
"Seratus ... dua ratus ... tiga ratus ..." jemari ini lincah menghitung lembaran-lembaran rupiah yang berwarna-warni itu. Merah, biru, hijau, ungu, coklat, serta abu-abu. Semakin kebawah, semakin gelap warna lembaran uang kertas di tanganku ini, seakan gambar Bapak Mohammad Husni Thamrin itu merenggut padaku, padahal apa salahku padanya?
"Ah ... hanya satu juta dua ratus enam ribu," gumanku lirih, aku menghembus napas berat. Bukan tak bersyukur, hanya saja, aku merasa sedih. Uang yang kukumpulkan dari hasil jualan selama dua bulan ini, hanya satu juta dua ratus saja. Itu belum termasuk untuk beli susu dan keperluan Fitri yang lainnya. Jika aku belanjakan, mungkin uang yang tersisa tidak akan sampai satu juta.
Dengan lemas kumasukkan kembali uang yang ada di tanganku ke dalam dompet, lalu meletakkannya ke dalam laci nakas yang ada di sebelah ranjangku.
Aku jadi teringat dengan apa yang ditawarkan Bu Romla tadi pagi, apa aku terima saja tawaran itu, ya? Siapa tahu itu memang jalan rezekiku. Aku tak bisa bergantung dari hasil gado-gado ini terus, lagi pula uang dari hasil jualan gado-gado hanya cukup makan dan biaya Fitri.
Apalagi, makin hari Fitri makin besar. Pasti biaya dan kebutuhannya juga besar. Jika tidak kupikirkan dari sekarang, maka kapan lagi.
"Loh ... kamu belum tidur, Ma? Hari sudah malam kenapa masih melamun, Nduk?" ucap ibu yang tiba-tiba datang dan membuatku terkejut. Memang pintu kamarku sudah terbuka lebar, mungkin itu yang membuat aku tidak bisa mendengar jika ada orang yang masuk. Atau mungkin karena aku asyik melamun? Entahlah...
" Belum mengantuk, Bu. Ibu juga kenapa belum tidur?" tanyaku. Ibu tersenyum, ia melangkahkan kaki mendekat denganku lalu duduk di sebelahku. Tangannya mengusap lembut kepala Fitri yang sedang tidur nyenyak di atas ranjang.
"Ibu tadi sudah mau tidur, tapi mau memastikan dulu. Kamu dan Fitri sudah tidur apa belum, apa kamu dan fitri di gigit nyamuk atau tidak. Biasanya kan, kamu sering lupa menghidupkan obat nyamuk, Sukma." Ujar ibu. Memang itulah yang selalu dilakukan ibu setiap malam semenjak Mas Ali meninggalkan kami. Memastikan anak dan cucunya beristirahat dengan nyaman.
"Bu, Sukma mau ngomong sesuatu, tadi Sukma belum sempat cerita sama ibu karena Sukma lihat ibu masih repot bantuin Mbok Ani yang tinggal di sebelah rumah," Ibu mengerutkan dahi menatapku bingung.
__ADS_1
"Mau ngomong apa, Sukma? Apa ada yang menganggu pikiranmu, Nak?"
"Iya Bu. Jadi begini, tadi Bu Romla belanja sama Sukma, terus ia nawarin Sukma kerja sama buat usaha kuliner di toko dia yang ada di dekat perkantoran dan pasar itu loh, Bu. Ia yang modalin, terus Bu Romla juga bilang, keuntungannya sistem bagi hasil. Sukma enam puluh, Bu Romla empat puluh. Karena kan, Sukma yang hendel semuanya. Menurut ibu bagaimana, Bu?" ujarku menjelaskan semua secara detail. wajah ibuku semringah.
Aku juga bertanya pendapat ibu tentang tawaran itu, karena aku yakin ibu pasti akan memberikan pendapat yang baik untukku.
"Bagus itu, nak. Kalau ibu setuju, lagi pula Bu Romla itu orang yang baik, jadi tidak mungkin ia memanfaatkan kamu. Lagi pula, kamu sangat ingin buka rumah makan, kan? Mungkin ini kesempatan yang diberikan Tuhan untuk keinginanmu itu, Nak."
