Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Part 16.


__ADS_3

Untuk sejenak Ratna terdiam sambil memegang pipinya yang memerah, mungkin ia masih syok, tapi, setelah itu, dengan cepat tangannya berayun ke arah wajahku. Aku menangkap tangannya, dan meremasnya kuat. Membuat Ratna meringis menahan sakit. Ia salah jika mengira alu hanya akan diam saja seperti dulu.


"Lepaskan tangan istriku, wanita sialan!" sunggut Ali. Pria itu tampak marah dan mendekat.


Aku menyeringai kecut, dengan amarah yang masih membuncah, kulepas tangan Ratna lalu mendorong tubuhnya dengan kasar ke arah suaminya. Aku menatap kedua pasangan serasi itu dengan nyalang.


"Berani sekali kamu, Sukma! Kamu pikir, kamu siapa, hah?! Lancang sekali kamu menampar kami berdua!" teriak Ratna tak terima.


Tentu saja ia tak terima di tampar di depan orang banyak, secara tidak langsung aku telah menjatuhkan harga dirinya.


Dengan santai aku menepuk-nepuk tanganku seolah baru saja habis memegang sesuatu yang kotor. Dari sudut mata kulihat Ali mengepalkan tangan, hingga buku-buku tangannya terlihat. Aku yakin saat ini ia sedang marah, karena untuk pertama kalinya, aku melawannya seperti ini pada mereka.


"Lalu...kalian pikir, kalian siapa? Juga bisa seenaknya menghinaku! Jika kalian tidak ingin diperlakukan kasar oleh orang lain, maka jaga dengan baik mulut kotor kalian untuk sesuatu yang bermanfaat!" ucapku santai masih dengan mode angkuh. Sebab aku tak ingin terlihat lemah di mata mereka.


"Kalau memang itu tidak benar, lalu kenapa kamu marah. Emang kenyataanya kamu itu cuma penjual gado-gado, jadi mana mungkin bisa membeli, apa lagi memakai pakaian mewah kecuali jual diri ..."


"Seperti yang kanu lakukan dulu, menjual diri pada mantan suamiku, lalu merayu dia hingga menikahimu! Terlalu sibuk merayu suami orang membuatmu lupa untuk berkaca pada diri sendiri, Ratna! Apa kamu lupa dari mana asalmu? Dan bagaimana kamu bisa menjadi istri pria egois di sebelahmu itu? Lumpur tetaplah lumpur, Ratna. Walau kamu poles secantik mungkin menjadi beruap guci yang indah, hanya dengan sekali hentakan. Maka semuanya hancur, habis tak bersisa!" ujarku dengan penuh penekanan pada setiap kata.


Dengan tak sabar aku memotong ucapannya, mengeluarkan segala uneg-uneg yang kupendam selama ini. Rasanya benar-benar sesak di dalam sini, sakit!

__ADS_1


Lepas sudah emosiku, tak dapat lagi aku pertahankan gaya santai dan angkuhku. Ingin rasnya kucakar dan kujambak rambut pirangnya itu. Tak sadarkah ia siapa dirinya dulu! Tapi aku salah, manusia tak tahu malu seperti mereka, tidak akan mengerti!


Seburuk apa pun diriku, aku adalah istri sah. Sedangkan ia hanyalah wanita simpanan yang diangkat untuk menggantikan posisiku. Lalu ... siapakah yang lebih hina di sini? Aku atau Dia?


"Lancang sekali kamu, Sukma! Dasar wanita mandul! Tidak berguna ..."


"Apa-apaan ini?!" bentak Mas Amar. Pria ini tiba-tiba hadir menghentikan pertikaian yang terjadi diantara kami, membuat kami semua terdiam dan menoleh ke arah pria berwajah datar, yang sedang berdiri di depan pintu rawat Fitri.


Aku menelan ludah, melihat aura dingin yang di keluarkan nya. Mas Amar menatap kami bertiga satu persatu secara bergantian. Lalu mendekat dan berdiri di sampingku.


