
..."Jadi pacarku selama tiga bulan! Siapa yang jatuh cinta duluan, dia yang kalah!" - Ezryl...
...✍🏻✍🏻✍🏻...
"Kau benar, sekecil apapun luka itu, akan menjadi parah jika tidak diobati," gumam Jihan. Gadis itu tersenyum penuh arti.
Melihat sorot mata Jihan yang bersinar, Ezryl tersenyum lega. Sepertinya Jihan sudah tak masalah jika ia mengobati luka itu.
"Aku akan mengobati luka itu," ucap Ezryl lirih. Tangannya dengan lihai memasangkan hansaplast ke jari Jihan.
Padahal, luka yang Ezryl maksud bukanlah luka yang terlihat di jari Jihan, melainkan luka yang sedang infeksi di hatinya. Luka itu perlu diobati segera, karena jika tidak diobati, akan mengakibatkan trauma mendalam bagi gadis yang sedang berjuang untuk bahagia itu. Pasalnya gadis itu sempat ingin mengakhiri hidupnya karena putus asa.
"Ayo, temani aku masak!" seru Ezryl. Ia meraih lengan Jihan dan menariknya menuju dapur. Jihan hanya manut dan membuntuti tubuh Ezryl dari belakang.
"Kau duduklah di sini dan perhatikan semua yang ku lakukan," sambung Ezryl sambil menunjuk ke arah meja bar yang ada di dapur.
"Memperhatikanmu? Hahaha..." Jihan tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan ucapan Ezryl. "Aku tau kalau kau itu tampan, tapi, tampanmu terlalu berlebihan, Ryl!"
"Sudah, nikmati saja. Sebentar lagi kau akan kesulitan menikmati wajah tampan ini," ucap Ezryl sambil memasang celemek di pinggangnya.
Pria itu mengambil panci di lemari dapur dan mengisinya dengan air, lalu ia meletakkan panci berisi air tersebut ke atas kompor. Ia juga tak lupa menuangkan sedikit minyak goreng ke dalam panci tersebut, lalu ia memasukkan spagetti mentah ke dalam panci. Setelah itu, ia memotong bawang bombay melanjutkan pekerjaan Jihan yang sempat tertunda tadi.
"Kesulitan?" tanya Jihan sambil menaikkan kedua alisnya dengan bibir yang mengerut.
"Iya, kesulitan. Kau harus membuat janji hanya untuk bertemu denganku!"
"Oohhh! Karena kau akan menjadi seorang bintang? Hahaha... baiklah, dikesempatan kali ini, aku akan menatap wajah tampan itu dengan baik," Jihan memangku wajahnya dengan kedua tangan sambil menatap ke arah Ezryl.
Setelah memotong bawang bombay, Ezryl melanjutkan mencincang daging yang tadi sempat tertunda.
__ADS_1
"Ryl," panggil Jihan sambil tersenyum simpul melihat pria yang sedang fokus menyediakan bumbu utama.
"Hmm?" Ezryl mendehem.
"Jika kau bisa memilih, ingin menjadi malaikat maut, manusia biasa atau manusia komik?" tanya Jihan.
Ezryl menghentikan gerakan tangannya lalu menatap ke arah Jihan. Pria itu memiringkan kepalanya.
"Aku hanya penasaran, hehehe."
"Hmm ... sejujurnya aku lebih memilih tak ingin hidup," jelas Ezryl. Ia kembali melanjutkan mencincang daging tadi.
"Kenapa?"
"Karena aku tak bisa memilikimu," batin Ezryl.
"Hei?" Jihan memanggil Ezryl yang melamun.
"Sama, aku juga merasa begitu," keluh Jihan sambil menghela nafasnya.
Ezryl tak bergeming. Ia larut dalam pertanyaan Jihan tadi. Terkadang ia merasa putus asa mengingat kehidupan yang ia lalui sebelumnya dan mengingat sisa hidupnya yang kurang dari satu tahun.
"Hei, bagaimana kalau kita mencoba menemukan kebahagian kita selama di dunia komik ini?!" seru Jihan tiba-tiba.
"Caranya?" tanya Ezryl menatap ke arah Jihan.
"Ya melakukan semua yang dilakukan oleh orang lain."
"Hahaha..." Ezryl tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan ucapan Jihan yang tak berpendirian itu. Sepertinya gadis itu asal nyeletuk.
__ADS_1
"Ayo taruhan!" kata Ezryl dengan wajah yang antusias. Entah bagaimana, tiba-tiba saja ide itu lewat dikepalanya.
"Taruhan?"
"Jadi pacarku selama tiga bulan! Siapa yang jatuh cinta duluan, dia yang kalah!" jelas Ezryl.
"Apa yang dipertaruhkan dari permainan ini?" tanya Jihan. Ia terlihat penasaran.
"Yang menang dapat membuat tiga permintaan pada yang kalah! Apapun itu permintaannya!" ucap Ezryl lagi dengan wajah yang berbinar-binar.
"Benar ya? Tiga permintaan?" tanya Jihan lagi. Ia mencoba memverifikasi sebelum menerima taruhan tersebut.
"Ya, benar. Tapi dengan syarat."
"Huh? Ada syaratnya?" Jihan mengkerutkan keningnya.
"Yap. Syaratnya, selama masa taruhan, peserta harus melakukan semua yang dilakukan oleh pasangan sungguhan. Termasuk panggilan sayang."
"Baiklah! Aku menerima taruhan tersebut!" seru Jihan.
Gadis itu menerima taruhan yang diberikan Ezryl. Ia benar-benar antusias karena dengan percaya dirinya, ia yakin bahwa dirinya tak akan jatuh cinta pada malaikat maut itu.
Sebaliknya, Ezryl tersenyum penuh arti. Baginya, ini merupakan peluang untuknya menemukan celah agar dia dapat masuk ke dalam hati gadis itu dan memilikinya seutuhnya.
Mungkin bagi Jihan, taruhan ini hanyalah sebuah taruhan, tapi tidak bagi Ezryl.
"Tiga bulan, 'kan? Tenang saja, aku akan memanfaatkan tiga bulan itu dengan baik," batin Ezryl.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...