
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, perpisahan yang terjadi antar aku dan Mas Ali, tidak hanya menyisakan luka untukku tapi juga untuk Fitri, putri kami. Setelah perceraian atas bantuan Ibu dan Tuhan, aku bisa melalui hari-hari berat dalam hidupku, tapi tidak dengan putri kecilku.
Setelah empat tahun, aku selalu berusaha menjadi ayah serta ibu yang terbaik untuk Fitri. Namun ternyata, itu tidak cukup untuk Fitri. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk berumah tangga lagi, agar Fitri bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh seperti teman-temanya. Akan tetapi, rasa takut dan kecewa itu kembali menghantuiku. Aku takut suatu hari nanti, suamiku akan meninggalkanku kembali, dengan alasan ketidak sempurnaanku sebagai seorang wanita.
"Bunda, mana ayah? Kenapa Fitli tidak pelnah lihat ayah? Ayah Tasya setiap sole pulang kelumah, kenapa ayah fitli tidak pulang ke lumah? Bunda, apa benal kata tasya, fitli itu ngak punya ayah?" tanya fitri polos
pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut cadel putri kecilku. Sian ini Fitri baru saja pulang bersama ibu dari rumah Tasya, temannya yang tinggal di sebelah. Mata bulat dengan bulu mata lentik itu mengerjap-ngerjap menatapku, menunggu jawaban dariku.
Membuatku bungkam, hati ini terenyuh, sebisa mungkin kutahan sesak serta gemuruh di hati ini, agar air mata yang telah mengenang ini tidak jatuh.
Jujur ... aku bingung, aku juga tak tahu harus menjawab apa? Aku bingung bagaimana menjelaskan pada Fitri tentang apa yang terjadi. Putriku masih begitu kecil untuk mengetahui kebenaran yang akan mengoyak hatinya.
Kuusap lembut kepala bocah kecil berumur empat tahun ini dengan sayang, mencium lembut pipi gembulnya.
"Fitri sayang, kamu pasti lapar kan, Nak? Bunda masak ayam goreng dan sop puyuh kesukaan kamu, Fitri mau bunda suapi?" bujukku. Aku berusaha mengalihkan pertanyaannya yang sulit kujawab, dengan makanan kesukaannya, biasanya ia akan menurut padaku.
Ya...Allah, ya Tuhan! Apa lagi yang harus aku lakukan jika suatu saat nanti ia tidak mau lagi kubujuk, dan menuntut penjelasan dariku. Apa yang harus kukatakan?
Haruskah kukatakan kebenaran yang akan menghancurkan hatinya? Seperti hancurnya hatiku dulu.
__ADS_1
"Bu, sebaiknya jangan ibu bawa Fitri main ke tempat Tasya lagi, Bu! Aku takut perkataan gadis kecil itu akan menyakiti putriku nantinya," ujarku pelan.
Aku dan ibu sekarang sedang duduk santai di teras samping, sedang kan FItri sedang asyik nonton tv di ruang keluarga, dari hasil kerja kerasku selama empat tahun ini, aku mampu membeli rumah yang cukup layak untuk ditinggali oleh kami bertiga.
Bahkan bisa di katakan rumah mewah, aku fasilitasi rumah ini dengan segala fasilitas penunjang seperti taman bermain, dan lainnya. Bahkan dari gajiku di resto, aku mampu membayar satu orang pembantu dan seorang pengasuh, untuk membantu ibu di rumah saat aku sedang bekerja.
Akan tetapi, semua kemewahan ini terasa hampa, saat mata indah putriku tampak sendu memandang teman-temannya yang memiliki ayah, dengan tatapan sedih dan iri.
"Bukan salah Tasya, Sukma. Bukan hanya Tasya saja yang akan mengatakan hal itu pada Fitri nantinya, tapi teman-temannya yang lain juga pasti akan menanyakan hal itu. Di mana ayahmu? Siapa dia? Kenapa tidak pulang? Kamu tidak akan pernah bisa mengurung putrimu seperti ini terus, Sukma! ucap ibu. Air mataku tak dapatku bendung lagi, isak tangis mulai keluar dari bibirku.
"Lalu aku harus bagaimana, Bu? Apa yang harus aku jawab, saat putriku menanyakan keberadaan ayahnya? Apakah aku harus mengatakan padanya, jika ayahnya meninggalkan kami karena tidak mengharapkan kelahirannya di dunia ini? Aku tak sanggup, Bu. Aku tak sanggup, Bu!" tanyaku. Aku berlutut dan menangis di pangkuan ibu dengan tersedu-sedu.
Aku merasakan tangan ibu mengusap-usap kepalaku lembut, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut ibuku. Kami berdua hanyut dalam pemikiran kami masing-masing.
Setelah perbincangan dengan ibu siang tadi, aku memutuskan pergi. Hari libur yang seharusnya kuhabiskan dengan keluarga, tapi justru aku habiskan untuk mengurus resto.
Dengan langkah gontai, aku berjalan ke arah dapur. Aku menggunakan apronku. Pikiranku sekarang bercabang-cabang. Sejak Fitri menanyakan keberadaan ayahnya, gadis kecilku itu menjadi sedikit pendiam dan murung. Makannya yang biasa lahap, sekarang menjadi enggan.
Aku menghela napas, dengan cepat membantu Diya menyiapkan makanan pesanan pengunjung. Biasanya hari senin, seperti biasa resto tidak terlalu ramai dengan pengunjung, itu sebabnya aku selalu libur pada hari ini, agar pegawai yang lain tidak kelabakan saat aku tinggal.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini?" ujar Mas Amar mengagetkanku.
"Sedang masak, Mas!" menunjukkan padanya sendok serta kuali yang sedang aku pegang.
"Bukan itu maksudku," balasnya.
"Lalu apa?" Alisku bertaut.
Empat tahun bersamanya di resto membuatku menjadi paham sedikit demi sedikit watak dan karakternya. Mas Amar memang tipe pria yang minim ekspresi, ia juga tidak pandai berbasa-basi. Akan tetapi hatinya baik, dan pengertian.
"Bukankah hari ini, hari liburmu, Sukma? Lalu kenapa masuk kerja?" tanyanya kembali.
"Tidak ada yang bisa kulakukan di rumah, Mas. Jadi aku pikir mungkin lebih baik aku ke resto saja, siapa tahu mereka semua membutuhkan bantuanku." Jawabku seadanya.
Terlihat Mas mar menghela napas. "Kamu tak bisa menyembunyikannya dariku, Sukma! Apa ada masalah di rumah?tanyanya serius.
"Tidak! Tidak ada masalah apapun di rumah, Mas. Aku hanya merasa bosan saja di rumah, sedangkan Fitri dan ibu pergi ke rumah temannya," jawabku sedikit berbohong. Aku pikir tak ada gunanya juga aku berkata jujur padanya.
Toh ... Kami hanya sebatas partner kerja, jadi tak perlu aku menjelaskan secar gamblang tentang masalah pribadiku padanya.
__ADS_1