Aku menoleh ke arah pasangan dari neraka itu, tampak wajah mereka berdua terkejut, lalu saling tukar pandang satu sama lain. Aku mengerutkan dahi karena bingung, seperti ada yang aneh dengan mereka berdua saat melihat Mas Amar.


Aku cukup terkejut mendengar Mas Amar mengakui Fitri sebagai anaknya. Hatiku terenyuh, begitu entengnya bibir pria itu mengakui putriku sebagai anaknya. Sedangkan Ali, sebagai ayah kandungnya Fitri, justru tidak mau mengakui keberadaannya sama sekali. Bahkan menganggap putri cantikku itu adalah anak yang tiada berguna.


"Maaf, Mas." Ucapku. Aku menunduk karena merasa bersalah. Bukannya menjaga anak yang sedang sakit, tapi justru bertengkar dengan mantan suami. Apalagi hanya sebuah pertengkaran yang tiada berguna.


"Siapa dia Sukma? Bukankah yang ada di dalam Fitri, lalu siapa dia yang mengaku-ngaku sebagai ayah Fitri?" cerca Mas Ali. Ada nada tak senang yang tersirat dari ucapannya.


"Apa itu penting untukmu, Mas? Lagi pula kamu bukan siapa-siapa kami lagi, jadi jangan ikut campur dalam kehidupanku!" jawabku ketus.

__ADS_1


"Apa dia mantan suamimu, Sukma?" tanya Mas Amar. Aku mengangguk, menjawab pertanyaan Mas Amar. Walau kami tinggal satu kampung, tapi dulu Mas Amar jarang pulang. Ia kuliah di luar kota, dan saat aku sudah menikah dengan Mas Ali, kami juga tidak pernah ketemu.


"Dia siapa Sukma?" tanya Mas Ali lagi.


"Aku calon suaminya, kenapa?" jawab Mas Amar tegas. Aku langsung melongo mendengar ucapannya.


"Calon suami? Anda yakin mau menikah dengan, Sukma? Dia itu mandul!" sahut Ratna menjelekkanku. Tentu saja ia ingin mempermalukan aku lagi.


Aku menekan dadaku yang terasa sakit, meremas bajuku kuat. Kenapa ia selalu saja mengungkit-ungkit tentang kekuranganku itu. Apa belum cukup ia merebut suamiku, dan sekarang ingin ia tambah lagi dengan hinaan akan kekuranganku.


"Jaga ucapan anda! Anda tidak punya hak untuk mengatakan hal itu terhadap calon istri saya! Ayo Sukma, kita masuk! Tak ada gunanya mendengarkan perkataan mereka! Berpendidikan tapi mulutnya seperti tidak pernah mengeyam bangku sekolah, tak ada etika!" ujar Mas Amar. Mas Ali menatap Mas Amar tak suka, lalu beralih menatapku.


Matanya menyorot ke arahku tajam, ada gurat kecemburuan yang kutangkup dari sorot matanya. Namun dengan cepat kutepiskan pikiran itu.


Mana mungkin seorang Ali Satriawan cemburu? Apalagi dengan wanita yang telah ia campakkan begitu saja, empat tahun yang lalu. Hanya karena tak mampu memberikannya seorang anak laki-laki.


Ingin rasanya aku tertawa saat ini, tertawa akan pemikiran bodohku tadi.


Mas Amar melirik ke arahku, dengan cepat tangan pria ini meraih tanganku dan menarikku, membawaku berjalan masuk ke kamar Fitri.

__ADS_1


Aku pasrah dan mengikuti langkah kakinya, toh ... tak ada gunanya juga berlama-lama di luar hanya untuk meladeni perdebatan tak berfaedah. Semoga saja pertemuanku dengan Mas Ali hari ini adalah pertemuan terakhir dalam hidup kamu. Aku tak mau bertemu lagi dengannya, aku juga takut ia akan melukai Fitri nantinya.


__ADS_2