
Meskipun enggan, Jihan harus meninggalkan rumah sakit tersebut, lalu menjalani hari seperti biasa sambil mencari cara bagaimana supaya ia bisa kembali lagi bersama suaminya. Sungguh tak dapat ia pungkiri bahwa hatinya benar-benar telah dicuri oleh pria 2 dimensi di komik yang sering ia baca.
"Ki-kita kemana?" Tanya Jihan saat mengetahui bahwa mobil yang ia tumpangi memasuki sebuah pekarangan bangunan yang bertingkat-tingkat tersebut. Lalu mobil tersebut menuju sebuah basement di mana banyak mobil yang terparkir.
"Ke apartemen yang sebelumnya akan kita tempati," jawab Ezryl. Pandangan pria itu fokus ke depan sambil mencari-cari parkiran yang kosong.
Benar, saat ini mereka sedang berada di sebuah apartemen yang terletak di tengah kota, apartemen yang sempat ingin mereka tempati sebelumnya karena kehadiran Kyle yang membuat mereka tak nyaman.
Ternyata ada gunanya juga Ezryl menandatangani kontrak sewa apartemen tersebut, sehingga mereka tak perlu pusing ingin tinggal di mana jika terjadi hal-hal seperti ini. Karena bagaimanapun, mereka berdua merupakan orang asing di dunia komik ini, tanpa keluarga, kerabat dan teman selain Aideen.
Setelah mendapatkan parkiran, mereka berdua keluar dari mobil, lalu Ezryl mengambil koper Jihan di bagasi mobil dan mereka menuju lift. Saat di dalam lift, Ezryl merogoh sakunya mengeluarkan kartu akses untuk ditempelkan ke sebuah sensor yang di sediakan sebelum menekan tombol lantai yang dituju. Ia menekan tombol 37.
"Kita di lantai 37?" Tanya Jihan.
"Yes!"
"Ti-tinggi sekali."
"Kau takut tinggi?" Tanya Ezryl sambil memiringkan kepalanya menatap Jihan.
"Ha? Hahaha... ti-tidak."
"Tak usah keluar ke balkon," ucap Ezryl.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift dan belok ke kiri menuju ke apartemen yang ditempati oleh Ezryl.
"Jika kau ingin menghirup udara segar, aku akan menemanimu ke bawah," ucap Ezryl lagi sambil menekan password untuk membuka pintu apartemen tersebut. Dan kemudian, pintu apartemen tersebut terbuka. Ia mempersilahkan Jihan memasuki apartemen tersebut terlebih dahulu.
"Terima kasih!" Ucap Jihan sambil masuk. Ruangan yang tak terlalu luas, tapi cukup muat untuk ditinggali berdua. Gadis itu menyusuri ruangan yang ada. Ruangan yang pertama adalah ruang tamu, cukup aesthetic dengan cat dinding warna putih, sofa cream dan carpet bulu berwarna mocha. Setelah itu, dia menyusuri kamar utama, sangat luas. King bed dengan bedcover berwarna nude, lemari dan meja solek berwarna putih. Lalu terdapat kamar mandi di dalamnya.
__ADS_1
"Kau yang akan menempati kamar ini," ucap Ezryl sambil meletakkan koper Jihan di sebelah lemari 4 pintu itu.
"Ha?" Jihan terperangah, "tapi kamar ini terlalu besar, bagaimana dengan kamarmu? Bukankah ini seharusnya kamar utama?"
Jihan langsung keluar dari kamar utama dan melihat ke kamar yang ada di sebelah kamarnya. Kamar tersebut sedikit lebih kecil dari kamarnya dan tak ditemukan kamar mandi di dalamnya. Gadis itu memperhatikan dengan seksama isi kamar tersebut, queen bed, lemari 3 pintu dan meja hias.
"Tak masalah jika seorang pria menempati kamar seperti ini, lagi pula, koleksi baju pria hanya sedikit!" Ucap Ezryl sambil tertawa. Pria itu membuka ketiga pintu lemarinya, lalu ia menunjukkan koleksi pakaian yang ada. Saat lemari 3 pintu itu dibuka, yang terlihat hanya 1 lemari yang terisi dengan pakaian yang dimiliki oleh Ezryl.
"See?" Kata Ezryl sambil mengarahkan tangannya ke dalam lemari.
"Hehehe..." Jihan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Tapi, di sini tak ada kamar mandi, kau harus keluar kamar untuk menggunakan kamar mandi."
