Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Part 26. Wanita Bermuka Dua


__ADS_3

Tak terasa sudah sebulan waktu berlalu. Itu artinya, sudah sebulan pula aku menyandang status Nyonya Amar Anggara. Sejak menikah dengan Mas Amar, aku memiliki rutinitas tambahan setiap akhir pekan, yaitu berkunjung ke rumah Ibu mertua dan makan bersama.


Seperti yang aku dan Mas Amar lakukan saat ini. Menjelang makan siang, kami tiba di rumah besar ini. Aku dan Fitri turun dari mobil, dan berjalan menuju pintu masuk. Aku jadi teringat kejadian dulu, saat aku menginjakkan kakiku di rumah ini. Beberapa tahun yang lalu, sebagai Sukma si penjual gado-gado.


Namun kenyataannya sekarang, aku menginjakkan kakiku di rumah ini sebagi menantu tertua Bu Romlah. Aku tidak menyangka jika sekarang, beliau adalah ibu mertuaku. Rasanya semua itu masih terasa seperti mimpi saja.


Tentu saja, kenyataan itu membuatku semakin bahagia. Bu Romlah selain baik juga sangat sayang pada Fitri, ia juga tidak pernah membedakan antara Fitri dan Kenzo. HIngga gadis kecilku itu, tidak kekurangan sama sekali, akan kasih sayang seorang nenek.


"Oma!"


Turun dari mobil, Fitri langsung berlari kecil menghampiri Bu Romlah yang sedang duduk di teras menunggu kedatangan kami.


"Ya ampun, cucu Oma jangan lari-lari, nanti kamu jatuh, Nduk!" ujar Bu Romlah sambil membawa Fitri ke pelukannya. Aku menghampiri dan tersenyum melihat perlakuan lembut mertuaku.


"Maaf kami datang sedikit terlambat, Ma. Aku masih ada urusan di kantor tadi," ujar Mas Amar, setelah aku dan Mas Amar menyalami mama. Ya ... mama adalah panggilan yang aku sematkan untuk Bu Romlah sekarang. Sesuai keinginannya.


"Wes ... dak apa-apa, yang penting kalian sudah sampai. Ayo, masuk!" Mama menggandeng tangan Fitri dan membawa kami masuk ke rumah. Menuju ruang makan. Di meja makan sudah menunggu Naila dan suaminya, Reno. Serta putra mereka, Kenzo.


Kenzo lebih tua satu tahun dari Fitri. Mas Reno tersenyum menyambut kedatangan kami, adik Mas Amar ini terkenal ramah sejak dulu. Orangnya pun sopan, walau kadang agak cengengesan, menurutku.


Aku dan Mas Amar duduk di hadapan Mas Reno dan istrinya. Wanita itu menatapku dengan tatapan kurang bersahabat. Karena memang sejak SMA dulu, kami tidak pernah dekat, bahkan tidak pernah bertegur sapa.


Sedangkan Bu Romlah duduk di ujung meja, yang diapit dengan Fitri dan Kenzo.


"Akhirnya tuan putri dan raja sampai juga, apa kami harus kelaparan dulu baru kalian datang!" ujar Naila. Cukup membuat hatiku tercubit, ucapannya terdengar ketus sekali.


"Naila ..." lirih Reno, seraya menarik baju di bagian bahu istrinya, seolah ia tidak suka istrinya berkata begitu.


"Eemm ... maaf, soalnya tadi Kenzo ... merengek minta makan." Ucap Naila akhirnya. Sepertinya terpaksa.


"Mama, kan, sudah bilang kalau kalian mau makan, ya makan saja! Tidak perlu menungggu ibu dan masmu," sahut mama.


Aku merasa tidak nyaman berada di dekat Naila, aku merasa wanita ini memiliki dendam tersendiri terhadapku. Semua yang aku lakukan, selalu salah di matanya. Padahal Mas Reno dan mama begitu baik padaku.

