Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Part 17.


__ADS_3

POV. Ali


Sial! Benar-benar sial! Setelah sekian lama tak bertemu dengan mantan istriku itu, kini ia justru tampak lebih cantik dan modis. Membuat jantungku kembali berpacu. Awalnya aku ingin menyapa, tapi entah mengapa mulutku justru mengatakan hal-hal yang justru menghinanya.


Sukma Safitri, wanita yang aku talak empat tahun yang lalu. Kini muncul bak bidadari. kulit kuning langsat yang bersih dan terawat, wajah putih dan bersemu merah membuat ia awet muda dan cantik jelita.


Sangat berbeda sekali dengan dirinya dulu, saat masih bersamaku. Membuat debaran di hatiku yang dulu sempat hilang kini timbul kembali, seperti saat masa-masa kami pacaran dulu.


Panasnya tamparan di pipiku ternyata tidak sepanas hatiku saat melihat ia bersama seorang lelaki yang mengaku sebagai calon suaminya. Tidak! Aku tak rela Sukma yang cantik jatuh ke tangan pria itu.


Apalagi sekarang aku sudah putra laki-laki dari Ratna, jadi tak ada salahnya rujuk dengan mantan istri. Aku yakin dengan mendekati Fitri dan membujuknya, pasti Sukma mau menerimaku kembali.


"Mas, kamu sedang memikirkan, apa? Aku lihat sejak bertemu Sukma tadi, kamu jadi uring-uringan begitu?" tanya Ratna. Kepalaku jadi berdenyut mendengar suaranya yang cerewet. Ratna memang terlah berjasa padaku dengan memberikanku seorang putra yang aku inginkan


Hanya saja wajahnya tak begitu cantik membuat aku bosan, apa lagi sekarang gurat-gurat di wajahnya, tidak seperti Sukma yang tambah awet muda. Padahal Ratna rajin menghambur-hamburkan uangku untuk pergi ke salon mahal, tapi kenapa kulit wajahnya tidak sebaik kulit wajah, Sukma?


Apa jangan-jangan, Sukma perawatan di salon ternama? Bisa jadi, jika di lihat dari tampilannya yang begitu modis, apa yang di kenakannya juga adalah barang berkualitas. Wah ... benar-benar mantap, wajah cantik dan kaya. sangat cocok untukku!


"Sukma sayang, Mas Ali akan datang menjemputmu kembali. Mas sayang padamu!" ucapku di dalam hati.


"Mas! Kamu dengar ngah sih, apa yang aku katakan?" ujar Ratna. Suara cempreng istriku ini membuyarkan lamunanku, padahal tadi aku sedang membayangkan mencumbu mantan istri yang cantik.


"Iya, apa? Berisik banget sih! Dari pada berisik, mending, kamu urus Bayu. Lihat anak kita sampai demam tinggi begini, karena kamu ngak becus jadi ibu!"


"Kok, kamu jadi menyalahkan aku sih, Mas! Seharusnya yang salah itu kamu, kamu ngak pernah ada waktu buat anak kita. Hingga ia sakit begini! Bayu itu ngak cuma butuh ibunya, tapi dia juga butuh perhatian bapaknya! Dulu aja ngebet banget pengen punya anak laki-laki, giliran dapar, boro-boro diurusi, di perhatikan saja tidak!" sungut Ratna. Membuatku langsung menatapnya tajam, lancang sekali mulutnya terhadapku.


Plak!


Tanpa sadar aku menampar wajah Ratna keras. Aku tak suka jika da yang berani melawanku, apa lagi jika ia berbicara lantang di hadapanku seperti ini. Tambah memancing emosiku saja.

__ADS_1


"Kamu menamparku, Mas! Beraninya kamu menamparku, Mas!" sungut Ratna sambil memegang pipinya yang memerah dan tercetak lima jariku di sana.


Aku mengusap wajahku kasar, sejak melihat mantan istriku bersama pria lain membuat emosiku membuncah. Aku tak bisa begini, aku harus keluar mencari udara segar untuk menjernihkan pikiranku sebentar.


"Aku mau keluar, kamu urus Bayu baik-baik! Awas jika terjadi sesuatu dengan putraku! Aku buat hidupmu menderita di jalanan!"


"Tapi, Mas ... kamu mau kemana? Jangan bilang kamu mau menemui mantan istrimu itu. Aku tahu kamu masih mencintai Sukma, kan? Aku melihat kamu cemburu saat Sukma bersama lelaki itu!"


Aku tak menghiraukan ucapan Ratna, jika aku ladeni saat ini, aku tak yakin besok wajahnya akan baik-baik saja di tanganku. Kulangkahkan kakiku keluar mencari udara segar. Sekaligus mencari cara bagaimana mendekati kembali mantan istriku itu. Aku menyesal telah menceraikannya dulu.


Bodoh sekali aku yang telah mencampakkan berlian di pinggir jalan, dan sekarang belian itu mau dipungut orang. Tidak! Ini tidak boleh terjadi!


???


Pagi ini Fitri sudah di perbolehkan pulang lebih dulu oleh dokter. Aku membuntuti Sukma sejak keluar rumah sakit hingga pulang ke rumah. Mataku berbinar menyaksikan pemandangan yang ada di dean mataku saat ini.