"It's okay, kau lah yang seharusnya menggunakan kamar mandi di dalam kamar. Karena..." Ezryl menghentikan ucapannya, pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Jihan.
"Bagaimana pun, aku tetaplah seorang pria, Jihan." Bisik Ezryl dengan nada perlahan yang cukup membuat Jihan bergidik.
"He-hei! Kau ini!" Suara Jihan melengking dan tanpa sengaja melangkah mundur selangkah. Kedua matanya melotot.
"Hahaha... aku hanya bercanda," Ezryl tertawa terpingkal-pinkal. Pria itu bertolak pinggang melihat ekspresi Jihan yang lucu karena kaget.
"111377?" Gumam Jihan. Angka tersebut sepertinya tak asing baginya. "Eum, bukankah itu a-"
"Yap! Itu nomor akhir ponselmu," Ezryl memotong ucapan Jihan, pria itu tersenyum miring.
"Kenapa?" Tanya Jihan.
"Karena aku tak tau kapan tanggal lahirmu dan berapa angka keberuntunganmu, jadi aku menggunakan nomor ponselmu."
"Kenapa harus tentangku? Kenapa bukan tanggal lahirmu ata-"
"Apa kau tidak lapar? Bukankah kau harus minum obat?" Potong Ezryl. Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. "Apakah kau sedang ingin makan sesuatu?"
__ADS_1
"Eumm... aku tidak lapar."
"Tapi kau harus minum obat! Pokoknya aku akan memesan makanan dan kau harus makan agar cepat sembuh," bujuk Ezryl. Pria itu duduk di sisi ranjangnya dan fokus menatap layar ponsel untuk mencari makanannya yang akan ia pesan.
Melihat hal tersebut, Jihan merasa awkward dan menatap dalam-dalam ke arah Ezryl. "Kenapa kau sangat baik padaku?"
Ezryl menghentikan tangannya yang sedang scroll-scroll layar ponsel, tatapannya seketika kosong sejenak.
"Kau tidak mengharapkan sesuatu dari ku kan?" Jihan langsung ke inti pembicaraan tanpa basa basi. Mimik wajahnya menjadi datar.
"Apapun yang terjadi pada Aideen, dia tetaplah suamiku," suara Jihan terdengar tegas dan ucapannya penuh dengan penekanan.
Ezryl yang merasa terpojok, langsung bangun dari duduknya, lalu mendekat ke arah Jihan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jihan. Saat itu jarak wajah mereka sekitar sejengkal. Jihan kaget sampai terbelalak. Ia menahan nafasnya dengan tubuh yang kaku. Sedangkan Ezryl sedikit membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Jihan sembari mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Jihan hingga bibir mereka hampir bertemu.
"Jika aku seorang bajingan, bibir ini sudah ku makan sejak tadi, tapi aku menghargaimu sebagai wanita makanya aku berusaha menahan diri dengan mencintaimu dari jauh," ucap Ezryl. Pria itu menarik wajahnya menjauh dari wajah Jihan. Sesaat setelah itu, Jihan menghempaskan nafasnya.
"Aku hanya bercanda! Hahaha..." Ezryl tertawa terbahak-bahak menutupi rasa kecewanya. Dia merasa bersalah karena membuat gadis tersebut terkejut akan kelakuannya.
"Kau!" Kecam Jihan dengan tatapan yang sengit.
"Maaf! Maaf! Akhir-akhir ini kau terlalu depresi, sesekali aku ingin membuatmu terkejut agar kau bisa melupakan masalahmu sejenak."
"Kau sangat menyebalkan!" Rutuk Jihan.
"Hahaha... aku akan memesan makanan, kau istirahatlah dulu di kamar, aku akan memanggilmu jika pesanannya tiba nanti. Kau harus menyiapkan tubuh, mental dan hatimu untuk menghadapi 3 wanita sialan itu, aku akan membantumu hingga Aideen sembuh dari amnesianya."
Ezryl mengalihkan pembicaraan dan menyemangati Jihan agar dia kuat menghadapi Kyle, Nyonya Margareta dan Nyonya Reyna. Pria itu benar-benar mempersembahkan jiwa dan raganya seutuhnya untuk Jihan, gadis yang ia selamatkan dari kematian yang mengenaskan.
Jihan bergegas meninggalkan kamar Ezryl, lalu Ezryl menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang queen bed tersebut. Ia menopang lengannya di dahi sambil menatap langit-langit kamar.
"Andai aku bisa mengontrol hatiku, semua tak akan serumit ini. Ck!"
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...