
Aku tidak habis pikir, bagaimana Mas Ali begitu berani datang ke rumah ini dan berniat mengambil Fitri dariku. Aku yakin ada sesuatu yang sedang ia rencanakan. Jika tidak, tidak mungkin ia begitu ngotot ingin rujuk kembali padaku. Karena Fitri? Itu tidak akan mungkin, karena aku tahu pasti, siapa Mas Ali.
Aku mendekati Fitri yang sedang duduk manis di sebelah Mas Amar. Kuusap kepala putriku lembut, sudah tak sabar mulut ini ingin menanyakan perihal kejadian tadi padanya, Apa Mas Ali memaksa dan berlaku kasar pada putriku tadi. Sebab aku melihat putriku menangis di gendongannya.
Fitri gadis kecilku ini, adalah anak yang tidak mudah dekat dengan orang lain. Bahkan ia cenderung membatasi diri terhadap orang luar. Dengan Mas Amar saja ia bisa dekat, karena ia mengira Mas Amar adalah ayahnya.
"Fitri, Bunda boleh tanya sesuatu, ngak, sayang?" ujarku lembut. Mas Amar menatapku bingung. Mungkin ia penasaran dengan pertanyaan yang ingin aku sampaikan. Entahlah ...
"Apa, Bunda? Bunda mau tanya apa sama, Fitli?" Jawab Fitri. Aku menarik tubuh kecil itu dan menariknya di pangkuanku, kupeluk sayang tubuh mungil kesayanganku ini.
"Om tadi jahat dan memaksa Fitri, ya?" tanyaku. Sengaja aku menyebut Mas Ali dengan sebutan Om, agar tidak timbul banyak pertanyaan dari gadisku. Lagi pula, aku juga bingung harus memanggil ia pa di hadapan Fitri.
Fitri menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaanku itu. Membuatku mengerutkan dahi.
"Kalua Om itu tidak memaksa Fitri, kenapa Fitri mau dekat sama Om itu? Lalu kenapa Fitri nangis, saat di gendong, Om itu?" tanyaku lagi menyelidik.
"Fitli tidak tahu bunda, Fitli pengen dekat aja, sama Om tadi. Fitli ngelasa senang lihat Om itu datang!" jawab putriku polos.
Aku dan Mas Amar tersentak mendengar jawaban Fitri. Mataku mulai memanas. Benarkah ikatan batin itu ada? Benarkah Fitri bisa menyadari keberadaan ayah kandungnya, walau ia tidak pernah berjumpa. Hingga ia mendekat begitu saja, pada Mas Ali tanpa rasa waspada.
Kutahan gemuruh serta sesak di dada ini, agar air mata tidak terjatuh. Aku tidak mau terlihat sebagi ibu yang lemah di hadapannya.
"Terus ... kenapa Fitri nangis, kalau Om itu tidak memaksa Fitri?"
"Fitli nangis kalena ... Om itu dolong nenek hingga jatuh. Fitli tak suka, om itu kasal sama nenek! Kasaihan nenek pasti sakit!" jawab Fitri dengan ekspresi pura-pura cemberutnya yang membuatku sedikit tersenyum.
"Bunda ... memangnya Om itu siapa? Tadi om itu bilang, dia papa Fitli. Apa itu benal, ya? Kalau om itu papa Fitli, lalu yang Fitli panggil ayah ini siapa? Apa Fitli punya dua ayah?" ujar putriku lagi.
__ADS_1
Deghhh.
Ya Allah ... ya Robbi! Begitu pintar anugrah yang Engkau kirimkan padaku ini. Di usianya yang baru empat tahun, ia sudah bisa memberikan pertanyan yang membuatku terdiam membisu. Hingga aku tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaannya. Air mata yang kutahan sedari tadi akhirnya jatuh juga. Tak kuat aku menahan sesak di dada ini, ya Robbi.
Apakah ini arti dari ungkapan 'darah lebih kental dari pada air' walau aku tutupi, tapi batinnya tak dapat kubohongi. Walau umurnya yang masih kecil, tapi ia cukup peka merasakan apa yang sedang terjadi.
Fitri menggoyang-goyangkan tanganku manja. "Bunda ... kenapa nangis? Ayo jawab peltanyaan Fitli! Siapa ayah Fitli? Kalau ayah ini ayah Fitli, lalu kenapa ayah dan bunda tidak tinggal belsama. Mama dan papa Tasya tinggal belsama! Kenapa ayah dan bunda tidak? Fitli mau ayah dan bunda tinggal belsama seplti mama dan papa Tasya!' pinta Fitri dengan menitihkan air mata sambil memeluk tubuhku erat, ia menyembunyikan wajah kecilnya di dekapanku.
"Fitri pengen negelasakan tidul diantala ayah dan bunda seperli Tasya yang tiap malam tidul dengan papa mamanya. Fitli pengen seplti Tasya, Bunda." isak tangis Fitri kembali bergema di pelukanku.
Mas Amar yang sedari tadi diam kini memandang mataku dalam, aku tidak dapat mengartikan makna yang tersirat dari sorot matanya.
