
Andrean berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada Vania adiknya.
"Malam kak!"sapa Vania.
Andrean tidak menjawabnya, ia segera duduk di kursinya.
"Di mana nyonya!"tanya Andrean pada bi ira.
"Nyonya di kamarnya taun!"jawab bi ira.
"Panggil dia!"perintah Andrean.
Bi ira segera bergegas menuju kamar puja.
"Tok...tok...nyonya ditunggu tuan di meja makan!"suara bi ira dari luar.
"Baik bi aku akan segera kesana!"teriak puja dari dalam.
Puja segera menuju meja makan.
"Malam kak!"kata Vania ramah.
"Malam!"balas puja tersenyum.
"Kenalin kak namaku Vania, aku adiknya kak andre!"ucap Vania.
"Oh ya, kenalin nama Kaka puja!"balas puja.
"beda sekali sikap adiknya dengan kakanya yang super cuek, dingin, dan pemarah!"gumam puja dalam hati.
Andrean hanya menyaksikan perkenalan puja dengan adiknya, kemudian ia menatap puja dengan tatapan tajamnya.
Puja segera menghampiri Andrean.
"Layani aku!"ucap Andrean.
__ADS_1
"Baik tuan!"jawab puja.
Puja dengan telaten melayani Andrean tanpa mengeluh sedikit pun.
"Kau duduklah, kau juga harus makan!"ucap andrean singkat
Puja segera duduk, malam itu mereka makan tanpa ada suara sedikitpun karena Andrean sangat membenci kalau dirinya sedang makan ada yang bersuara.
"Setelah selesai makan, puja membantu bi ira membereskan meja makan.
Puja segera pergi ke kamarnya, untuk segera tidur.
Namun tiba² handphone nya berbunyi, dan ternyata itu sebuah pesan dari Andrean.
"Datanglah ke kamarku!"pesan singkat dari Andrean.
"Baik tuan!"puja membalas pesan Andrean.
Puja segera menuju kamar Andrean.
"Ada apa tuan?"tanya puja.
Puja segera naik ke ranjang manghampiri Andrean yang sedang berbaring.
Tanpa di sangka Andrean langsung meletakkan kepalanya di pangkuan puja.
Puja sontak kaget dengan apa yang dilakukan Andrean.
"Cepatlah pijat, jangan membantah! Kau harus melakukan ini setiap malam!"perintah Andrean.
"Deg...deg...deg...!"jantung puja berdetak tak karuan ketika Andrean tidur di pangkuannya.
Namun puja segera memijat Andrean.
"Tu-tuan apakah aku boleh berbicara padamu!"ucap puja memberanikan diri.
__ADS_1
"Hmmm...!"jawab Andrean.
"Sampai kapan aku harus melayanimu!"tanya puja serentak.
"Kau, beraninya bertanya seperti itu!"teriak Andrean dengan nada marah, sambil mencengkram kuat tangan puuja.
"Tu-tuan maafkan aku!"puja memohon maaf, dengan nada yang gemetar karena cengkraman Kuat tangan Andrean yang membuat tangannya merasa sangat sakit.
"Kau baru sehari disini, tapi kau sudah berani menanyakan sampai kapan?"teriak Andrean.
"Iya tuan maafkan saya!"ucap puja, sambil meneteskan air mata karena menahan sakit di tangannya.
"Dengarkan aku, aku akan melepaskan mu setelah aku bosan kepadamu!"jawab Andrean dengan tatapan tajam.
"Ba-baik tuan!"lanjut puja masih dengan air mata yang berlinang.
"Jangan menangis, aku tidak butuh air matamu!"tegas Andrean, sambil melepas cengkeramannya dari tangan puja.
Puja segera menghapus air matanya.
"Cepat, pijat kepala ku!"ucap Andrean.
Puja segera memijat kepala Andrean kembali tanpa menghiraukan tangannya yang sudah lebam dan terasa sakit akibat cengkraman Andrean.
Tanpa waktu yang lama Andrean terlelap di pangkuan puja, karena pijatan puja sangatlah membuatnya nyaman.
Dengan hati² puja segera memindahkan kepala Andrean dan menyelimutinya.
"Kau sangat tampan! Andaikan saja kau berlaku baik padaku!"gumam puja dalam hatinya sambil menatap ke arah muka Andrean.
Puja segera keluar dari kamar Andrean sebelum Andrean merasa terganggu dari tidurnya, dan akan mendapatkan perlakuan buruk lagi dari Andrean.
Sesampainya di kamar puja langsung mencari obat p3k untuk mengobati tangannya yang terasa sakit, ia mengoleskan salep tepat ke bagian yang lebam dan terasa sakit.
setelah mengobati tangannya puja segera membaringkan tubuhnya di kasur, karena ia harus bangun pagi² untuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"ternyata selain cuek, dingin, pria itu sangat kejam, ohhh....tuhan tolonglah aku!"ucap puja.
tapi ia tidak bisa melakukan apapun, karena ini sudah jadi pilihannya untuk menyelamatkan ayahnya.