"Iya, ibu benar, jika aku berkeras buka sendiri itu tidak akan mungkin, dengan penghasilanku ini, entah sampai kapan modalku terkumpul dan membuka toko itu," jawabku. Aku sadar membuka warung makan atau rumah makan, memerlukan modal yang tidak sedikit. Baik modal sewa tempat ataupun modal peralatan-peralatan penunjangnya.
Maka aku putuskan, besok aku akan ke rumah Bu Romla. Membicarakan lebih lanjut tentang tawarannya padaku, semoga saja ia tidak berubah pikiran, dan semoga saja ada rezekiku dan anakku.
Dengan tubuh yang sedikit berkeringat kerena panasnya cuaca, aku memasuki gerbang yang menjulang tinggi ini. Sebagai juragan kontrakan, tentu rumah Bu Romla adalah rumah yang paling mewah di kampung ini. Bangun tingkat dua yang berdiri kokoh, itu membuat siapa saja yang melihat sudah mengetahui jika yang memilikinya adalah orang kaya.
Ahh ... beruntung sekali nasib Nia, menikah dengan anak orang kaya, dan memiliki mertua yang baik seperti Bu Romla. Aku tidak kebayang jika aku berada di posisinya, pasti hidupku akan sangat bahagia saat ini.
Setelah berbicara pada satpam dan mengutarakan maksud kedatanganku ke sini, tampak satpam itu mengangkat telepon dan berbicara pada seseorang di dalam rumah dan menyampaikan kehadiranku.
__ADS_1
Kini satpam itu membawaku ke samping rumah megah ini, kususuri jalan berkeramik dan bersih ini, mataku tak lepas bersih ini, mataku tak lepas memindai setiap sudut yang ditumbuhi tanaman-tanaman hias yang menambah kesan asri.
"Apa kabar Sukma, mari duduk, Nak!" sapa Bu Romla ramah, saat aku sudah tiba di hadapannya.
"Baik Bu, terima kasih," jawabku lembut dan sopan.
Aku menarik kursi yang ada di hadapnya, duduk dengan sopan. Bu Romla tidak sendiri, di sampingnya ada seorang pria yang umurnya jauh di atasku, ia adalah Amar. Anak tertua Bu Romla.
"Ibumu dan Fitri, bagaimana kabarnya? Sehat?" tanya Bu Romla untuk menghilangkan kecanggungan diantara kami. Pasalnya anak tertua Bu Romla sejak tadi menatapku tajam, membuat aku menelan saliva karena takut.
Sangat sulit kuartikan sorot matanya yang tajam menatapku, apa ia membenciku? Rasanya aku tidak memiliki dosa apa pun padanya? Bahkan tidak pernah bertegur sapa. Walaupun kami dulu sering berjumpa saat satu sekolah di SMA. Amar adalah kakak kelasku di SMA, kami pernah sering berjumpa selama satu tahun, karena saat aku naik kelas dua, pria itu lulus dan kuliah di luar negeri.
"Begini Bu Romla, kedatangan Sukma kesini untuk membicarakan tawaran yang kemarin Bu Romla berikan. Apa itu masih berlaku, Bu?" tanyaku sopan, setelah bersusah payah menetralkan ekspresi takut di wajahku.
Bu Romla tersenyum, "Tentu, Nak. Alhamdulillah jika kamu setuju, jadi keinginan ibu bisa terwujud. Iyakan Amar?" ujar Bu Romla. Ia melirik putranya sambil tersenyum simpul. Membuat aku merasa ganjil dengan kalimatnya yang seakan ambigu.
"Pokonya Ibu mau secepatnya. Restoran itu cepat di buka. Ibu dan Amar yang akan mengurus semuanya, tugas kamu siapkan mental dan tenaga yang banyak. Karena ibu akan pasrahkan kamu untuk menghendel semuanya, ibu yakin restoran itu pasti akan maju. Secara Sukma yang ibu kenal selain masakannya enak juga gigih," ujar Bu Romla membuatku kaget. Restoran? Apa aku tidak mimpi? Membuka warung nasi saja sudah membuatku girang setengah mati.
__ADS_1
Apalagi ini, membuka sebuah restoran? Tak pernah terbesit sedikit pun di benakku. Ya Allah ... sungguh besar karunia yang Engkau berikan padaku. Jika saja aku tidak malu, mungkin sekarang aku sudah menangis sesenggukan kerena bahagia.