__ADS_1


Aku memilih menikmati makanan dengan diam, tanpa memperdulikan tatapan Naila yang masih curi-curi pandang padaku. Aku tak peduli. Toh ... kami hanya bertemu seminggu sekali, saat aku dan Mas Amar menginap di rumah ini.


Setelah acara makan siang, aku memilih duduk santai di halaman belakang, duduk santai di bawah pohon mangga memainkan gawaiku sambil memantau Fitri dan Kenzo yang sedang main bersama.


Namanya anak-anak, mereka berdua kadang terlihat kompak tapi terkadang juga bertengkar hanya karena sesuatu hal yang sepele. Seperti saat ini, Kenzo dan Fitri tiba-tiba bertengkar, hanya karena Kenzo yang jahil, merebut mainan berbentuk boneka Barbie milik Fitri. Membuat kepala boneka itu putus. Karena kesal, Fitri dengan spontan memukul kepala Kenzo dengan boneka yang ada di tangannya itu. Akibatnya, sekarang Kenzo menangis dengan suara yang lantang.


Aku bangkit dari dudukku dan mendekat. "Sayang jangan begitu sama, Mas Kenzo! Sudah Kenzo jangan nangis lagi, adik Fitri, kan, ngak sengaja, Mas Kenzo juga jangan jahil sama adik Fitri, ya!" bujukku lembut.


Aku berusaha menghentikan tangisannya dengan memberi pengertian. Tapi bukannya berhenti menangis, justru suara Kenzo semakin kencang. seolah sedang mencari perhatian.


"Kamu apa kan anakku, Sukma!" teriak Naila terdengar lantang di telingaku. Mungkin karena ia mendengar suara tangis anaknya yang begitu kencang.


Aku berdiri dan menoleh ke belakang, aku melihat Naila yang datang mendekat ke arah kami. Melihat wajahnya yang di tekuk, sudah membuat hati ini rasanya ngak enak.


Kenzo yang melihat ibunya datang langsung berlari ke dalam pelukan Naila, sedangkan Fitri bergeser dan bersembunyi di belakangku. Seolah meminta perlindungan. Putriku sepertinya takut, melihat wajah Naila yang kurang bersahabat itu.


"Aku tanya, kamu apa kan anakku? Sampai menangis begini!" teriak Naila lagi padaku. Suaranya terdengar semkin lantang.


"Enak saja kamu bilang, anak aku sampai nangis gini kamu bilang ngak ada apa-apa. Heh ... Sukma kamu urus anak kamu itu baik-baik, jadi anak perempuan jangan nakal, jangan kalian pikir mama dan Mas Amar suka kalian di sini, membuat kalian berdua seenaknya!" sungut Naila.


Membuat hatiku semakin tak enak mendengarnya, hanya karena permasalahan anak kecil, ia jadi mengomel ke mana-mana. Namanya juga anak-anak, mereka bertengkar sebentar lalu satu jam kemudian mereka akan berbaikan lagi.


"Aku minta maaf, Nay. Mungkin aku yang teledor menjaga mereka. Tapi aku rasa, kamu tak perlu sampai marah-marah begitu, namanya juga anak-anak. Saat ini mereka bertengkar, satu jam lagi juga akan baikan," ujarku meminta maaf.


Aku lebih baik mengalah, dari pada pertengkaran ini berlanjut. Malu dilihat orang! Sudah tua tapi bertengkar seperti anak-anak.


"Enak banget kamu ngomong, ya. Seharusnya kalian berdua itu sadar diri, kalian berdua itu siapa di keluarga ini! Dan kamu Fitri, kamu itu cuma anak dari lelaki tukang selingkuh. Kamu bukan cucu kandung dari keluarga Anggara. Jadi jangan berlagak seperti putri di sini!"


Degh.


Hati ini terasa nyeri, mendengar perkataan yang keluar dari mulut tajam itu. Hanya permasalahan sepele, haruskah ia menghina dan mengungkit asal-usul putriku. Aku menatap Naila tajam. Hati ini begitu sesak dengan segala gemuruh yang sedang membuncah.