Aku juga bingung dengan semua ini. Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Hatiku begitu hancur dengan apa yang kudengar dari mulut gadis kecilku tadi. Ternyata ksaih sayang yang aku berikan tidak cukup mengobati rasa rindu gadis kecilku terhadap sosok seorang ayah.
Bahkan saat Mas Amar hadir tidak juga cukup membuat hati Fitri sepenuhnya bahagia. Ia tetap merasakan dirinya berbeda dari teman-temannya.
Kenyataan ini cukup menyadarkanku, betapa egoisnya aku selama ini. Aku terlalu larut dalam ketakutan dan kesedihanku sendiri, tanpa aku sadari putrikulah yang paling menderita di sini.
Sejak itulah, Fitri lebih membatasi diri dalam berteman, Hanya Tasya teman yang mau ia dekati. Gadis kecil itu sama pintarnya bahkan terbilang centil. Aku terkadang bingung asupan gizi apa yang orang tua Tasya berikan pada putrinya, hingga tutur kata dan pemikirannya jauh di atas rata-rata gadis seumurannya.
Setelah sekian lama bergelut dengan pikiran yang berkecambuk, serta gemuruh di dalam hati. Akhirnya kuusap kasar air mata ini, lalu kuciumi puncak kepala putriku dengan sayang.
Aku sudah membuat sebuah keputusan, aku tak bisa hidup dalam katakutanku seperti ini terus. Putriku berhak bahagia, ia berhak hidup dengan keluarga yang utuh. Ya ... aku tak boleh egois lagi. Apa pun yang terjadi nanti, akan aku tanggung. Asalkan putriku bahagia, ia bisa bahagia merasakan apa yang dirasakan teman-temannya.
"Fitri mau ayah dan bunda tinggal bersama? Baiklah, bunda dan ayah akan tinggal bersama. Asalkan ..."
Aku menggantung ucapanku, ingin melihat bagaimana reaksi gadis kecilku dan benar saja. Fitri langsung menghentikan tangisnya dan memandang ke arahku penuh harap.
__ADS_1
"Asalkan apa bunda?"
"Asalkan Fitri janji sama bunda, tidak akan jadi anak nakal lagi! Fitri tidak boleh dekat-dekat dengan orang yang tidak dikenal, dan jangan terima pemberian orang sembarangan lagi. Janji?"
"Janji bunda! Hole ... Fitli akan tinggal belsama ayah dan bunda. Fitli akan bilang sama Tasya kalau Fitli sekalang punya ayah asli bukan ayah bohongan lagi." teriak Fitri dengan riang. Wajah yang tadi sendu sekarang berubah menjadi berbinar. Ucapan Fitri tentang ayah asli dan ayah bohongan sungguh mencubit hatiku. Dari mana ia tahu kiasan itu.
"Benarkah kita akan tinggal bersama? Kita bertiga?" timpal Mas Amar tiba-tiba membuatku dan Fitri menoleh ke arahnya.
"Tidak bisakah kamu menanyakannya nanti saja, Mas?" jawabku.
"Aku hanya tidak mau kamu berubah pikiran, Sukma. Mumpung ada Fitri, jadi kamu ngak mungkin ingkar janjikan!" ucap Mas Amar. Dasar pria ini, paling pintar mencari peluang.
"Bunda, ayah akan tinggal belsama kita,kan? Malam ini ayah akan tidul belsama kita,kan?" ujar Fitri yang membuat senyum tipis tersungging di bibir Mas Amar. Ia seakan mendapatkan sekutu yang kuat berada dipihaknya.
"Iya, sayang. Ayah akan tinggal bersama kita, tapi tidak malam ini, ya, Nak. Malam ini Fitri tidur sama bunda dan nenek dulu," bujukku lembut. Karena kalau jika Fitri ngoto Mas Amar tidur di rumah ini, malam ini. Bisa-bisa kami diarak orang satu kampung.
"Yah, bukan hali ini ... tapi bunda janji, ya. Ayah akan tinggal di sini belsama kita,"
Suara Fitri terdengar kecewa, membuatku merasa iba. Begitu sangat berharapnya putriku memiliki keluarga yang utuh.
"Tentu sayang, secepatnya. Ayah akan tinggal bersama kita, ..."
"Secepatnya ayah membawa bundamu ke depan penghulu," potong Mas Amar, yang membuat mataku mendelik ke arahnya. Sedangkan yang dijelitin, hanya tersenyum nakal padaku. Ini adalah sisi lain seorang Amar yang sering kudapati selama aku mengenalnya.
Note. Untuk dialog Fitri menggunakan dialog bocah empat tahun yang cadel, ya. Dimana penggunaan huruf 'R' berubah menjadi huruf 'L'
Apa yng akan dilakukan oleh Ali untuk menggagalkan pernikahan Sukma dan Amar? Akankah Sukma bisa hidup bahagia bersama Amar, dengan kekurangannya? Tunggu kisahnya di bab-bab selanjutnya.
__ADS_1
Terima kasih banyak sudah mampir dan membaca cerita saya hingga bab ini.
Sebelum beranjak ke bab selanjutnya, jangan lupa like, komen dan tekan tombol mengikuti, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita terbaru saya. Terima kasih Happy readingππ»ππ»ππ»