
Part. Ali
Dengan kecepatan sedang aku mengendarai mobilku membelah keramaian kota, menuju rumah sakit Ibu dan Anak. Beberapa menit yang lalu, Mama meneleponku dan mengatakan, jika Ratna mengalami kontraksi lebih cepat dari perkiraan dokter.
Sesampainya mobilku di parkiran rumah sakit, aku memarkirkan mobilku lalu turun dengan cepat dari mobil, melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa. Aku sudah tidak sabar menyambut kehadiran bayi laki-lakiku ke dunia ini.
Aku yakin kali ini aku akan mendapatkan bayi laki-laki, kerena beberapa kali USG, dokter selalu mengatakan jika bayi kami laki-laki. Sungguh aku sangat bahagia mendengarnya.
Setelah mendapat informasi dari resepsionis, aku langsung menuju tempat di mana Ratna ditangani oleh dokter, dari kejauhan aku melihat mama dan mbak Rani sedang duduk dengan gelisah di depan sebuah ruangan.
Melihat dari raut wajahnya, seperti bayi lelakiku belum lahir.
"Ma, Mbak, bagaimana keadaan Ratna? Apa bayiku sudah lahir?" tanyaku tak sabar.
Mama dan Mbak Rani serentak menggelengkan kepala, mereka mengatakan, bahwa Ratna mengalami kesulitan dalam persalinan. Membuat hatiku menjadi semakin gelisah.
Aku memilih duduk di sebelah mama, memainkan jari-jariku untuk menghalau ras gelisah. Demi datang ke rumah sakit ini, aku meninggalkan rapat penting, proyek yang nilainya milyaran. Hanya untuk menyambut bayi laki-lakiku, aku berharap akan mendapat kabar baik dari ratna untukku.
Setelah menunggu hingga hampir dua jam, akhirnya operasi berjalan lancar. Lampu merah di atas pintu itu mati, bersamaan keluarnya seorang dokter dari balik pintu itu. Dengan cepat aku berdiri dan menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" Dokter itu membuka maskernya, raut sedih tampak di wajahnya, membuatku semakin khawatir.
"Maafkan kami, Pak. Saya harap Anda bisa bersabar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi putra bapak tidak bisa kami selamatkan. Putra anda keracunan yang disebabkan oleh makanan yang Ibu Ratna konsumsi, hal ini lah yang menyebabkan istri anda mengalami kontraksi lebih cepat dari jadwal persalinannya. Sekali lagi maafkan kami, Pak." Ujar dokter itu lalu pamit pergi.
Deghh!
Serasa dihantam ribuan batu tepat di jantungku, aku terjatuh dan terduduk di lantai. Kakiku lemas seakan tak mampu lagi menopang tubuh tegapku ini.
__ADS_1
Putraku? Bayi laki-laki yang ku nanti telah tiada. Penantianku selama sembilan bulan telah sirna. Bagaimana Ratna bisa keracunan makanan? Sedangkan selama ini aku begitu menjaga dan memanjakannya. Sebenarnya apa yang terjadi.
Buk!
Aku meninju lantai tempatku terduduk dengan keras, hingga terasa perih dan mengeluarkan darah segar. Tak dapatku ungkapkan betapa sakit dan sedihnya hatiku saat ini. Jika saja aku tak malu pada statusku sebagai laki-laki. Mungkin aku sudah menangis meraung menumpahkan semua rasa yang berkecambuk di hati.
"Ali, kamu harus sabar, Nak! Semua ini hanya takdir, mama yakin Ratna masih bisa memberikanmu seorang putra lagi." Ujar mama menghiburku. Menarik punggungku pelan, mengajakku duduk di tempat dudukku semula.
Aku mendengar bibir mama meringis pelan, saat ia melihat tanganku yang berdarah akibat ulahku tadi. Untuk sesaat aku terdiam dengan perasaan yang tak menentu, sebelum kesadaranku akhirnya muncul kembali, aku teringat akan sesuatu.
"Ma, apa yang dimakan oleh Ratna seharian ini?" tanyaku pada mama. Aku lihat mama mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya pelan.
