
Setelah membasuh wajahku, lalu aku membubuhkan make up sedikit, agar wajahku tak tampak terlalu sembab serta lusuh. Setelah dirasa wajahku pantas, aku keluar kamar dan menemui Mas Amar yang masih sedang bermain bersama putriku.
Sebenarnya aku malas menemuinya dengan keadaanku yang seperti ini, hanya saja ibu sedari tadi selalu memaksa.
"Pergilah Sukma, temui Nak Amar sebentar! Tidak enak sama dia, jika kamu tidak menemuinya, Nak mar sudah baik banget dan keluarganya juga sudah banyak mambantu kita!" ujar ibu tadi padaku.
Membantuku tak enak hati jadinya. Kuakui jika bukan berkat kebaikan Bu Romla, ibunya Mas Amar, mana mungkin hidupku jadi sebaik ini.
Hingga akhirnya terpaksa aku menuruti keinginan ibu, aku juga heran keinginan ibu, aku juga heran semenjak Fitri mengakui dirinya sebagai ayah. Mas Amar jadi sering datang ke rumah ini untuk menemui Fitri. Padahal selama ini kami hanya bertemu di resto saja.
Aku mengurut pangkal hidungku, kepalaku langsung terasa nyut-nyutan sekarang. Karena melihat banyaknya bawaan yang Mas Amar bawa untuk Fitri. Mainan dan makanan kesukaan Fitri, dan ada pula paper bag yang berisi beberapa potong gaun cantik yang ia pilih untuk Fitri.
Kuakui Mas Amar sangat telaten menghadapi anak-anak. Apa mungkin, karena umurnya yang memang sudah sangat pantas untuk menjadi seorang ayah.
Seharusnya di umurnya sekarang, Mas Amar sudah seharusnya memilki beberapa orang anak. Namun anehnya, ia justru betah menduda tanpa adanya niatan dekat dengan perempuan mana pun. Kecuali diriku.
"Mas, kamu ngak perlu membawa banyak barang untuk Fitri, nanti dia manja!" tegurku. Aku mengambil posisi duduk di kurs yang ada di sebelah Mas Amar, dan menoleh ke arahnya yang masih asyik bermain bersama Fitri.
"Fitri adalah anak yang pintar, dia juga tidak manja. Anggap ini hadiah untuknya, karena sudah menjadi gadis yang menggemaskan." Jawab Mas Amar santai.
Dengan telaten pria ini menemani Fitri bermain. Benar kata pepatah, jangan menilai seseorang hanya dengan sampulnya saja, seperti pria yang ada di sampingku ini.
Selama dekat dengannya beberapa tahun ini, membaut aku mengerti, bahwa Mas Amar adalah pria yang baik dan lembut. Tak ada sedikit pun cacat pada dirinya, tapi kenapa pernikahannya dulu kandas dan hanya berlangsung selama empat bulan? Itu masih menjadi tanda tanya di pikiranku?
__ADS_1
"Mas, maaf. Bukan maksudku menyinggungmu, tapi sebaiknya, kamu jangan terlalu dekat dengan putriku! Aku tak mau Fitri terlalu bergantung padamu, dan larut dalam kebohongan, karena menganggap kamu sebagai ayahnya. Lagi pula, tak enak dilihat tetangga jika kamu terlalu sering ke rumah ..."
"Ayo kita menikah Sukma!"
Ucapanku yang panjang lebar hanya dijawab olehnya, dengan satu baris kalimat yang sukses membuatku terpaku beberapa detik, lalu tertawa.
Mas Amar mengerutkan dahinya menatapku. "Apa yang kamu tertawakan, Sukma?"
Aku hentikan tawaku, dan menoleh ke arah Mas Amar yang sedang memandangku serius. "Aku tahu kamu orangnya tidak romantis bahkan cenderung kaku, Mas. Namun, tidak gitu juga, lah Mas. Kamu ngajak aku nikah seperti ngajak aku ke pasar malam saja! Bercandamu benar-benar tidak lucu kali ini mas," aku kembali tertawa kecil.
