataan Ezryl.


"Bagaimana apartemennya? Sudah dibatalkan?" Tanya Jihan. Gadis itu mencoba menggapai gelas air putih yang berada tak jauh darinya.


Ezryl mengambil gelas tersebut dan memberikan pada Jihan.


"Aku telah menandatangani kontrak sewanya."


"Hah?" Jihan terperangah.


"Lalu, kau pindah ke sana?" Tanya Jihan lagi.


"Ya, aku merasa tak enak. Nenek pemilik apartemen itu terlihat bahagia saat aku mengecek unitnya tadi. Aku tak ingin memberinya harapan palsu, jadi aku menandatangani kontrak langsung setelah melihat unit tersebut," jelas Ezryl sambil mengambil buah jeruk yang ada di dalam keranjang.


Pria itu mengupas kulit jeruk tersebut sambil tersenyum.


"Wajah nenek itu mengingatkanku pada wajah nenekku," ucap Ezryl. Tangannya membersihkan beberapa serabut jeruk yang ada. Lalu memberikan jeruk yang sudah bersih kepada Jihan.


"Kau itu, malaikat maut atau malaikat penjaga surga? Hahaha. Hatimu lembut sekali," ejek Jihan. Gadis itu mengambil jeruk yang disuguhi Ezryl, lalu memakannya.


"Entahlah. Setidaknya, sebelum aku benar-benar lenyap, aku ingin meninggalkan sedikit banyaknya peranku dalam hidup orang lain. Jadi, walaupun tubuhku lenyap, memori tentangku tetap tersimpan dengan baik oleh orang lain."


Ezryl berkata dengan nada lirih. Ada keikhlasan yang terasa dari kalimat yang diutarakannya. Tak ada sedikitpun rasa sesal yang ia miliki meski harus lenyap dari dunia ini.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2