Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Bab 11.


__ADS_3

"Tidak! Jangan laporkan Mbak pada polisi, Ali! Jangan ..." Mbak Rani langsung berlutut di kakiku. Ia memeluk kakiku erat seraya memohon, tak kupedulikan isak tangisnya yang terdengar pilu.


Sungguh tega ia melukai bayiku yang masih berada di dalam kandungan.


"Itu memang pantas Mbak dapatkan! Tega sekali Mbak melakukan hal keji pada anak dan istriku!" Aku menyentak kakiku kasar, mendorong tubuh wanita itu menjauh dariku.


Masih dalam keadaan terduduk di lantai, Mbak Rani kembali memohon padaku.


"Mbak mohon, Ali. Kasihan anak-anak Mbak, jika Mbak kamu kirim ke penjara, siapa yang akan mengurus mereka? Mereka masih kecil-kecil. Mbak khilaf, Ali. Ini semua juga karena istrimu yang memprovokasi Mbak, jika tidak, mana mungkin mbak melakukan semua itu!"


Lagi-lagi ucapannya membuatku tersentak. Sebenarnya ada drama apa lagi yang terjadi selama aku tidak ada di rumah?


"Apa maksud Mbak?"


"Istrimu itu selalu bersikap sok berkuasa di rumah, dan menghina Mbak, seolah hanya dia lah wanita yang sempurna karena sedang mengandung bayi laki-laki. Tak jarang ia mencubit anak-anakku, hanya karena mereka melakukan kesalahan kecil.


Apa lagi kalian selalu memanjakannya, baju, makanan, perhiasaan dan apa pun itu yang ia pinta, kalian akan mengabulkannya membuatnya besar kepala, hingga bersikap selalu semena-mena pada kami. Apa lagi, Ibu yang jarang di rumah tambah membuat Ratna merasa dirinyalah nyonya rumah yang sebenarnya.

__ADS_1


Bahkan ia juga merampas, uang belanja yang kamu berikan untuk membeli susu Zahra! Dan uangnya ia gunakan untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Itu sebabnya, karena kesal Mbak mencampur makanannya dengan sedikit obat pencuci perut. Mbak pikir itu dapat membuat ia kapok dan tidak akan menggangu kami lagi. Mbak tidak berbohong, Ali. Mbak tidak bermaksud membuat bayi kamu meninggal, Ali. Mbak khilaf!" jawab Mbak Rani panjang lebar, membuat kepalaku menjadi berdenyut.


Aku melirik sekilas wajah Ratna, wanita itu tampak mendelik ke arah Mbak Rani. Seakan tidak suka wanita itu mengadukan tentang sikapnya selama ini. Aku tidak menyangka diantara mereka ada kompetisi semacam ini. Aku pikir selama ini mereka hidup dengan akur-akur saja.


"Kenapa mbak tidak bilang padaku, mbak kan bisa mengadu padaku. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini!"


"Bagaimana mbak bisa mengadukannya padamu. Sedangkan kamu selalu membela istrimu itu, kalian hanya memanjakan ia, karena ia mengandung bayi laki-laki." Sungut Mbak Rani.


"Tetap saja apa yang mbak lakukan adalah kesalahan yang fatal. Aku tidak dapat mentolerir sikap mbak kali ini. Sebaiknya sekarang mbak pergi dari sini! Aku sudah muak melihat mbak di sini, dan setelah ini. Aku tidak akan sudi lagi membantu, mbak, atau memberikan sepeser pun uangku untuk anak-anak mbak itu!" ujarku penuh amarah.


"Tapi, Ali, jika mbak pergi dari rumah itu, mbak dan anak-anak mbak akan tinggal di mana? Mbak ..." tanyanya mengiba. Memohon belas kasihan yang tersisa di hatiku.


"Sekarang silahkan mbak pergi dari ruangan ini, karena aku sudah muak melihat mbak di sini. Pergi cepat!" bentakku lagi. Tak kupedulikan lagi sopan santunku padanya.


Dengan air mata yang masih berderai Mbak Rani keluar dari ruangan ini yang disusul oleh Mama dari belakang. Setelah Mbak Rani dan mama keluar, aku pun juga ikut melangkahkan kaki untuk pergi.


"Mas, kamu mau pergi kemana? Mas, tolong dengarkan aku dulu Mas!" teriak Ratna.

__ADS_1


Aku menghentikan langkah kakiku, menatap tajam ke arah Ratna. "Apa lagi yang harus aku dengarkan, Ratna? Menjaga anakku yang ada di dalam kandunganmu saja, kamu tidak becus! Tidak berguna!" sungutku padanya.


"Tapi, Mas, ini semua bukan salahku, tapi salah kakak iparmu itu. Dia yang buat anak kita .." belum selesai Ratna berucap. aku lebih dulu memotong perkataannya.


"Cukup Ratna! Semua ini juga tidak akan terjadi jika kamu tidak membuat masalah sama Mbak Rani. Apa kamu mau aku usir juga seperti Mbak Rani, atau aku ceraikan seperti Sukma?!" Ancamku padanya. Membuat Ratna menggelengkan kepala cepat. Air mata keluar dari matanya dengan cepat, ia menatapku dengan tatapan yang memohon. Berharap aku iba padanya.


"Tidak, Mas. Jangan ceraikan aku, Mas. Aku masih bisa memberikanmu anak lagi, beri aku satu kali kesempatan lagi, Mas. Aku mohon!"


Aku mendengus dan mengusap wajahku kasar, sorot matanya sendu itu berhasil membuatku iba. Aku tidak benar-benar marah padanya, hanya saja aku kecewa. Andai saja ia bisa menempatkan posisinya dengan baik mungkin saja hal ini tidak akan terjadi.


"Baiklah, aku kan memberimu kesempatan satu kali lagi. Setelah kamu pulih dan kondisimu siap, maka aku ingin kamu segera mengandung anakku kembali, Ratna! Dan hanya menginginkan anak laki-laki!" ujarku tegas, seraya berbalik dan melangkah kakiku kembali meninggalkan ia sendiri.


Aku tida peduli siapa yang akan menjaganya di rumah sakit ini, yang pasti saat ini aku hanya ingin keluar. Menghirup udara segar untuk menjernihkan pikiran dan menenangkan diriku yang semrawut ini dulu.


Langkah kaki membawaku ke dalam bar mini, yang ada di sebuah hotel berbintang. Di waktu seperti ini, tentu saja bar adalah tempat yang paling bagus untukku. Aku butuh pelampiasan kecil untuk rasa kecewa yang aku alami saat ini.


Beberapa orang wanita dan gelas minuman, adalah solusi terbaik untukku saat ini. Betapa beruntungnya diriku, tanpa diintruksi seorang wanita cantik dengan tubuh yang sintal menghampiriku.Bahkan kecantikan dan keindahan tubuh Ratna, kalah dengan perempuan yang ada di hadapanku ini.

__ADS_1


Wanita itu bergerak liar menggodaku, aroma tubuhnya yang wangi, serta bentuk tubuhnya yang sangat seksi membuatku berh*sr*t padanya, dengan perundingan yang santai, kami berdua pergi keluar bar, menuju ke sebuah kamar hotel yang berada di bawah. menikmati malam yang panjang dengan penuh kenikmatan.


Bahkan aku tidak keberatan, jika saja wanita ini mengandung benihku malam ini, asalkan anak itu laki-laki. Aku tidak peduli asal usul ibunya, yang penting bagiku, aku adalah pria hebat yang bisa memiliki anak laki-laki!


__ADS_2