Mas Amar tampak menghela napas panjang. Memegang kedua lenganku dan menarik tubuhku menghadap ke arahnya. Ia menatapku tajam.
"Aku tidak bercanda Sukma, ayo kita menikah!" ucapnya lagi. Dengan serius.
"Apa kamu mau menikah denganku Sukma? Kita bisa membangun kelurga yang utuh serta bahagia. Bahkan Fitri bisa memanggilku ayah sepuasnya, tanpa ada yang melarang," ujar pria itu lembut. Sangat lembut membuat desiran aneh di hatiku.
Aku masih menatap Mas Amar kaku, jantungku mulai berpacu tak menentu. Ucapan Mas Amar membuatku teringat akan seseorang, yang dulu juga pernah memberikan janji keluarga yang bahagia bersamaku. Namun pada akhirnya, pria itu juga yang menghancurkan janji itu.
Janji tinggallah janji, yang tersisa hanya ada aku dan kekecewaan di hatiku. Haruskah aku menerimanya, aku tetap hidup seperti ini dengan kesendirianku.
Kilasan memori saat Mas Ali menghina dan mencampakkan aku, kembali hadir. Aku takut saat Mas Amar jga melakukan itu padaku. Membuat rasa sakit yang susah payah aku obati menjadi terbuka kembali.
"Beri aku waktu, Mas. Aku butuh waktu untuk berpikir," pintaku.
__ADS_1
"Tentu Sukma, aku akan memberimu waktu! Tapi kumohon pikirkan baik-baik ajakanku itu. Aku menyayangi kalian berdua," ucapnya dengan tatapan kecewa.
Mas Amar melepaskan tangannya dariku, ia menoleh ke arah Fitri yang sedang bermain. Mengusap lembut kepala gadis kecilku itu. "Fitri, ayah pulang dulu ya. Besok-besok ayah datang lagi, dan main sama Fitri!"
Fitri mengangguk dan memberi salam dengan mencium tangan Mas Amar. Ada gurat kesedihan di wajah Fitri saat lelaki yang bukan ayah kandungnya itu pamit pulang. Membuat hatiku tak tega.
Aku masih terdiam saat pria putih ini pergi, aku hanya mampu menggigit bibir bawahku sambil menatap punggungnya. Air mata yang sedari tadi aku tahan akhirnya jatuh kembali. jauh di dasar hatiku, ada keinginan membangun rumah tangga kembali. Namun rasa takut dan sakit membuatku tertahan.
Dengan kekurangan yang kumiliki membuatku takut, semuanya akan terulang kembali. Mas Amar masih muda, dan belum memiliki anak. Aku takut suatu saat ia akan menyesal dan meninggalkanku hanya karena tidak memiliki keturunan. Aku benar-benar bimbang.
"Bunda, kenapa bunda nangis? Bunda ngak mau ayah pelgi? Bial Fitli panggil ayah, ya, Bunda? Bial bunda tidak nangis lagi!" celoteh putri kecilku.
Fitri meninggalkan mainannya dan berlari ke arahku. Mungkin dia bingung melihatku yang tiba-tiba menangis di saat lelaki yang ia panggil ayah itu pergi.
Aku mengusap air mataku, mengulas senyum di bibir sembari menggelengkan kepala. Aku kecup lembut kening putri kesayanganku yang cantik dan lucu ini. Pipinya yang gembul membuat wajahnya semakin menggemaskan.
Seandainya Mas Ali memiliki sedikit saja rasa syukur di hatinya atas apa yang telah ia miliki, mungkin samapi sekarang rumah tangga kami masih baik-baik saja. Kami bisa hidup bertiga dengan bahagia.
Ya Allah ... ya Robb, berikan aku petunjukmu. Keputusan apa yang harus aku ambil? Karena sejatinya hidup dan jodohku hanya ada di tanganmu ya Allah.
"Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu'minu baliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna'u bi atho-ika.
{Ya Allah ... aku memohon pada-Mu, jiwa yang merasa tenang pada-Mu yang yakin bertemu pada-Mu, dan merasa cukup dengan pemberian-Mu} aamiin ya robbal Al-Amiin!
__ADS_1