CEO Kejamku Suamiku

CEO Kejamku Suamiku
pergi ke rumah suami


__ADS_3

Mobil mewah yang di tumpangi puja dan adrean segera memasuki pekarangan rumah andrean.


Andrean segera turun dari mobilnya, diikuti oleh puja, para penjaga dan pelayan rumah segera berbaris memberikan hormat kepada Andrean dan juga puja.


"Ya ampun, ini rumah atau istana?"gumam puja dalam hati karena terpana dengan rumah di depannya yang begitu mewah, rumah tiga lantai itu sangatlah memanjakan mata puja.


Puja memberikan senyuman kepada Pelayan yang memberikan hormat kepada Andrean, sambil sesekali menatap rumah yang begitu besar dan mewah itu.


"Banyak banget pelayan disini? Apakah pria ini mempunyai pelayan di setiap ruangan?pikir puja dalam hati.


Puja memasuki rumah itu masih dengan tatapan kagumnya.


"Mari nyonya kami akan tunjukan kamar untukmu!"tawar seorang pelayan kepada puja.


Puja segera mengikuti pelayan itu, menuju lantai dua.


Sementara Andrean pergi meninggalkannya begitu saja.


"Ini nona kamarmu!"kata pelayan itu.


Puja memasuki kamar itu, dia sangat terpana dengan kamar sebesar itu, bahkan kamarnya yang dulu di rumahnya berbanding 5× lipat dengan kamarnya yang sekarang.


Puja merebahkan tubuhnya di ranjang yang begitu lebar.


"Ahh...aku capek sekali!"ucap puja.


Tanpa terasa ia tertidur begitu pulas.


Tak terasa hari pun sudah malam, puja segera membersihkan dirinya.


Puja merasa lapar dan hendak mencari dapur rumah itu.


"Dimana letak dapurnya?"puja mencari-cari dapur rumah itu tapi rumah itu sangatlah besar. Jadi, ia tidak menemukannya.


"Ada yang dapat saya bantu nyonya?"tanya seorang pelayan.


"Oh iya pak bisa kau tunjukan dimana letak dapur?"tanya puja.


"Mari saya hantar nona!"sambil berjalan menuju kan dapur.


Letak dapur dan kamarnya memang cukup jauh, lagi² puja kaget dengan dapur yang begitu mewah, biasanya ia hanya melihat dapur seperti itu di film saja, kini ia melihat nyata di depan matanya.

__ADS_1


"Selamat malam nyonya, ada yang dapat saya bantu?"ucap seorang pelayan.


"Ohhh iya malam, saya hanya ingin membantu memasak untuk makan malam!"kata puja.


"Tidak usah nyonya, ini adalah tugas kami, biarkan kami yang mengerjakannya!"terang pelayan itu.


"Tapi saya tidak ada kerjaan! Saya bingung harus ngapain, izinkan saya membantu anda!"ucap puja memohon.


"Tidak nyonya, nanti kalau kau memasak tuan marah!"jawab pelayan itu.


"Kau tenang saja biar aku yang bertanggung jawab kalau tuan marah!"ucap puja meyakinkan pelayan itu.


"Baiklah nyonya!"jawab pelayan tanpa membantah.


"Oh ya siapa namamu?"tanya puja.


"Nama saya ira nyonya, panggil saja saya bi ira, saya adalah pelayan yg bertugas memasak disini!"terang pelayan itu.


"Ohh iya, kenalin nama saya puja, bibi bisa panggil saya puja, bibi gak usah panggil saya nyonya, saya tidak enak karena kita sama bi!"jawab puja.


"Tidak nyonya, itu sudah kewajiban saya, nyonya adalah istri nya tuan!"jawab bi ira.


"Ya sudah terserah bibi saja!"ucap puja pasrah.


"Nyonya, tuan memanggilmu!"tiba² seorang pelayan menghampiri.


"Baik pak, tapi tolong tunjukan saya dimana kamar tuan ya!"pinta puja.


"Baik nyonya silahkan!"ucap pelayan itu.


Puja segera mengikuti pelayan itu.


"Ini nyonya kamar tuan!"tunjuk pelayan itu pada kamar yang bersebelahan dengan kamar puja.


"Oh iya terimakasih pak!"jawab puja.


Ternyata kamar Andrean tepat berada di sebelah kamar puja.


"Kenapa pelayan itu tidak bilang saja kalau kamar tuan sebelah kamar ku!"ucap puja heran.


"Tok...tok...tok...!"puja mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


Namun tidak ada suara dari kamar itu, karena kamar itu sudah sedikit terbuka puja memilih untuk masuk saja.


Puja memeriksa kamar itu, namun di sana tidak ada siapa pun.


"Ya ampun ini kamar kayanya seluas rumahku deh!"gumam puja dalam hati karena terkagum dengan kamar yang mewah dan lebih besar dari kamar yang ia tempati.


Puja duduk di sofa kamar itu, untuk menunggu Andrean.


"Clek"pintu kamar mandi terbuka.


Puja langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu tersebut.


Namun seketika matanya terbelalak melihat Andrean yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


seketika puja langsung menutup matanya dengan tangannya.


Andrean semakin mendekati puja.


"kau kenapa, tidak usah kaget kau, kau harus terbiasa dengan semua ini!"ucap Andrean.


puja dengan hati² melepas tangannya dan mulai membuka matanya.


punya hanya bisa menelan salivanya karena melihat tubuh kekar Andrean yang begitu menggoda, pipinya berubah menjadi merah karena melihat pemandangan yang ada dihadapannya.


"tu-tuan mau apa?"tanya puja terbata-bata.


"kau gunakan handphone ini, nanti kalau aku membutuhkanmu agar tidak usah repot-repot!"ucap andrean.


"baik tuan!"balas puja.


"dan ingat kau disini bukan hanya akan menjadi istriku tapi kau akan menjadi pelayanku!"terang Andrean.


"baik tuan!"ucap puja tanpa membantah, hanya itu yang bisa ia ucapkan, karena ia sadar akan posisinya yang harus menuruti semua bperintah Andrean.


"ya sudah kau keluar sana!"bentak Andrean.


puja segera keluar dari kamar Andrean.


namun, puja teringat dengan masakan yang sudah ia siapkan, puja segera berbalik untuk kembali ke kamar Andrean.


"mau apa kau balik lagi!"tanya Andrean.

__ADS_1


"tuan saya sudah measak untuk makan malam, tuan bisa segera turun untuk makan!"ucap puja tanpa melihat Andrean yang masih mengenakan handuk.


"baiklah!"tegas Andrean singkat.


__ADS_2