Naila melipat kedua tangannya di dada, ia balas menatapku dengan seringai, seolah mengejek.

__ADS_1


"Kenapa lihat-lihat! Tidak terima? Memang itu kenyatannya, kan. Kamu itu cuma wanita miskin dan murahan yang menggoda Mas Amar hanya untuk hartanya ..."


Plak!


Satu tamparan aku layangkan di wajah mulusnya, perkataannya cukup mengoyakkan hatiku. Begitu busuknya mulut itu mengucapkan kata-kata yang menjatuhkan harga diriku. Apalagi saat ini, masih ada anak-anak kecil diantar kami.


"Kamu berani menamparku, Sukma! Lancang sekali kamu!" hardik Naila. Ia memegang pipinya yang mungkin sekarang terasa panas.


"Ada apa ini, ribut-ribut? Suara kalian terdengar hingga ke dalam." Suara Mas Amar terdengar mengagetkan kami.


Mas Amar datang bersama Mas Reno dan mama. Mereka bertiga melihat ke arah kami dengan bingung.


"Mbak, kamu kok tega menampar aku mbak! Aku kan bicara baik-baik, supaya Fitri jangan nakal sama Kenzo. Kasihan anak aku kalau di pukul Fitri terus. Lihat Mas, Fitri tadi mukul Kenzo hingga putraku menangis, aku hanya menegur istrimu, tapi istrimu tidak terima dan menampar aku,"


Suara Naila tiba-tiba terdengar lembut dan memelas. Raut wajahnya yang murka tadi langsung berubah drastis, sangat berbeda 180 drajat, dengan tadi.


Dasar wanita bermuka dua!


Mas Amar menatap ke arah Naila dan Kenzo yang sudah berhenti menangis, hanya saja jejak air mata masih ketara di pipinya. Lalu beralih menatap ke arahku.


"Ada apa sebenarnya ini, Sukma?" tanya Mas Amar padaku. Kuatur napas ini sejenak sebelum berucap, meredakan sedikit gemuruh yang masih membuncah di hati.


"Aku tahu, Mbak Sukma itu orang baik, kalian tidak akan percaya dengan ucapanku. Tapi coba kalian lihat ini, lihat pipi ini. Masih membekas cap lima jarinya dan kalian lihat juga wajah Kenzo yang menangis iba ini, apa masih kalian tidak percaya padaku!"


Jari Naila menunjuk bekas tanganku yang ada di wajahnya, lalu beralih memperlihatkan wajah Kenzo yang masih sembab kepada Mas Amar. Membuat Mas Amar diam. Sedangkan mama dan Mas Reno saling bertukar pandang.


"Aku tahu sejak kedatangan Sukma di rumah ini, kalian lebih sayang pada Sukma dan Fitri dari pada kami. Tapi kalian harus ingat, Kenzo lah, cucu asli keluarga Anggara bukan Fitri. Jadi tolong, jangan abaikan perasaan putraku ini," ujar Naila. Sungguh ekspresi yang ia mainkan membuat semua orang kasihan.


"Sudah, masalah ini jangan di besar-besarkan lagi. Sudah cukup! Naila bawa putramu ke kamar. Dan kamu Amar bawa istri dan anakmu juga ke kamar! Pertengkaran ini cukup sampai di sini. Jangan diperpanjang lagi, kiat selesaikan dengan kepala dingin, nanti," ucap mama akhirnya menengahi. Mama pergi masuk ke dalam rumah yang disusul oleh Mas REno dan Naila.


Entahlah, aku bingung harus bereaksi seperti apa? Membuka mulut dan menjelaskan juga percuma. Hatiku sudah sakit mendengar semua ucapan Naila tadi. Secara tidak langsung juga menyadarkan aku, akan status dan posisiku di keluarga ini.


Aku juga tidak mengharapkan apa-apa, harta ataupun status sosial. Aku hanya ingin hidup tenang dalam keluarga yang damai. Apa itu sulit?

__ADS_1


__ADS_2