Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Bab 13.


__ADS_3

Seperti biasa setiap jam makan siang, aku harus menyajikan makanan untuk Mas Amar, dan tempat yang ia pilih selalu di gazebo ini. Sudah hampir empat tahun waktu berlalu, selama itu pula aku selalu menemani ia setiap jam makan siang.


Menyiapkan dan melayaninya saat ia makan, terkadang aku berpikir, kenapa pria di hadapanku ini tidak menikah lagi saja. Agar ada yang meladeni dan melayaninya sebagai suami.


Bukaannya hilir mudik dari kantor ke resto, toh ... Resto ini juga aku yang urus. Ia hanya sekedar memantau saja, apa harus di lakukan setiap hari seperti ini?


"Sebenarnya ada masalah apa, Sukma? " tanya Mas Amar lagi. Sedikit mendesakku. Aku menyodorkan piring yang sudah aku isi nasi dan lauk-pauk.


Aku menautkan alis, "Maksud Mas, apa? Aku tidak mengerti."


Mas Amar menghela napas, ini adalah kemajuan darinya setelah empat tahun waktu berlalu bersamaku. Ia jadi sering menghela napas, entah ini kemajuan atau beban? Aku tidak tahu!


"Aku sudah bilang berulang kali, Sukma. Kamu tidak bisa menyembunyikan raut wajah jelekmu itu padaku. Aku lihat akhir-akhir ini kamu jadi sering murung?" tanyanya lagi. Menjadi cerewet dan banyak tanya, juga sebuah kemajuan dari seorang Amar.


"Fitri, Mas. Ia mulai sering menanyakan tentang ayahnya, dan akhir-akhir ini, anakku itu jadi lebih pendiam dan murung. Aku bingung harus bagaimana, apa aku harus menemui Mas Ali? Memintanya barang sebentar untuk datang menemui putrinya itu?" ujarku mulai terbuka.


Aku mulai terbuka padanya, aku pikir tak ada salahnya, aku juga butuh tempat bercerita. Tak sanggup rasanya beban ini kupendam sendiri.


Mas Amar menghentikan makannya dan meletakkan sendoknya di atas piring. Ia menatapku, sorot matanya yang tajam sangat sulit untuk aku artikan.


"Apa kamu yakin, Ali mau datang dan menemui putrinya itu?" tanyanya.


Aku menjawab dengan gelengan kepala pelan. Aku juga tidak yakin mantan suamiku itu mau repot-repot datang hanya untuk putri kami.

__ADS_1


Aku menghela napas panjang, bayangan wajah Fitri hadir di benakku, membuat hati ini kembali sakit. Bahkan lebih sakit dari saat Mas Ali menceraikanku. Suasana hening meliputi kami. Aku menatap piringku yang sudah kosong, hilang sudah selera makanku, bahkan tak kuhiraukan sedikit pun rasa lapar yang mendera perut ini.


"Kenapa kamu tidak nikah lagi saja, Sukma? Memberikan Fitri kehangatan keluarga yang sempurna?" ujarnya kembali.


Pertanyaan Mas Amar membuatku tersenyum getir, kehangatan keluarga yang sempurna? Enteng sekali ia mengatakannya.


"Sempurna seperti apa yang Mas Amar, maksud? Lelaki mana yang mau menikah dengan wanita cacat sepertiku?" jawabku lirih.


Lagi-lagi pria di hadapanku ini menghela napas, acara makan siang kami hati ini berubah menjadi sesi tanya jawab dan curhat santai.


"Tidak semua lelaki seperti itu, Sukma. Pasti ada yang mau menerima kamu dengan tulus,"


"Benarkah? Mana mungkin ada lelaki yang mau menerima wanita yang tak mampu memberinya keturunan, sepertiku! Sedangkan memberi anak perempuan saja aku sudah di campakkan!" Aku tersenyum getir mengingat nasibku sendiri.


"Siapa?" tanyaku.


Aku tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Mas Amar. Hingga kami menjadi tontonan sebagian orang yang ada di dekat kami duduk saat ini. Kuakui caranya menghiburku cukup unik.


"Kenapa, kamu tertawa?" tanya Mas AMar. Wajahnya tampak tak saku. Aku menghentikan tawau.


"Maaf! Maaf, Mas. Aku hanya lucu mendengar ucapan Mas tadi, aku ..." Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, gawaiku yang ada di atas meja berdering menyampaikan nama ibu di layar.


Dengan cepat aku menyambarnya dan mengangkat sambungan telepon, tidak biasanya ibu meneleponku di jam kerjaku. Kecuali penting ada sesuatu yang penting atau darurat.

__ADS_1


"Hallo, Assalamu'alaikum, Bu," ujarku setelah menekan tombol hijau di layar.


"Sukma! Fitri ... Fitri!" ujar ibu dari seberang. Suaranya terdengar bergetar menahan tangis, membuat darahku langsung berdesir. Ya ... Allah, ada apa dengan putriku.


"Kenapa Fitri, Bu? Kenapa ibu menangis?" tanyaku panik.


"Fitri masuk rumah sakit, tadi badannya panas tinggi dan sempat kejang, Nak! Kamu cepat kesini Sukma, ibu ada di rumah sakit Kasih Bunda!" Seketika jantungku terasa berpacu dengan cepat, rasa panik mendera dan air mata pun ikut luruh di pipi.


Tit!


Aku langsung mematikan sambungan telepon tanpa menjawab ucapan ibu terlebih dahulu. Tangan Mas mar mencekal tanganku saat aku mulai bangkit dan bergegas ingin pergi.


"Ada apa, Sukma?" tanyanya tak kalah kaget dengan sikapku.


"Fitri, Mas ... Fitri masu rumah sakit, ia demam tinggi dan kejang." ujarku khawatir.


"Aku ikut denganmu ke rumah sakit, Sukma!" sahut Mas Amar cepat.


"Tapi Mas ..."


"Tidak ada tapi-tapian, Sukma. Ayo!"


Belum selesai aku berucap. Mas Amar langsung menarik tanganku, membawaku dengan cepat ke mobilnya yan terparkir di depan resto. Selama perjalanan, aku selalu berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan putri kecilku.

__ADS_1


Setahuku Fitri tadi pagi masih baik-baik saja, walau memang agak hangat. Hanya saja, memang beberapa hari belakangan ini, putriku itu tampak lemas dan sedikit rewel.


Ada apa dengan putriku Tuhan? Lindungi Fitri kecilku hanya ialah semangat hidupku saat ini.


__ADS_2