Aku melirik Mbak Rani yang sedang duduk di sebelah mama sekilas, wanita itu tampak menundukkan wajahnya. "Mbk, katakan padaku. Apa yang Ratna makan, hari ini?"
Mbak Rani menegakkan kepalanya dan menjawabku dengan gemetaran. "itu ... itu, tadi, Ratna makan seperti biasa. Ti-dak ada yang aneh." ujarnya sedikit terbata.
Setelahnya aku tak bertanya lagi, masuk keruang rawat setelah Ratna di pindahkan. Melihatnya yang terkulai lemas sehabis operasi. Dengan raut wajah sedih.
"Mas, maafkan aku. Maafkan aku!" pinta Ratna dengan air mata yang tak henti terurai.
Aku menemuinya setelah beberapa saat ia sadar dan emosinya sedikit membaik. Entah sudah berapa kali wanita ini talk sadarkan diri. Saat mengetahui putra kami meninggal, wanita itu mengamuk dan berteriak histeris. Menunjuk-nunjuk wajah Mbak Rani dengan garang.
Di ruangan ini hanya ada kami berempat, aku, Ratna, Mama, dan Mbak Rani.
"Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku padanya.
Aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh diantara Ratna dan Mbak Rani. Tampak dari raut wajah Mbak Rani yang melihat Ratna ketakutan, sedangkan Ratna justru memandang Rani dengan benci.
__ADS_1
"Katakan, Ratna! Apa sebenarnya yang terjadi?!" Aku tak dapat menahan emosiku lagi kali ini, kesabaranku sudah habis.
"Dia!" Ratna menunjuk wajah Mbak Rani.
"Dia yang telah membunuh anak kita, Mas. Dia memberikanku makanan, yang setelah memakannya membuat perutku sakit!" jawab Ratna.
Ucapan Ratna barusan membuat aku dan ibu terkejut. Sedangkan Mbak Rani, masih saja menunduk dan memainkan tangannya dengan gelisah.
Dengan langkah kasar aku menghampiri wanita yang menjadi ibu dari anak-anak kakakku itu.NBafasku memburu, membuatku tanpa sadar melayangkan tangan ke arah wajahnya dengan keras.
Plakk!
Semua yang ada di ruangan ini terdiam, Mbak Rani menatapku dengan tatapan tajam, tangan kirinya memegangi pipinya yang memerah. Tampak jelas kelima jariku membekas di wajahnya.
"Berani sekali kali kau meracuni anak dan istriku, apa kau sudah bosan hidup, hah?"
Masih dikuasai oleh emosi, aku menjambak rambut wanita putih ini hingga ia meringis kesakitan dengan deraian air mata yang terus membanjiri wajahnya.
Kurang baik apa aku selama ini padanya, saat ia diusir oleh Abang Rio karena tidak dapat memberikannya penerus, seorang putra. Aku justru menampungnya dan membiarkannya tinggal di rumah besar mama. Memberikan kebutuhannya dan putri-putrinya, saat Bang Rio sedang lalai akan kewajibannya. Tapi apa balasan yang ia berikan padaku? pada keluargaku?
Dengan teganya ia meracuni anak dan istriku, membuat harapanku akan seorang putra menjadi kandas.
"Maaf, Ali. Mbak ngak bermakasud begitu! Mbak ngak bermaksud membunuh bayi yang ada di kandungan Ratna. SEmua itu hanya kecelakaan. Maafkan mbak!" ujar Mbak Rani memohon. Wanita itu melipat kedua tanganya di depan wajahnya.
Kecelakaan? Enteng sekali ia mengatakan itu semua. Melihat wajahnya yang tampak memerah menahan rasa sakit dari jambakan yang aku berikan, membuatku melempar tubuh ringkih itu ke atas sofa dengan kasar.
Aku mengusar wajahku dengan kasar. " Aku tidak akan memaafkanmu kali ini, Mbak! Aku akan melaporkanmu polisi, agar kamu membayar semua kesalahanmu itu!" hardikku padanya lantang.
__ADS_1