Sebuah rumah mewah bergaya minimalis menjadi tempat hunian mantan istriku sekarang. Pantas saja aku pernah melihat rumahnya yang dulu telah dihuni oleh orang lain, rupanya ia sudah memiliki hunian baru yang lebih mewah. Bahkan lebih mewah dari yang aku dan Ratna tempati.


Walaupun ia tidak bisa memberiku seorang putra, setidaknya dirinya bisa menjadi istri yang berguna. Membantu ekonomiku yang sedang kacau saat ini.


Akibat ulah mama dan Ratna yang gila belanja, aku terjerat hutang yang begitu besar serta tagihan kartu kredit yang menunggak setiap bulannya.


Aku harus memikirkan cara bagaimana supaya Sukma mau menerima dan rujuk kembali padaku, sebelum pria yang bernama Amar itu menikahinya. Aku tak sudi Sukma jatuh di tangan pria itu.


Mungkin Fitri, putri kami bisa membuatku dan Sukma kembali bersatu. Iya ... aku harus mendekati Fitri. Aku tersenyum bahagia membayangkan akan kembali lagi berjaya dan akan memiliki sebuah restoran yang mewah serta istri yang cantik.


Aku kembali ke rumah sakit menemui Ratna serta putraku Bayu yang masih di rawat.


Cklekk!

__ADS_1


Aku membuka pintu dan menghampiri Ratna yang sedang menyuapi putra kecilku yang manja. Bayu baru berumur dua tahun, tapi tubuhnya yang besar tinggi membuatnya terlihat seperti bocah berumur empat tahun.


"Bagaimana keadaan Bayu?" tanyaku. Tanganku terulur mengusap kepala bocah yang wajahnya mirip denganku ini, sungguh tampan putra kebangganku.


"Baik, Mas. Mas ini tagihan rumah sakit." Ujarnya.


Ratna memberikan sebuah kertas padaku, aku menerima dan membukanya. Mataku membulat sempurna dengan mulut ternganga. Untuk biaya perawatan selama tiga hari di kenakan biaya, dua puluh enam juta! Nominal yang tertera di kertas itu, membuat aku mengurut pangkal hidungku. Kepalaku langsung nyut-nyutan.


Sebenarnya nominal itu tidak terlalu berarti, andai saja keuanganku tidak sekacau ini. Sedangkan ku dan Ratna gengsi membawa putra kami berobat ke rumah sakit biasa. Apalagi yang kamarnya berbaur dengan orang banyak. No way!


"Bagaimana, Mas? Cepat bayar! Tadi bagian administrasi sudah bolak-balik kesini menagihnya." Tuturnya.


"Baiklah, tapi tak ada uang bulanan untukmu minggu ini! Gajiku habis di potong kartu kredit yang kamu dan ibu gunakan!" jawabku.


Ratna meletakkan sendok ditangannya ke atas piring, dan menatapku tak suka. "Loh ... kok gitu, Mas! Lalu biaya hidup kita sehari-hari bagaimana?" tanyanya. Seolah tak terima dengan keputusan yang kuambil.


Mau bagaimana lagi? Aku sudah tak punya uang lagi, hutang-hutangku sudah menjerat leher hanya untuk memenuhi biaya kebutuhan kami yang di luar batas.


"Kamu jual saja perhiasanmu itu, aku rasa itu cukup untuk biaya hidup kita hingga keadaan ekonomi kita kembali normal!"saranku. Ratna tampak melongo sejenak, lalu menggelengkan kepalanya, menolak.


"Ngak! Aku ngak mau! Itu kan tanggung jawab kamu, Mas! Kenapa harus menjual perhiasanku? Pokoknya aku tak mau, titik! Kamu jual saja milik ibumu, bukankah dia juga ikut menghabiskan uangmu!" sungut Ratna.


Dasar wanita tak tahu diri, giliran suami kesusahan, dia mau lepas tangan dan tak mau tahu. Padahal dialah yang membuat aku seperti ini. Awas saja kamu Ratna, jika aku sudah kembali dengan Sukma, akan kau buang kamu!


Sedangkan Bayu akan bersama aku dan Sukma. Aku yakin Sukma akan menerima Bayu seperti anak kandungnya sendiri, wanita itu hatinya begitu lembut dan keibuan.


"Terserah! Jika kamu tak mau menjualnya, itu terserah padamu! Yang jelas aku tak akan memberimu dan mama jatah bulanan minggu ini, karena aku memang tak ada uang lagi. Akibat ulah kamu dan mama yang hobi foya-foya dan membeli barang-barang yang tak berguna itu, membuat kita jatuh miskin, Ratna, kamu harus sadari itu!" balasku dengan napas yang mulai menggebu. Aku mulai terpancing emosi.


"Sudahlah, aku mau membayar biaya rumah sakit dulu. Nanti sore kita pulang, dokter juga mengatakan Bayu sudah membaik dan bisa di bawa pulang." Ujarku untuk mengakhiri perdebatan ini.

__ADS_1


Aku membalikkan badan dan meninggalkan Ratna dan putraku Bayu. Tak ada gunanya membicarakan hal ini padanya. Hanya akan memancing keributan saja. Bukannya membantu mencari jalan keluar, tapi justru menambah masalah baru untukku nantinya.


__ADS_2